Dan apakah jawaban kita?

Maka kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya: “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Jawab Simon Petrus kepada-Nya: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal” (Yoh 6:67-68)

Tidak tahu dengan anda, tapi seringkali ketika membaca kitab suci (KS), saya membayangkan sedang berada pada posisi murid-murid. Tujuannya agar lebih dapat feel-nya, lebih memahami perasaan aktor-aktor pada teks di buku mati yang bernama Alkitab itu, mencari informasi mengenai latar belakang mengapa kata ‘ini’ atau ‘itu’ dituliskan dalam KS.

Dan pernahkah anda membayangkan ketika Sang Baginda junjungan kita menanyakan pertanyaan yang perih itu: “Apakah kamu tidak mau pergi juga?”

Pertanyaan yang bernada kekecewaan dan kesedihan.. pasti keluar dari hati yang terluka dalam.. dari hati seorang anak manusia yang merasa ditinggalkan oleh orang-orang yang mana kepada mereka cinta-Nya diberikan, kepada mereka yang kebaikan dan kemurahan-Nya dicurahkan. Yah.. kita semua pernah ditinggalkan, tapi tidak sebanyak Yesus ditinggalkan oleh orang-orang yang mengikuti-Nya.

Adalah sulit untuk memahami motivasi apa yang membuat bajingan-bajingan pengkhianat itu meninggalkan Sang Guru. Permulaan pasal ini menceritakan kepada kita bahwa Yesus ini mampu menjamin 5000 orang yang mengikuti-Nya dengan roti. Ya.. roti.. makanan, materi, uang, dsb bisa jadi itu motivasinya. Tapi itu hanyalah tebakan saya, saya tidak tau motivasi mengapa banyak orang mengikuti-Nya, bahkan saya sendiri tidak tahu mengapa saya bisa begitu percaya kepada-Nya. Mungkin ini paralel dengan pertanyaan saya kepada pacar saya: “mengapa kamu cinta aku?”.. “engga tau”, jawabnya, dan saya segera menjawab balik, “aku juga gak tau.. kebaikan hatimu, sopan santunmu, keramahanmu, senyumanmu bukan alasannya.. itu hanya faktor pendukung saja.. mungkin ini yang disebut dengan naluri.. aku ga perlu alasan buat cinta kamu..”

Well, saya TIDAK SEDANG mengatakan bahwa kita engga perlu punya motivasi khusus dan argumen yang rasional untuk percaya kepada-Nya. Saya PUNYA BANYAK alasan dan bukti untuk percaya kepada-Nya, tapi itu hanyalah faktor pendukung dan bukan dasar utamanya.. dasar utamanya apa? Saya tidak tahu. Dan ketidak-tahuan saya atas motivasi utama ‘mengapa saya mengikut Yesus’ ini membuat saya, entahlah, merasa aman dari kekecewaan karena Yesus ternyata ‘tidak memberikan’ sesuatu yang menjawab motivasi utama saya tersebut. Ujungnya, saya tidak memiliki alasan untuk meninggalkan Yesus, dan saya tidak akan pernah mau meninggalkannya.

Saya mencintai-Nya, dan saya memiliki pengalaman-pengalaman saya sendiri bersama-Nya. Tapi itu bukan alasan utama mengapa saya mencintai-Nya, itu hanyalah faktor-faktor penambah cinta saya kepada-Nya. Saya (ingin) mencintai-Nya dengan sederhana, dengan cinta yang tidak memerlukan alasan.

Saya harap, ketika saya dimintai pertanggungan jawab atas iman saya, Tuhan akan memberikan saya kekuatan untuk menjawab sama persis dengan jawaban rasul Petrus yang merupakan representasi dari iman seluruh Gereja:

Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal.”

Dunia yang korup ini tidak berhenti menawarkan sesuatu yang berlawanan dengan kehendak-Nya. Dan ketika kita dihadapkan dengan pilihan-pilihan yang ada di depan kita, yang menarik, yang menggoda, ketika itu pulalah Tuhan sedang mengulang kembali pertanyaan-Nya 2000 tahun kemaren kepada kita: ikut atau tinggalkan? sayang atau tendang?

Jah bless!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: