mengejar logika saksi yehuwa

orthodox cross for orthodox faith

Jalan2 ke toko Gunung Agung di Galaxy Mall, ke bagian buku Kristennya, disamperin Saksi Yehuwa, disodorin ayat2 Alkitab. Malas ikut di mode perang ayat, kejarin saja logika teologi mereka:

1. Jika Yesus adalah Firman, tapi Firman itu adalah ciptaan, maka seharusnya sebagai ciptaan, ada waktu di mana ciptaan itu belum ada (karena belum diciptakan). Bukankah ini berarti saksi Yehuwa mengajarkan bahwa Yehuwa pernah ada waktu tidak memiliki Firman-Nya alias bisu?
Bukankah ini adalah sebuah penghujatan terhadap Allah Yehuwa?

2. Jika Yesus adalah Sang Firman dan Sang Firman itu adalah ciptaan, maka dengan ‘Firman’ yang mana lagi Sang Firman itu diciptakan? -> ingat bahwa Yehuwa menciptakan segala sesuatu dengan Firman-Nya.

3. Jika Firman Allah itu bukanlah Allah, melainkan hanyalah ’suatu allah’, atau ‘bersifat ilahi’, maka bukankah ini adalah ajaran Politeisme karena menyebutkan ada yang lain lagi yang ilahi di luar Allah?

Aku sarankan 2 pertanyaan yang pertama itu dulu saja, sudah cukup buat mereka kok.
Kalau anda lumayan mengerti dan mengenali ajaran mereka, pertanyaan ketiga boleh anda keluarkan, tapi harus sedikit perang ayat karena menurut mereka, kata ‘allah’ yang dilekatkan pada Yesus hanya sebatas ‘gelar’ saja.

Dan seperti biasa, yang aku dapetin dari mereka cuma kutukan dan doa semoga aku begini lah, begitu lah. How sad… semoga mereka kembali kepada iman rasuli yang sejati akan keilahian Kristus.

In nomine Patris et Fillie et Spiritus Sancti, Amen.

121 Comments

  1. Bundo said,

    April 1, 2008 at 3:18 pm

    Yesus adalah Tuhan..!
    Orang Saksi Yehuwa bilang Yesus itu bukan Tuhan, atas dasar apa?
    Kira-kira aja?!

    Ingat lowh.. kalau Saksi Yehuwa itu meyakini dan percaya bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan, maka JANGAN LUPA bahwa Alkitab itu disusun oleh ORANG-ORANG YANG PERCAYA BAHWA YESUS ITU ADALAH TUHAN.

    Mulai dari PAULUS dan MURID-MURID YESUS, semua percaya bahwa YESUS adalah TUHAN.

    Sekarang “ANAK KEMARIN SORE” yang menamakan diri SAKSI YEHUWA mengkalim bahwa YESUS ITU BUKAN TUHAN.

    Inilah yang disebut SESAT!!

    Aliran sesat memang tidak mengenal aturan memahami ALKITAB..
    Mereka hanya membaca sebaris kalimat lalu menafsirkannya sesuka hati sesuai “kebutuhan perutnya”. Saksi-Saksi Kristus yang benar2 pernah kenal Yesus dan hidup di jaman Yesus mau anda bandingkan dengan “ANAK KEMARIN SORE” ??

    Ini malapetaka bagi saudara kita di Saksi Yehuwa..
    Tobatlah saudara-saudara dan belajarlah Teologi untuk memahami Alkitab, bukan hanya percaya atas omongan orang2 yg tidak kenal seluk beluk ALKITAB…

    GBU
    Tuhan Yesus memberkati Kita, Amin…

    • Jonah said,

      July 7, 2009 at 2:44 am

      Freewillie said,
      Kalau hanya saling tunjuk ayat, lalu mengapa harus percaya ke Saksi Yehuwa, mengapa tidak dengan ajaran Tritunggal yg (contohnya Protestan) juga 100% menggunakan dasar ayat2 Alkitab?

      Jonah tanggap:
      Aku heran kok kalian saling “beradu-kambing” antar ayat-ayat Alkitab untuk membuktikan mana benar mana salah!? Emangnya Alkitab itu saling bertentangan (kontradiksi/kontroversi) dalam dirinya apa? Jangan takabur dan sok Ahli Kitab, Bung! Di atas langit masih ada lagi langit. Ingat: tidak ada dua kebenaran sekaligus untuk sesuatu yg kelihatannya bertentangan. Jadi, coba perluas wawasanmu, carilah titik temu untuk apa yg kelihatannya bertentangan itu, miliki sudut pandang holistik tentang itu dengan riset dan banyak membaca terutama bacaan2 dari para penulis yg netral dan kompeten semisal himpunan molokana dan ensiklopedi2. Dan tentu saja, jangan pernah lupa Buku Utama kita, Alkitab Suci. Bacalah keseluruhan isinya (Kejadian s/d Wahyu) minimal 10x seumur hidupmu dan lihatlah betapa bijaksananya kamu…

      • langdon said,

        July 8, 2009 at 3:39 pm

        @ jonah: komentarmu dangkal, bercerminlah dulu sebelum berucap

      • HARTONO said,

        August 10, 2009 at 2:10 am

        haiya SEMUA. Bacalah TANGGAPAN atau JAWABAN Pak JUNIOR kepada Freewillie bin Langdon di BAWAH………..

      • HARTONO said,

        August 10, 2009 at 2:29 am

        –deleted by freewillie–

        spam..

    • Satria said,

      July 11, 2009 at 11:08 am

      –deleted by freewillie–

      engga nyambung dengan pertanyaan utama topik

      • amin said,

        July 11, 2009 at 1:14 pm

        “Ooh…, andaikata seluruh bumi dihuni orang-orang yg berwatak lembut, pengasih, sopan-santun, cinta damai dan berwawasan terbuka seperti Bpk Satria dan ke-2 anak remaja saksi Jehovah itu…, betapa indah dunia ini jadinya….”

    • HARTONO said,

      August 10, 2009 at 1:29 am

      –deleted by freewillie–

      spam..

    • HARTONO said,

      August 10, 2009 at 2:08 am

      –deleted by freewillie–

      spam..

    • AbdYHWH said,

      October 14, 2009 at 12:21 am

      @Bundo: JANGAN LUPA bahwa Alkitab itu disusun oleh ORANG-ORANG YANG PERCAYA BAHWA YESUS ITU ADALAH TUHAN. Mulai dari PAULUS dan MURID-MURID YESUS, semua percaya bahwa YESUS adalah TUHAN.

      SALAH BESAR!!!
      YANG BENAR: Mulai dari Paulus dan murid-murid Yesus, semua percaya bahwa YESUS adalah TUAN [

      • freewillie said,

        October 30, 2009 at 4:45 am

        Silahkan tanya Paulus dan murid2 Yesus sendiri:

        Rasul Petrus:

        “Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus, kepada mereka yang bersama-sama dengan kami memperoleh iman oleh karena keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.” (2 Petrus 1:1)

        Petrus menyebut Yesus sebagai Allah dan Juruselamatnya.

        Rasul Yohanes:

        “Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal.” (1 Yohanes 5:20)

        Yohanes menyebut Yesus sebagai Allah yang benar.

        Rasul Yudas Tadeus:

        “Bagi Dia, yang berkuasa menjaga supaya jangan kamu tersandung dan yang membawa kamu dengan tak bernoda dan penuh kegembiraan di hadapan kemuliaan-Nya, Allah yang esa, Juruselamat kita oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, bagi Dia adalah kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa sebelum segala abad dan sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin” (Yudas 1:24-25)

        Yudas Tadeus menyebut Yesus sebagai Allah yang esa dan Juruselamat.

        Rasul Paulus:

        “Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan, dan kamu telah dipenuhi di dalam Dia. Dialah kepala semua pemerintah dan penguasa.” (Kolose 2:9-10).

    • AbdYHWH said,

      October 14, 2009 at 1:27 am

      @Bundo: JANGAN LUPA bahwa Alkitab itu disusun oleh ORANG-ORANG YANG PERCAYA BAHWA YESUS ITU ADALAH TUHAN. Mulai dari PAULUS dan MURID-MURID YESUS, semua percaya bahwa YESUS adalah TUHAN.

      SALAH BESAR!!!!!!! Pernyataan yg anda buat sangat tendensius, arogan, sangat berat sebelah, sepihak, tidak terinformasi dan tidak faktuil.
      YANG BENAR: Alkitab itu disusun oleh orang-orang yang percaya bahwa YESUS itu adalah TUAN. Mulai dari Paulus dan murid-murid Yesus, semua percaya bahwa YESUS adalah TUAN (bukan TU[H]AN).
      Yesus adalah TUAN (Yun: Kurios; Ing: Lord) artinya Yesus itu Majikan/Bos/Junjungan/Tuan kita orang Kristen –orang percaya [kpd Yesus]. Dibanding “Tuan”-nya orang luar yg tidak percaya [kpd Yesus], Yesus adalah TUAN di atas Tuan-tuan itu. Menarik, sekalipun Alkitab menyebut Yesus adalah ‘Tuan atas segala tuan’, Alkitab tak sekalipun menyebut Yesus “Allah atas segala allah” [cari tahu sendiri lah].
      Jadi, apa itu “TuHan” menurut anda? Dari mana datangnya kata “TuHan”? Apakah kamu tahu asal-usul etimologi kata “TuHan”?????

    • NN said,

      October 29, 2009 at 5:51 am

      Yesus itu sendiri adalah anak Tuhan… Dia adlh ank dr Bapa-Nya. Dia juga adlah manusia sama seperti kita, bisa merasakan sakit dan sedih…

      contoh, sewaktu dia dipakaikan mahkota dari duri, dari kepala Yesus keluar darah dan dia merasakan sakit yg amat sangat…
      itu adalah bukti bahwa dia itu manusia ….

      jika anda membaca kitab suci, anda akan menemukan kata2 Yesus seperti ini: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu lah kuserahkan nyawaku..”
      itu berarti menandakan bahwa Bapa-Nya lah yaitu Tuhan kita yg memilki kuasa atas alam ciptaan dan juga mahluk ciptaan-Nya..

      sedangkan Tuhan sendiri memiliki nama “YEHUWA” dalam terjemahan ibrani YHW atau Jehovah, jadi SAKSI YEHUWA itu tidak pernah mengajarkan hal yg bertentangan dengan kitab suci…
      maka, jgn pernah mengatakan bahwa ajaran Saksi Yehuwa itu sesat sblm anda bnr2 membaca dan memahami kedalaman isi KITAB SUCI…

      -Terima Kasih-

  2. Dd said,

    April 4, 2008 at 4:12 pm

    Maaf,
    Coba kalian jgn lngsung menilai buruk SY..
    Dengarkan apa tujuan mereka..
    Sebenarnya mereka berniat baik mau memberikan injil Tuhan sebenarnya..
    Mereka tidak akan merugikan kalian..
    Dan jg ingat jika kalian menolak Tuhan..Tuhan tdk akan Menyelamatkan mu..

    • langdon said,

      July 8, 2009 at 3:41 pm

      @Dd : bagaimana dengan sebaliknya? apa mereka mau mendengarkan kita yang mau memberikan injil Tuhan juga? hanya pentungan yang cocok untuk orang bebal.

      • Dd said,

        July 9, 2009 at 2:50 am

        Hoi Langdon: ‘injil Tuhan’ mana yg KAMU mau beritakan? Nabi Yeremia dengan tepat berkata ttg kamu, “Lihat! Mereka telah menolak firman Yehuwa, maka hikmat apa yang mereka miliki?” (Yer 8:9). ‘Hikmatmu’ Langdon adalah hikmat yg lahir dari jiwa yg resah, hikmat yg mencerminkan roh yg sakit dan lemah; semangatmu adalah semangat kedengkian dan keangkuhan tapi telah dipatahkan…, engkau laksana ‘putra fajar’ yg telah jatuh dari langit’ yg telah ditebang dan dicampakkan ke Syeol–Yes 14:12-15.

    • langdon said,

      July 9, 2009 at 8:40 am

      @Dd: jangan bicara tentang “Hikmat”, hei orang yg bisanya mengutip dan berbangga dengan kemampuan mengutipnya.

  3. Cristina said,

    April 22, 2008 at 9:48 am

    Yang saya mau komentari adalah,kalau benar Yesus itu Tuhan,jadi Allah itu siapa? dan Yessus berdoa kepada siapa?

  4. Cristina said,

    April 22, 2008 at 9:49 am

    Ingat perbedaan kata Tuan dan Tuhan, murid-muridnya memanggil guru dan Tuan

  5. Cristina said,

    April 22, 2008 at 9:53 am

    Ingat apa yang dikatakan Yesus sebelum Dia mati

    • langdon said,

      July 8, 2009 at 4:28 pm

      @ Cristina: tritunggal lagi, tritunggal lagi. lebih baik sana dirikan panti asuhan, lembaga sosial, ajari yang buta huruf membaca, ajari yang tidak memiliki ketrampilan jd terampil. ajari mereka dengan tanpa pamrih, bukan berusaha menjadikan mereka kawanan dombamu.
      suster teresa tidak perlu hapal ayat-ayat dan pandai berdebat untuk menambah sesuatu yang baik dan indah ke dalam dunia ini, sekarang dan bukan menunggu susunan dunia baru kalian.

      • Cristina said,

        July 9, 2009 at 3:30 am

        Langdon: asal saja jangan kau ikut-ikut jadikan almarhumah suster Theresa sebagai “santo” yg kesekian biar kau tak dicap syirik dan dilaknati Alloh!

      • langdon said,

        July 9, 2009 at 8:45 am

        @Cristina:
        ini hanya pembandingan antara orang yg benar2 tulus dalam hati dan tindakannya versus orang2 yg hanya bisa menghapal ayat2 dan berdebat.
        disini saya hanya berusaha mengimbangi saksi saksi yehuwa yg sudah sok dan memandang rendah intelek semua manusia selain dari agama mereka sendiri.

      • Cristina said,

        July 10, 2009 at 12:19 am

        langdon, bilang saja kau itu iri kepada saksi Yehuwa karena kau tak sanggup memberangus kecerdasan mrk!!!!!

      • langdon said,

        July 10, 2009 at 1:25 am

        @Cristina:
        dari komentarmu sebelumnya kupikir kamu itu muslim, jd kupandang sbg orang luar yg ingin mengamati.
        atau kamu ini org lain yg menggunakan nama cristina?

        bedakan cerdas dg rajin. saksi saksi yehuwa hapal ayat-ayat umumnya bukan karena cerdas (bbrp memang cerdas) tp karena rajin. bayangkan seminggu 3x perhimpunan. tiap hari baca menara pengawal dan sedarlah, wajar kalau hapal. dan mereka berpikir mereka sudah berhikmat. pengetahuan mereka itu datang dari watchtower semata, semua informasi sudah disensor oleh badan sensor mereka, termasuk itu artikel2 ttg ilmu pengetahuan, trend dan berita populer terkini. apa yg sesuai dan mendukung ajaran mereka akan terbit di menara pengawal dan sedarlah. yg tidak sesuai akan disesuaikan.

        jadi pada umumnya: mereka merasa besar kepala dan merasa benar sendiri, merasa telah mengtahui banyak hal, dan tidak akan mendengarkan suara dari org lain yg berasal dari luar saksi yehuwa, memandang rendah orang lain dari agama lain sembari pura-pura sok ramah.

        semua yg saya tulis di sini bisa dipertimbangkan sendiri oleh para pembaca, bagaimana saya berkomentar dg pedas dan bagaimana mereka meresponnya.
        ini bukan forum umum yang isinya bisa diedit suatu hari, karena hanya pemilik blog saja yg bisa mengeditnya dan saya rasa dia akan berusaha mempertahankan semua yg ada kecuali kata-katanya sudah melewati batas.
        semua informasi di halaman ini bisa disearch di internet bagi semua orang.
        mereka selalu bilang “hanya utk orang jujur dan rendah hati”, jd ini berlaku hal yg sama bagi setiap yg jujur dan rendah hati yg ingin mencari artikel tentang saksi yehuwa di internet, semua dipersilakan membaca, mempertimbangkan dan mengkritisi sendiri.

        saya menantang yang belum mengenal saksi yehuwa utk bergabung dengan mereka. lihat dan bersikaplah kritis. domba yg baik tidak melulu harus menurut, sesekali bandel untuk menguji sesuatu dari banyak aspek.

        terakhir: kita bukan domba, kita adalah manusia yg bermartabat :)

      • Cristina said,

        July 11, 2009 at 11:30 am

        langdon, itu urusan kaulah dengan agamamu, mana peduli aku. oya, kau kadang suka juga ganti kulit ya, kayak bunglon. kemarin freewillie hari ini langdon entah esok apa lagi. mungkin besok2 sudah kau fermak habis2an komentar kami di forum kau

  6. freewillie said,

    April 22, 2008 at 11:13 am

    @BUNDO:
    SY mengajarkan Yesus adalah Tuhan, tapi Tuhan yg 1 level di bawah Allah Bapa, sehingga ada 2 Tuhan, yaitu: Yesus dan Bapa. Gak usah bicara kitab suci dulu, tapi ini sudah jelas melanggar Pancasila sila pertama, jadi SY sebaiknya pergi saja dari NKRI klo konsisten dengan ajarannya :P

    @Christina:
    Kamu SY? Klo iya, mari aku undang kamu untuk membuktikan bahwa ajaranmu bukan dari tafsiran ngawur, melainkan benar2 berasal dari para rasul penulis Injil itu sendiri.
    Klo kamu muslim, pergi aja ke laut, karena Eli Eli lama sabakhtani adalah kutipan Yesus dari Targum Aramia yang merujuk kepada kitab Mazmur 22 yg justru menegaskan bahwa Yesus adalah sang mesias ilahi yang dinanti2kan umat Yahudi Israel. Tapi btw…. apa kamu ngerti apa itu Targum? :P

  7. oncom (u know its fake said,

    May 13, 2008 at 5:16 am

    bosen deh….ssy sesat ssy tdk sesat ssy perlu dilarang ssy menggagnggu

    sbg orang kristen, kita percaya kata2 yesus kan?
    beliau bilang “lihat dari buahnya”
    jadi tolong lihat aja dari buah-buah yg dihasilkannya

    tentu saja ada ssy yg maling, ada juga pastur yg korupsi, ada ssy yg zinah ada juga pendeta yg membunuh atau homosex atau apalah….
    jadi buahnya jangan dilihat dari perseorangan, tapi lihat dari kelompok.

    kalau mau jujur dan serius ‘mencari tuhan’
    ya ‘lihat dari buahnya’.

    jangan-jangan saya berpendapat bahwa pengikut yesus sejati adalah mereka para penganut agama budha………..

    apapun itu… periksa hati, dan sekali lagi lihat dari buahnya….
    farisi saduki juga pengikut musa, tapi bgmn buahnya? bgmana dan apa yg dicela (tdk disukai) yesus dari mereka ?

    jika ini bukan dari allah, bukankah mereka (farisi dan saduki) juga bilang “akan hilang dengan sendirinya?”

    • jonah said,

      June 29, 2009 at 11:24 am

      Setuju! Aku sangat setuju dengan Ibu Oncom bahwa dasar penilaian suatu ajaran agama yg benar itu harus “dilihat dari buahnya” (mengutip Yesus). Kalau begitu sejatinya mungkin saksi yehuwa itulah agama Kristen yang benar, karena setahuku saksi yehuwa itu memecat dari keanggotaan mereka setiap orang mereka yang melakukan “kejahatan”; so apakah gereja arus utama melakukan hal sama buat anggota mereka? Syukurlah kalau ini yg dilakukan gereja2 maka “kehidupan agamanya sudah lebih baik dari kehidupan agama orang farisi en saduki”…Semoga…

      • langdon said,

        July 8, 2009 at 3:44 pm

        @jonah: kamu orang yang sangat tanggung. mau maju takut harimau, mau mundur takut buaya.

      • jonah said,

        July 9, 2009 at 3:55 am

        langdon: di rubrik surat kabar mana sampean menjadi konsultan spiritual horoskop? Sayang sekali hasil penerawanganmu ttg aku meleset jauh; kau memang mBah dukun palsu!

  8. Ria Aritonang said,

    July 1, 2008 at 9:32 am

    Hi Friend!!!!!!!!!!
    Benar setahu aku agama tidak pernah menyelamatkan, tetapi bagaimana kita bisa mengasihi sesama siapapun itu & memuji Tuhan Yesus dgn benar!!!!! , Tuhan Yesus aja ga pernah maksa kan tuk ikut DIA, cari aja di Pasal mana di alkitab !!!!!!!!!!!

    Peace

  9. alung said,

    July 26, 2008 at 10:25 am

    klo saksi yeh..mengatakan bahwa Yesus bukan tuhan, berarti dia hanya berkaca dari segi kemanusiaannya sendiri karena belum memahami betul isi alkitab. kenapa Yesus berdoa di taman getsmani dan hal lainnya bahwa Dia menandakan dia sebagai manusia, kenapa Yesus slalu mengadakan muzizat menandakan dia adalah Tuhan, dan yesus datang sebagai lidah api menandakan dia adalah roh kudus. injil tuhan berkata. masih belum percaya Yesus adalah Tri tunggal. lebih baik pikirkan bagaimana Tuhan membuat manusia dari satu SEL menjadi CIPtaan yang utuh yaitu manusia

  10. Dwie said,

    September 1, 2008 at 6:14 am

    dlm 1 tim3:16 : Alkitab adalah tempat untuk belajar, mengoreksi diri, dll, dan hanya org yang rendah hati yang bisa memahaminya

  11. dony said,

    September 29, 2008 at 4:33 pm

    Apakah orang yng menulis artikel ini bukan pembohong,pendusta, suka selingkuh? Kalau ya tak layak artikel ini umtuk dikomentari.Mosok mau belain2 Tuhan Yesus tapi zinah jalan terus.

  12. freewillie said,

    October 15, 2008 at 5:22 am

    Lah? Emang dony tau kalo saya ini pembohong, pendusta, suka selingkuh, dan penzinah?

    Ada-ada saja…

    • jonah said,

      July 3, 2009 at 5:04 am

      As the same as to Mrs Oncom, this REPLY for Mr Kebebasan Berkehendak (Freewillie): “Aku sangat setuju dengan bahwa dasar penilaian suatu ajaran agama yg benar itu harus ‘dilihat dari buahnya’ (mengutip Yesus). Kalau begitu sejatinya mungkin saksi yehuwa itulah agama Kristen yang benar, karena setahuku saksi yehuwa itu memecat dari keanggotaan mereka setiap orang mereka yang melakukan ‘kejahatan’, so apakah gereja2 arus utama melakukan hal sama buat anggota mereka? Syukurlah kalau ini yg dilakukan gereja2 maka ‘kehidupan agamanya sudah lebih baik dari kehidupan agama orang farisi en saduki’…Semoga…”

      • freewillie said,

        July 3, 2009 at 1:20 pm

        Apa anda tidak pernah dengar kata “ekskomunikasi” atau “anathema” dalam Gereja Orthodox atau Gereja Katolik Roma untuk urusan pecat-memecat jemaat yg sudah engga beres lagi? Bahkan Yohanes Calvin pun melakukan hal yg sama di Jenewa. Masalah pecat-memecat bidat ini sudah biasa dan memang diajarkan di Alkitab kok (Titus 3:10).

        Jadi, kalo dasarnya adalah cuma sekedar pecat-memecat, lalu mengapa harus Saksi Yehuwa? Bukankah Orthodox, Katolik Roma, dan Protestan juga? Silahkan dipikir, karena basis anda berdiri sangat rapuh.

    • jonah said,

      July 6, 2009 at 3:37 am

      Sebaiknya anda juga menambahkan nama baru melengkapi nama anda sekarang, freewillie, dengan Openhartig. Anda harusnya fair dan terbuka, Bung! Yang anda bicara soal ‘pemecatan’ ( baca: ekskomunikasi/anatema) itu tak pernah aku lihat [bila tidak mau disebut TIDAK pernah sama sekali ada] di gereja2 yg anda sebut itu! Kalau ngomong soal tindakan gereja terhadap kecenderungan BIDAT dan/atau SEKTARIAN warganya itu mah jauh dari substansi komentar aku di atas. Tentu, sangat wajar dan beralasan bila gereja “membersihkan” bidat di tubuhnya, mengutip anda yg mengatakan, “‘Masalah pecat-memecat bidat ini sudah biasa dan memang diajarkan di Alkitab kok’ (Titus 3:10).” Tetapi, sekali lagi TETAPI Bung, apa yg dilakukan gereja2 untuk ‘membersihkan’ dirinya dari “buah busuk” pelanggaran hukum dan kejahatan melawan hati nurani dan moralitas baik oleh warganya??? Jujur saja, dari desa tempat aku lahir dan bertumbuh sampai pun aku besar dan berkeluarga serta sukses di kota ini aku selalu menyaksikan KEJAHATAN, dari yg sekelas teri sampai sebesar paus –dari kejahatan sebangsa penipuan, abortus, pedofile, konflik-konflik, kejahatan kaum berkerah putih…, dll, dll–, semuanya itu melibatkan warga-warga santun ber-GEREJA (baik itu Roma Katolik, Ortodok, Protestan Calvinis, Babtis, Pentakostal/Karismatik, Adventis, dst). Aku seorang pengamat, seorang pengamat manis masalah-masalah agama. Satu waktu aku pernah melakukan survei kecil di enam Lapas (di Bekasi, Tanggerang, Bandung dan Medan dan Solo). Aku ingin tahu prosentasi para penghuni ‘Hotel Prodeo’ itu berdasarkan agama yg mereka anut. Sungguh menakjubkan!: “Rata-rata 35% warga rutan dihuni mereka yang ‘Kristen’, sisanya dibagi untuk yg Islam (60%), Budha (2,3%), yg lain tidak jelas (2,7%).” Aku ingin tahu dari denominasi gereja mana saja yg ke-35% itu? Mereka umumnya malu-malu mengakui, tapi data hasil penyidikan atas mereka yg kami kantongi juga hasil pengakuan para sipir dan sipir kepala memperlihatkan bahwa urutan terbanyak pertama mulai dari “orang” gereja Protestan, Roma Katolik, Pantekosta-Karismatik….Lalu, apakah ada orang Kristen yg seiman dengan Abang saya yang Saksi-Saksi Yehuwa itu ada di salah satu dari Rumah Tahanan dimaksut? Jawabnya, TIDAK ADA! Malah menurut petugas di beberapa Rutan, “Saksi-Saksi Yehuwa sering datang ke sini untuk mengajarkan Alkitab kepada para tahanan yang berminat,” bahkan Saksi Yehuwa telah “membabtis beberapa dari penjahat berkelas menjadi Saksi-Saksi Yehuwa.” BRAVO SAKSI YEHUWA. LANJUTKAN DEDIKASIMU. TUHAN MENYERTAIMU!!!!

      • Rubin said,

        July 8, 2009 at 11:21 am

        Hallo Bro,
        Beta pernah ketemu seorang SY masuk penjara 3 bulan di lapas Piru Kecamatan Seram Barat Maluku di era 1980an, namanya Sdr. Mauassa. “Kejahatan” yg dituduhkan kepadanya sungguh aneh. Polisi dan jaksa setempat, oleh tekanan pendeta tertentu, menjebloskan Mauassa karena ia kedapatan mengabarkan “iman dan harapannya” kepada orang-orang sekampungnya…. Mauassa tidak dijebloskan karena tindak-pidana, ia menderita karena imannya kepada Kristus Yesus, Sang Tuan yang juga pernah diperlakukan sama oleh orang-orang.

      • langdon said,

        July 8, 2009 at 3:48 pm

        @jonah : ternyata anda benar-benar dangkal. teringat pada supporter-supporter sepak bola yang mbebek.

      • jonah said,

        July 9, 2009 at 5:30 am

        langdon: you laksana si tua-bangka yg gila bola sepak tapi bisanya bereriak-teriak histeris di depan Tv sedangkan tak berdaya terjun langsung ke arena untuk memberikan permainan cantiknya. Yang kutahu sejauh ini, you hanya bisanya berkoar-koar tak karuan tapi mana opini cerdasmu yg kau banggakan itu? Ato jangan-jangan otakmu sudah karatan dan butuh repair sama si Petir Br’andal [baca: Bro Rondell Peter]. Coba deh you terima tantangan debatnya Tn Rambam di forum ini untuk kami semua lihat seberapa menggigitnya geligi palsumu!!!

  13. Ruben Anthon said,

    December 14, 2008 at 2:52 am

    Kenapa kalian berdebat soal Yesus Kristus?? Kenapa kalian ragu soal Yesus Kristus?? Walau Yesus Kristus bukan Tuhanpun Dia perlu dicontoh sebab apa saja yang Dia buat adalah kebaikan. Tidak pernah ada hal buruk yang Dia buat. Nabi Muhamad yang manusia biasa saja,punya banyak istri,membunuh (dalam Perang), itu adalah hal-hal yang dilarang Allah kan?? Dia dicontohi dan dianggap utusan Allah. Kenapa Yesus yang lahir dari perawan Maria tanpa hubungan sexual dengan sapa, selalu ajarkan kebenaran Allah ( Baca Alkitab dan AlQuran), Perkataannya takterselami manusia biasa (ilahia) kalian masih ragu akan keilahian-Nya dan ketuhanan-Nya?
    Kalian memang sedang menguji sang pencipta dengan intelejenci kalian yang terbatas dan dangkal.
    Hargailah diri anda sendiri maka anda akan dihargai orang dan akan menghargai orang lain.
    Allah itu bisa berwujud apa saja karena Dia maha kuasa, Budha juga ajarkan hal-hal yang baik, Shang Yang Widhi pun demikian, dan saya juga bisa mengatahkan kalau saya Tuhan sama seperti Yesus Kristus, karena saya juga ciptaan yang Maha Kuasa ( Allah)
    Kenapa kalian tidak mengakui diri sebagai Tuhan saja dari pada berdebat soal Yesus Kristus????????????

  14. NN said,

    December 22, 2008 at 1:38 pm

    Sapa bilang SY ga ngakuin yesus sbagai Tuhan/Allah…(pasti orang itu yang blum pernah ketemu SY yg tepat)
    SY mengakui YESUS jg sbagai Tuhan/Allah…kalau tidak bagaimana dia bisa melakukan hal yg bersifat ilahi??!
    Bagaimana dia bisa menyelamatkan manusia??!
    Bagaimana dia bisa dia menjadi raja dari kerajaan surgawi??!
    Jadi jelas bukan yesus juga Tuhan/Allah… dan saya yakin SY yakin dan percaya juga dg kedudukan Yesus sebagai Allah.
    Tapi ingat…di bumi maupun di surga banyak yang di sebut dg “ALLAH”… (1 korintus 8:5,6 bagi yg umat kristiani bacalah itu)
    Jadi…yang perlu kita ketahui peranan Yesus sebagai “Allah” untuk apa??
    Apa yang akan dia lakukan di masa depan kita nanti??
    Dan siapakah Yehuwa itu…yang memberi kuasa kepada Yesus sebagai Allah?? Apa tujuannya?? (sebagai bahan perbandingan bahwa Yehuwa pernah melakukan hal yg sama di bumi kita ini, bacalah Keluaran 7:1…)

    untuk mendapat jawaban yang jelas…carilah saksi2 yehuwa untuk memperoleh jawaban yang tepat dan memuaskan dai Alkitab “Anda”…
    Atau jika anda merasa kesulitan menemukan mereka..tulislah surat permohonan untuk di kunjungi ke alamat surat P.O. BOX 2105, Jakarta 10001.

    Kita punya otak, otak “yang baik” adalah otak yang digunakan untuk berpikir menetukan apa tindakan kita…jangan ikuti kata2 SIAPA SAJA ITU yg tidak bisa menunjukan bukti2 perkataannya dg jelas!!!
    Jadi carilah jawaban, periksalah denagn teliti, anda tidak akan bisa memastikan dengan pasti sebuah buah apel itu benar2 bagus jika hanya melihat kulitnya saja..anda harus membelahnya dan lihat lebih dekat apakah itu jelek atau bagus?!?

    Smoga ini dapat bermanfaat… ^,^

    • langdon said,

      July 8, 2009 at 3:54 pm

      @NN : otak yang sudah terindoktrinasi tidak akan bisa berpikir obyektif. kalian bicara merokok meracuni tubuh, bagaimana dengan makanan untuk pikiranmu?
      mencari jawaban dari buku-buku watchtower saja? oh, dunia sungguh sangat luas. tp percuma: kamu sudah diwanti-wanti oleh watchtower bahwa semua selain di dalam organisasi adalah jahat, kamu tidak akan pernah mencoba membuka pikiranmu sedikit saja.
      telingamu sudah tersumbat. matamu terpasang kacamata kuda. tanganmu terbelenggu. kaki-kakimu terpasung.

  15. OO said,

    December 22, 2008 at 2:34 pm

    1. Presiden punya jubir bukan??
    Raja punya jubir juga bukan??
    “”"Apakah presiden dan raja seorang yang bisu sebelum dia punya jubir??”"” ^,^ (gak masuk akal dong…)

    2. Atas dasar apa anda menyebut Yesus diciptakan Firman?!? “”"tidak pernah di sebutkan Yesus di ciptakan oleh Firman”"”, jadi jelas.. yg di maksud segala sesuatu yg diciptakan bersama firman tidaklah termasuk yesus… (sekali lagi gak masuk akal)

    3. ……… lebih baik anda mebaca “kisah 4:25″ ^,^

    • freewillie said,

      June 5, 2009 at 9:16 am

      1. Analogi Presiden dan jubir sama sekali engga cocok dengan data2 Alkitab. Injil Yohanes menegaskan bahwa Yesus adalah Firman/Logos Yehuwa (Yohanes 1:1). Logos ini adalah Logika / Hikmat dari Allah (1 Korintus 1:24). Presiden dan jubir adalah 2 Pribadi yg terpisah total, sementara Allah Bapa) dengan Hikmat-Nya adalah dapat dibedakan tapi Hikmat ini adalah satu dan melekat di dalam Bapa.

      Yesus adalah Firman/Hikmat/Logos Bapa Yehuwa. Jadi kalau anda mengatakan bahwa Yesus adalah ciptaan pertama, maka sebagai ciptaan tentu ia memiliki waktu di mana ia belum ada (karena belum diciptakan). Jadi ajaran saksi Yehuwa ini sama saja dengan bilang bahwa ada waktu di mana Logos Allah belum ada, ada waktu di mana Yehuwa tidak memiliki Logika/Hikmat-Nya alias bodoh. Come on… stop menghujat Yehuwa dengan ajaran sesat anda ini.

      2. Atas dasar Yohanes 1:3, “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia (Firman) dan tanpa Dia (Firman) tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.”
      Jadi kalo ada bilang bahwa Yesus adalah Firman Allah, dan Firman Allah ini ternyata adalah ciptaan, dan kemudian Injil Yohanes bilang bahwa SEGALA ciptaan diciptakan oleh Sang Firman, maka:
      DENGAN FIRMAN YG MANA LAGI FIRMAN ALLAH INI DICIPTAKAN? Silahkan dijawab kalo logika anda memang main.

      3. So, apa anda mau bilang bahwa masalah keselamatan adalah suatu hal yg sia-sia dengan mencoba mengutip Kisah 4:25? Bertobatlah dude..

  16. mbah said,

    January 23, 2009 at 6:05 am

    mungkin nak bundo mendapatkan info yg kurang lengkap mengenai SSY.Yang saya tau mereka itu (ssy) mengakui yesus sbg tuhan tp bukan sbg TUHAN yg bernama YEHUWA .Dan mereka juga percaya bahwa masih banyak lagi tuhan lain di bumi ini.Makanya AWASI AJARANmu

    • langdon said,

      July 8, 2009 at 3:57 pm

      @mbah: awasi juga langkahmu, hati-hatilah pada orang buta yang bilang bisa melihat dan menuntun langkahmu.

  17. harapan said,

    January 31, 2009 at 9:15 am

    Seandainya memang benar Organisasai Saksi Yehuwa adalah yang meluruskan ajaran alkitab yang telah diselewengkan sesuai dengan pengakuan mereka, sungguh suatu hal yang aneh bagi saya bahwa butuh waktu yang begitu lama, sekitar 2000 thn, Tuhan membiarkan kebenaran itu tertutupi. Tidak masuk akal sama sekali. Berarti tuhannya SY sempat tertidur lama hingga tidak tahu ajarannya sudah berubah, begitu bangun dia buru2 meluruskan melalui organisasi SY. Selamat dehhh….Saya gak ikut aja…

    • jonah said,

      June 29, 2009 at 11:46 am

      Jangan buru-buru tak punya Harapan, Bung. Kutahu saksi yehuwa itu punya jawaban terbaik yg patut dipertimbangkan berdasarkan ALKITAB dan penalaran yang masuk akal untuk semua pertanyaan dan keraguan kalian di forum ini… Sorry, aku bukan saksi Yehuwa Bung, tapi aku sangat salut dengan abang aku yang seorang Sarjana Teologi tapi memilih menjadi saksi Yehuwa di Batam sana… Hitung-hitung adu intelektual dan penghayatan soal iman Kristen yang sahih nanti deh kucabar kalian beradu yaa…

      • freewillie said,

        July 1, 2009 at 2:03 am

        Silahkan bawa abang anda ke sini atau ke http://www.ladangtuhan.com

      • langdon said,

        July 8, 2009 at 4:35 pm

        @ jonah: kamu sungguh sangat tanggung, tidak pada tempatnya kamu membela sesuatu yang belum kamu pahami sunguh-sungguh. ibaratkan prajurit, kamu itu cuma kuli yang disuruh bawa-bawa logistik dan ketika pulang kampung dengan bangganya bercerita banyak pada dunia: kemarin aku membunuh 77 prajurit musuh. haha

  18. sky said,

    March 15, 2009 at 1:01 pm

    logika dipakai
    “kenapa Yesus slalu mengadakan muzizat menandakan dia adalah Tuhan, dan yesus datang sebagai lidah api menandakan dia adalah roh kudus. injil tuhan berkata.”
    @alungsaid : jika begitu, semua nabi adalah tuhan! lalu kenapa anda tidak menganggap nabi² sebelum anda itu tuhan? terutama adam! yang bener² dibuat langsung oleh allah! ingat, hampir semua kisah nabi ada mukzizatnya! misal : musa, nuh, dll! so…? think again bro!

    • freewillie said,

      June 5, 2009 at 9:13 am

      Cuma orang bego yg bilang Yesus Tuhan hanya karena bisa bikin muzizat. Yesus adalah Allah karena Ia adalah Firman Allah yg nuzul menjelma menjadi daging. Muzizat hanyalah remah2 roti saja, tapi keselamatan dan hidup kekal adalah menu utamanya. (Sekali lagi), cuma orang buoddohhh saja yang ngeributin remah2 roti. Belajar dulu baru komentar ya :P

  19. azaria said,

    April 11, 2009 at 6:33 am

    saksi yehuwa mengajarkan apa yang sesuai dengan alkitab.,karena itu faktanya.

    • freewillie said,

      June 5, 2009 at 9:11 am

      Aku balikin ah:
      Protestan mengajarkan apa yg sesuai dengan alkitab, karena itu faktanya.

      Ngomong sih gampang…. buktinya apa?

      Jangan lupa simbol Sola Scriptura Protestan dengan ajaran Tritunggalnya.

      Jadi apa yg bisa kita pelajari dari sini Azaria? Banyaknya ayat yg dikutip tidak menjadikan suatu ajaran menjadi Alkitabiah. Saksi Yehuwa menurut hemat saya hanya memperkosa teks-teks kitab suci, asal main comot ayat2 Alkitab, hanya mencari ayat2 yg mendukung doktrin palsunya (eisegese), tapi TIDAK PERNAH mempelajari sejarah dan dari sana mengetahui ‘apa sih yg dimaksudkan penulis Injil itu sendiri’?

      Coba jawab dengan jujur: siapa sih yg lebih ngerti Alkitab?
      a. Saksi Yehuwa, atau
      b. Murid2 yg diajar langsung oleh para rasul?

      Penasaran dengan pertanyaan ini? Silahkan cari apa sih yg diajarkan The Apostolic Fathers, para rasul dan murid2 para rasul penulis Injil itu sendiri dari abad pertama dan awal abad kedua. Jangan cuman belajar dari bidat sesat ABAD KE-19 ajarannya Rutherford, Charles Taze Russel, dan lain2 mas… Chek dan re-check-lah ajaran Gereja Purba itu sendiri.

      • rambam said,

        June 29, 2009 at 12:35 pm

        Kelihatannya Pak Freewillie seorang kutu-buku yg lumayan mahir meresponse komentar2 “Watchtowerist” dan cenderung ‘membungkam’ argumen2 mereka; tapi ngomong2 soal ajaran trinitas/tritunggal yang Bpk kaitkan dengan sola scriptura-nya Protestan saya sampai2 tertawa geli membacanya. Saya justeru ingin bertanya ke Pak Freewillie soal seberapa banyak yg Anda ketahui perihal The Apostolic & The Apostolic Fathers, terutama menyangkut pandangan mereka ttg subyek TRITUNGGAL??? Coba saya ajak anda membaca buku-buku ini dan berikan tanggapan setelahnya (tentu kpd saya agar kita dapat bertukar informasi): (1) Robert A. Kraft, The Apostolic Fathers, Jilid 3, 1965, hal.163;
        (2) Edwin Hatch, The Influence of Greek Ideas on Christianity, 1957, hal. 252;
        (3) Alexander Roberts & James Donaldson, The Ante-Nicene Fathers, Edinburgh Edition, 1885, Jilid I, hal. 5,16, 21;
        (4) Cyril C. Richardson, Early Christian Fathers, 1953, hal. 70-71;
        OK…
        SAYA TUNGGU SEGERA.

      • freewillie said,

        July 1, 2009 at 2:12 am

        Hai Pak Rambam,
        biar saya perjelas. Saya menyebut “Sola Scriptura Protestan dengan ajaran Tritunggalnya” dalam konteks “bahwa banyaknya ayat yg dibawa Saksi Yehuwa tidak menunjukkan bahwa ajaran mereka Alkitabiah”. Makanya saya bandingkan dengan Protestan dan ajaran Tritunggal yg dibangun di atas dasar 100% kitab suci (Sola Scriptura). Kalau hanya saling tunjuk ayat, lalu mengapa harus percaya ke Saksi Yehuwa, mengapa tidak dengan ajaran Tritunggal yg (contohnya Protestan) juga 100% menggunakan dasar ayat2 Alkitab? That’s it. Itu yg saya maksud, bukan yg lain. Makanya saya tantang Saksi Yehuwa untuk ke level yg lebih dalam lagi: Daripada sembarang tafsir, cari tau: apa sih yg dimaksudkan oleh penulis Injil itu sendiri.

        Btw, saya sedang dalam proses pindahan ke Timika, jadi dalam waktu dekat ini tidak akan punya akses barang2 di rumah saya dulu. Thanks.

      • rambam said,

        July 6, 2009 at 12:28 pm

        Freewillie yang suka tantangan,
        saya bersedia debat lawan anda di forum bikinan anda ini. Silakan anda simak dan tanggapi riset yg saya posting buat anda dan halayak ramai ini:

        “TRITUNGGAL DIBEDAH”
        –Telaah Kritis terhadap Ajaran Utama Gereja Susunan Kristen

        Apakah Gereja yang Mula-Mula Mengajarkan bahwa Allah Adalah suatu Tritunggal?
        Bagian 1—Apakah Yesus dan Murid-muridnya Mengajarkan Doktrin Tritunggal?
        Apakah Yesus dan murid-muridnya mengajarkan doktrin Tritunggal? Apakah pemimpin-pemimpin Gereja beberapa abad berikutnya mengajarkan doktrin itu? Bagaimana asal mulanya? Dan mengapa penting untuk mengetahui kebenaran tentang kepercayaan ini?
        ORANG-ORANG yang menerima Alkitab sebagai Firman Allah mengakui bahwa mereka mempunyai tanggung jawab untuk mengajar orang-orang lain tentang Sang Pencipta. Mereka juga menyadari bahwa isi pokok yang mereka pergunakan untuk mengajar tentang Allah harus benar.
        Allah menghardik ’sahabat-sahabat’ Ayub karena tidak berlaku demikian. ”Maka firman [Yehuwa] kepada Elifas, orang Teman: ’MurkaKu menyala terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu, karena kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hambaKu Ayub.’”—Ayub 42:7.
        Rasul Paulus, pada waktu membahas tentang kebangkitan, berkata bahwa kita akan ternyata ”berdusta terhadap Allah” jika kita mengajarkan tentang kegiatan-kegiatan Allah dengan cara yang tidak benar. (1 Korintus 15:15) Bila halnya demikian mengenai pengajaran kebangkitan, betapa kita harus berlaku sangat teliti pada waktu mengajarkan tentang siapa gerangan Allah!
        Doktrin Tritunggal
        Hampir semua gereja dalam Susunan Kristen mengajarkan bahwa Allah suatu Tritunggal. The Catholic Encyclopedia menyebut ajaran Tritunggal ”doktrin utama agama Kristen”, dengan mendefinisikannya sebagai berikut,
        ”Dalam kesatuan keallahan tersebut ada Tiga Pribadi, Bapa, Putra, dan Roh Kudus, ketiga Pribadi ini benar-benar berbeda satu sama lain. Maka menurut kata-kata Kredo Athanasia, ’Bapa adalah Allah, Putra adalah Allah, dan Roh Kudus adalah Allah, namun tidak ada tiga Allah, tetapi satu Allah.’ . . . Pribadi-pribadi tersebut sama kekalnya dan setara: semuanya sama-sama tidak diciptakan dan mahakuasa.”1
        The Baptist Encyclopædia memberikan definisi yang sama. Dikatakan,
        ”[Yesus] adalah . . . Yehuwa yang kekal . . . Roh Kudus adalah Yehuwa. . . Putra dan Roh Kudus disejajarkan sepenuhnya dengan Bapa. Jika ia adalah Yehuwa demikian juga mereka.”2
        Kutukan Dijatuhkan atas para Penentang
        Pada tahun 325 M., konsili para uskup di Nicea di Asia Kecil merumuskan suatu kredo yang menyatakan Putra Allah sebagai ”Allah yang sejati”. Sebagian dari kredo tersebut mengatakan,
        ”Akan tetapi bagi mereka yang mengatakan, Ada [suatu waktu] bilamana [Putra] tidak ada, dan, Sebelum lahir Ia tidak ada, dan bahwa Ia menjadi ada dari ketiadaan, atau siapa yang menyatakan bahwa Putra Allah terdiri dari wujud atau zat yang berbeda, atau diciptakan, atau bisa diubah atau berubah—mereka ini dikutuk oleh Gereja Katolik.”3
        Jadi, siapa saja yang percaya bahwa Putra Allah tidak sama kekalnya dengan Bapa atau bahwa Putra diciptakan, diserahkan kepada kutukan kekal. Dapat dibayangkan tekanan atas kaum awam untuk menyetujui hal ini.
        Pada tahun 381 M., konsili lain bersidang di Konstantinusopel dan menyatakan bahwa roh suci harus disembah dan dimuliakan sama seperti Bapa dan Putra. Satu tahun kemudian, pada tahun 382 M., sinode yang lain bersidang di Konstantinusopel dan meneguhkan keilahian yang penuh untuk roh suci.4 Pada tahun yang sama, di hadapan suatu konsili di Roma, Paus Damasus menyampaikan sekumpulan ajaran yang harus dikutuk oleh gereja. Dokumennya, yang disebut Tome (Buku) Damasus, yang mencakup pernyataan berikut,
        ”Jika seseorang menyangkal bahwa Bapa kekal, bahwa Putra kekal, dan bahwa Roh Kudus kekal: ia adalah seorang bidah.”
        ”Jika seseorang menyangkal bahwa Putra adalah Allah yang sejati, sama seperti Bapa adalah Allah yang sejati, memiliki semua kuasa, mengetahui segala sesuatu, dan setara dengan Bapa, ia adalah seorang bidah.”
        ”Jika seseorang menyangkal bahwa Roh Kudus . . . adalah Allah yang sejati . . . memiliki semua kuasa dan mengetahui segala sesuatu, . . . ia adalah seorang bidah.”
        ”Jika seseorang menyangkal bahwa tiga pribadi itu, Bapa, Putra, dan Roh Kudus, adalah pribadi-pribadi sejati, setara, kekal, memiliki semua perkara yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, bahwa mereka adalah mahakuasa, . . . ia adalah seorang bidah.”
        ”Jika seseorang mengatakan bahwa [Putra yang] menjadi daging tidak ada di surga dengan Bapa pada waktu ia berada di bumi, ia adalah seorang bidah.”
        ”Jika seseorang, walaupun mengatakan bahwa Bapa adalah Allah dan Putra adalah Allah dan Roh Kudus adalah Allah, . . . namun tidak mengatakan bahwa mereka adalah satu Allah, . . . ia adalah seorang bidah.”5
        Sarjana-sarjana Yesuit yang menerjemahkan kata-kata di atas dari bahasa Latin menambahkan komentar, ”Paus St. Celestine I (422-32) rupanya menganggap aturan-aturan ini sebagai hukum; aturan-aturan ini mungkin dianggap sebagai definisi iman.”6 Dan sarjana Edmund J. Fortman mengatakan dengan tegas bahwa tome itu merupakan ”doktrin tritunggal yang utuh dan kokoh”.7
        Jika Anda adalah anggota gereja yang menerima ajaran Tritunggal, apakah pernyataan-pernyataan ini menjadi definisi bagi iman Anda? Dan apakah Anda menyadari bahwa jika Anda menganut Doktrin Tritunggal sebagaimana diajarkan oleh gereja-gereja, berarti Anda harus percaya bahwa Yesus berada di surga sementara ia berada di bumi? Ajaran ini serupa dengan apa yang dinyatakan oleh gerejawan abad ke empat Athanasius dalam bukunya On the Incarnation (Mengenai Inkarnasi),
        ”Firman [Yesus] tidak dikungkung oleh tubuh-Nya, juga kehadiran-Nya dalam tubuh tidak menghalangi-Nya untuk berada di tempat lain juga. Pada waktu ia memindahkan tubuh-Nya Ia masih terus mengatur alam semesta dengan Pikiran dan kuasa-Nya, . . . Ia tetap Sumber kehidupan bagi seluruh alam semesta, berada di dalam setiap bagiannya, namun berada di luar keseluruhannya.”8
        Apa yang Diartikan oleh Doktrin Tritunggal
        Beberapa orang berkesimpulan bahwa yang diartikan oleh ajaran Tritunggal adalah sekadar menganggap Yesus memiliki keilahian dan keallahan. Bagi orang-orang lain, percaya kepada Tritunggal tidak lebih dari percaya kepada Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
        Namun, pengamatan yang teliti atas kredo-kredo Susunan Kristen menunjukkan betapa tidak memadai gagasan-gagasan sedemikian jika dihubungkan dengan doktrin yang formal tersebut. Dari definisi-definisi resmi jelas terlihat bahwa doktrin Tritunggal bukan gagasan yang sederhana. Sebaliknya, ia adalah serangkaian gagasan terpisah yang rumit yang digabungkan dalam jangka waktu yang lama dan dikaitkan satu sama lain.
        Dari gambaran doktrin Tritunggal yang muncul setelah Konsili Konstantinusopel pada tahun 381 M., dari Tome Damasus pada tahun 382 M., dari Kredo Athanasia yang muncul beberapa waktu kemudian, dan dari dokumen-dokumen lain, kita dapat menentukan dengan jelas apa yang Susunan Kristen maksudkan dengan doktrin Tritunggal. Doktrin itu menyangkut gagasan-gagasan tertentu sebagai berikut:
        1. Dikatakan ada tiga pribadi ilahi—Bapa, Putra, dan Roh Kudus—dalam Keallahan.
        2. Masing-masing dari tiga pribadi yang terpisah ini dikatakan kekal, tidak satu pun yang lebih dahulu atau sesudah yang lain dalam hal waktu.
        3. Masing-masing pribadi dianggap mahakuasa, yang satu tidak lebih besar atau lebih kecil daripada yang lain.
        4. Masing-masing pribadi dianggap mahatahu, mengetahui segala sesuatu.
        5. Masing-masing pribadi disebut Allah yang sejati.
        6. Akan tetapi, dikatakan bahwa tidak ada tiga Allah melainkan hanya satu Allah.
        Jelaslah bahwa doktrin Tritunggal adalah serangkaian gagasan rumit, yang paling sedikit mencakup unsur-unsur penting di atas dan bahkan menyangkut lebih banyak lagi, sebagaimana tersingkap bila rinciannya diamati. Namun, bila kita pertimbangkan hanya gagasan dasar di atas, jelas bahwa jika ada yang dikurangi, sisanya bukan lagi Tritunggal Susunan Kristen. Untuk mendapat gambaran yang lengkap, setiap bagian ini harus ada.
        Dengan pengertian yang lebih baik mengenai istilah ”Tritunggal” ini, sekarang kita dapat bertanya: Apakah itu ajaran Yesus dan dan murid-muridnya? Jika demikian, ajaran itu seharusnya muncul dalam bentuk yang lengkap pada abad pertama Masehi. Dan karena apa yang mereka ajarkan ada dalam Alkitab, maka hanya salah satu yang benar, doktrin Tritunggal adalah ajaran Alkitab atau bukan. Andai kata ia ajaran Alkitab, ia seharusnya diajarkan dengan jelas dalam Alkitab.
        Tidak masuk akal untuk berpikir bahwa Yesus dan murid-muridnya akan mengajar orang-orang tentang Allah namun tidak memberi tahu mereka siapa gerangan Allah, terutama pada waktu beberapa orang yang percaya dituntut untuk mempertaruhkan hidup mereka bagi Allah. Maka, tentunya Yesus dan murid-muridnya akan memberikan prioritas yang paling tinggi untuk mengajar orang-orang lain mengenai doktrin yang sangat penting ini.
        Periksalah Alkitab
        Dalam Kisah Para Rasul pasal 17, ayat 11, orang-orang disebut ”baik hatinya” karena ”setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian”, yakni hal-hal yang diajarkan rasul Paulus. Mereka dianjurkan untuk menggunakan Alkitab bahkan untuk membuktikan ajaran seorang rasul. Anda hendaknya juga berbuat demikian.
        Ingatlah bahwa Alkitab ”diilhamkan Allah” dan harus digunakan untuk ”menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik”. (2 Timotius 3:16, 17) Jadi Alkitab lengkap dalam masalah-masalah doktrin. Andai kata doktrin Tritunggal benar, seharusnya ia ada di dalam Alkitab.
        Kami mengundang Anda untuk meneliti Alkitab, khususnya ke-27 buku Alkitab Yunani Kristen atau Perjanjian Baru, untuk memeriksa sendiri apakah Yesus dan murid-muridnya mengajarkan Tritunggal. Seraya Anda meneliti, tanyakan kepada diri sendiri:
        1. Dapatkah saya menemukan ayat yang menyebutkan ”Tritunggal”?
        2. Dapatkah saya menemukan ayat yang mengatakan bahwa Allah terdiri dari tiga pribadi, Bapa, Putra, dan Roh Kudus, namun ketiganya hanya satu Allah?
        3. Dapatkah saya menemukan ayat yang mengatakan bahwa Bapa, Putra, dan roh kudus setara dalam segala hal, seperti dalam hal kekekalan, kuasa, kedudukan, dan hikmat?
        Sekalipun Anda meneliti dengan saksama, Anda tidak akan menemukan satu ayat pun yang menggunakan kata Tritunggal, ataupun ayat yang mengatakan bahwa Bapa, Putra, dan roh kudus setara dalam segala hal, seperti dalam hal kekekalan, kuasa, kedudukan, dan hikmat. Bahkan tidak ada satu ayat pun yang mengatakan bahwa Putra setara dengan Bapa dalam hal-hal tersebut—dan andai kata ada ayat demikian, hal itu akan menetapkan bukan Tritunggal melainkan ”dwitunggal”. Dalam ayat mana pun Alkitab tidak pernah menyamakan roh kudus dengan Bapa.
        Apa yang Dikatakan Banyak Sarjana
        Banyak sarjana, termasuk mereka yang menganut Tritunggal, mengakui bahwa Alkitab tidak memuat doktrin Tritunggal yang nyata. Misalnya, The Encyclopedia of Religion menyatakan,
        ”Para penafsir Alkitab dan ahli teologi dewasa ini menyetujui bahwa Alkitab Ibrani tidak memuat doktrin Tritunggal . . . Sekalipun Alkitab Ibrani menggambarkan Allah sebagai bapak bangsa Israel dan menggunakan personifikasi Allah sebagai Firman (davar), Roh (ruah), Hikmat (hokhmah), dan Kehadiran (shekhinah), akan merupakan hal yang melampaui niat dan semangat Perjanjian Lama untuk menghubungkan gagasan-gagasan ini dengan doktrin tritunggal yang muncul kemudian.
        ”Lebih jauh, para penafsir Alkitab dan ahli teologi setuju bahwa Perjanjian Baru juga tidak memuat doktrin Tritunggal yang jelas (explicit). Allah Bapa adalah sumber segala sesuatu dan juga bapa bagi Kristus Yesus; ’Bapa’ bukan merupakan jabatan untuk pribadi pertama dari Tritunggal melainkan sinonim untuk Allah. . . .
        ”Dalam Perjanjian Baru tidak tercermin kesadaran tentang sifat metafisik Allah (’tritunggal yang selalu hadir di mana-mana’), Perjanjian Baru juga tidak memuat bahasa teknis tentang doktrin yang kemudian (hupostasis, ousia, substantia, subsistentia, prosōpon, persona). . . . Sudah pasti doktrin tersebut tidak dapat diteguhkan berdasarkan bukti Alkitab sendiri.”9
        Mengenai fakta-fakta sejarah mengenai hal ini, The New Encyclopædia Britannica menyatakan,
        ”Baik kata Tritunggal maupun doktrin yang jelas tidak muncul dalam Perjanjian Baru . . .
        ”Doktrin tersebut berkembang perlahan-lahan selama beberapa abad dan melalui banyak pertentangan pendapat. . . .
        ”Baru pada abad ke-4 keterpisahan ketiga pribadi dan kesatuan mereka ditetapkan dalam suatu doktrin ortodoks tentang satu wujud dan tiga pribadi.10
        New Catholic Encyclopedia membuat pernyataan yang serupa mengenai asal usul Tritunggal:
        ”Ada pengakuan dari pihak para penafsir dan ahli teologi Alkitab, termasuk orang-orang Katolik Roma yang jumlahnya terus meningkat, bahwa orang seharusnya tidak berbicara tentang masalah paham Tritunggal dalam Perjanjian Baru tanpa batas penerapan yang sungguh-sungguh. Ada juga pengakuan sejajar yang hampir sama oleh para sejarawan dogma dan para ahli teologi sistematis bahwa jika seseorang berbicara mengenai masalah Tritunggal tanpa batas penerapan, orang itu sudah berpindah dari zaman asal-mula Kekristenan, ke kira-kira, seperempat abad terakhir dari abad ke-4. Barulah pada zaman itu apa yang mungkin disebut dogma Tritunggal yang definitif ’satu Allah dalam tiga Pribadi’ benar-benar diserap ke dalam kehidupan dan pemikiran Kristen. . . .
        ”Formula itu sendiri tidak mencerminkan kesadaran langsung dari masa-masa awal; itu merupakan hasil perkembangan doktrin selama 3 abad.”11
        Apakah Itu ”Tersirat”?
        Para penganut doktrin Tritunggal mungkin berkata bahwa Alkitab ”menyiratkan” suatu Tritunggal. Namun pernyataan ini dibuat lama setelah Alkitab ditulis. Itu merupakan upaya untuk memberi kesan seolah-olah Alkitab berisi hal-hal yang belakangan ditetapkan oleh para pendeta tanpa bukti sebagai doktrin.
        Tanyakan kepada diri Anda: Mengapa Alkitab hanya ”menyiratkan” ajarannya yang paling penting—mengenai siapa gerangan Allah? Alkitab menyatakan ajaran-ajaran dasar lain dengan jelas; mengapa tidak demikian dengan doktrin ini, yang justru paling penting? Tidakkah Pencipta alam semesta akan mengarang sebuah buku yang menerangkan dengan jelas mengenai keadaan diri-Nya sebagai Tritunggal andai kata memang demikian?
        Alasan Alkitab tidak mengajarkan doktrin Tritunggal dengan jelas adalah sederhana: Doktrin itu bukan ajaran Alkitab. Andai kata Allah adalah Tritunggal, Ia pasti akan membuatnya jelas agar Yesus dan murid-muridnya dapat mengajarkannya kepada orang-orang lain. Dan keterangan yang sangat penting itu tentu sudah dimuat dalam Firman Allah terilham. Persoalan itu tidak akan dibiarkan untuk diselesaikan dengan susah payah oleh manusia yang tidak sempurna beberapa abad kemudian.
        Jika kita memeriksa ayat-ayat yang dikemukakan oleh para penganut Tritunggal sebagai bukti bahwa Alkitab ”menyiratkan” suatu Tritunggal, apa yang kita dapatkan? Penilaian yang jujur menyingkapkan bahwa ayat-ayat tersebut tidak berbicara tentang Tritunggal Susunan Kristen. Sebaliknya, para ahli teologi berupaya untuk memaksakan gagasan-gagasan Tritunggal yang mereka sudah miliki ke dalam ayat-ayat tersebut. Namun gagasan-gagasan tersebut tidak ada dalam ayat-ayat itu. Sebenarnya, gagasan-gagasan Tritunggal itu berlawanan dengan kesaksian Alkitab yang jelas secara keseluruhan.
        Salah satu contoh ayat seperti itu terdapat di Matius 28:19, 20. Dalam ayat itu, Bapa, Putra, dan roh kudus disebutkan bersama-sama. Ada orang yang menyatakan bahwa hal ini menyiratkan Tritunggal. Namun silakan Anda baca ayat-ayat itu sendiri. Apakah ada sesuatu dalam ayat-ayat tersebut yang mengatakan bahwa ketiganya adalah satu Allah setara dalam hal kekekalan, kuasa, kedudukan, dan hikmat? Tidak, tidak ada. Itu sama dengan ayat-ayat lain yang menyebutkan ketiganya sekaligus.
        Bagi mereka yang melihat siratan-siratan Tritunggal dalam Matius 28:19, 20 dalam penggunaan ”nama” dalam bentuk tunggal untuk Bapa, Putra, dan roh kudus, silakan membandingkan penggunaan ”nama”, tunggal, bagi Abraham dan Ishak dalam Kejadian 48:16.—King James Version; New World Translation of the Holy Scriptures.
        Para penganut Tritungal juga menunjuk kepada Yohanes 1:1 dalam beberapa terjemahan, yang menyatakan ”Firman” berada ”bersama-sama dengan Allah” dan dikatakan sebagai ”Allah”. Namun terjemahan-terjemahan Alkitab yang lain mengatakan bahwa Firman itu adalah ”suatu allah” atau ”ilahi”, yang tidak selalu berarti Allah melainkan suatu pribadi yang berkuasa. Selanjutnya, ayat Alkitab itu berkata bahwa ”Firman itu” ada ”bersama-sama dengan” Allah. Masuk akal jika hal ini berarti bahwa ia tidak mungkin sebagai Allah itu sendiri. Dan tidak soal apa yang disimpulkan mengenai ”Firman itu”, kenyataannya hanya dua pribadi yang disebutkan dalam Yohanes 1:1, bukan tiga. Lagi-lagi, semua ayat yang dicoba untuk mendukung doktrin Tritunggal gagal total jika diteliti dengan jujur.
        Faktor lain untuk dipertimbangkan adalah: Andai kata doktrin Tritunggal diajarkan oleh Yesus dan murid-muridnya dahulu, maka tentu para pemimpin gereja yang hidup segera setelah zaman itu juga akan mengajarkannya. Namun apakah orang-orang ini, yang dewasa ini disebut Bapa-Bapa Rasuli (The Apostolic Fathers), mengajarkan doktrin Tritunggal?

        Apakah Gereja yang Mula-Mula Mengajarkan bahwa Allah Adalah Suatu Tritunggal?
        Bagian 2—Apakah Bapa-Bapa Rasuli (The Apostolic Fathers) Mengajarkan Doktrin Tritunggal?
        Dalam Bagian 1 serial ini membahas apakah Yesus dan murid-muridnya mengajarkan doktrin Tritunggal—gagasan bahwa Bapa, Putra, dan roh suci adalah tiga pribadi yang sederajat tetapi satu Allah. Bukti yang nyata dari Alkitab, dari para ahli sejarah, dan bahkan dari para teolog menyangkal gagasan tersebut. Bagaimana dengan para pemimpin gereja yang menyusul segera setelah itu—apakah mereka mengajarkan suatu Tritunggal?
        ”BAPA-BAPA RASULI” (The Apostolic Fathers) adalah julukan yang digunakan bagi para pemimpin gereja yang menulis tentang kekristenan pada akhir abad pertama dan awal abad kedua sesudah Masehi. Termasuk di antara mereka adalah Clement dari Roma, Ignatius, Polycarpusus, Hermas, dan Papias.
        Mereka dikatakan hidup sezaman dengan beberapa dari para rasul. Oleh sebab itu, mereka seharusnya mengenal baik ajaran-ajaran rasuli. Berkenaan dengan apa yang ditulis oleh para pria tersebut, The New Encyclopædia Britannica mengatakan,
        ”Secara keseluruhan tulisan-tulisan para Bapa Rasuli lebih berharga daripada lektur Kristen mana pun selain Perjanjian Baru.”1
        Jika para rasul mengajarkan doktrin Tritunggal, maka para Bapa Rasuli itu seharusnya mengajarkannya juga. Ini seharusnya menonjol dalam pengajaran mereka, karena tidak ada yang lebih penting daripada memberitahukan kepada orang-orang siapa Allah itu. Jadi apakah mereka mengajarkan doktrin Tritunggal?
        Pernyataan Iman yang Mula-Mula
        Salah satu pernyataan non-Alkitab yang paling awal berkenaan iman Kristen ditemukan di dalam sebuah buku yang berisi 16 pasal yang singkat yang dikenal sebagai The Didache, atau Teaching of the Twelve Apostles (Pengajaran Kedua belas Rasul). Beberapa sejarawan menganggapnya ditulis sebelum atau sekitar tahun 100 M. Penulisnya tidak diketahui.2
        The Didache membahas tentang hal-hal yang perlu diketahui orang-orang untuk menjadi kristiani. Dalam pasal ketujuh, buku ini menetapkan baptisan ”dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”, kata-kata yang sama yang digunakan Yesus di Matius 28:19.3 Namun buku itu tidak mengatakan apa-apa tentang ketiganya sederajat dalam kekekalan, kuasa, kedudukan, dan hikmat. Dalam pasal kesepuluh, The Didache memasukkan pernyataan iman berikut ini dalam bentuk sebuah doa,
        ”Kami bersyukur kepada-Mu, Bapa yang Suci, untuk nama-Mu yang Suci yang telah Engkau taruh di dalam hati kami; dan untuk pengetahuan dan iman dan kekekalan yang telah Engkau beritahukan kepada kami melalui Yesus Hamba-Mu. Kemuliaan bagi-Mu selama-lamanya! Engkau, Tuhan Yang Maha Kuasa, menciptakan segala sesuatu demi nama-Mu . . . Dan Engkau telah memberi kami makanan dan minuman rohani, dan kehidupan kekal melalui Yesus Hamba-Mu.”4
        Tidak ada Tritunggal di sini. Dalam The Influence of Greek Ideas on Christianity (Pengaruh Gagasan-Gagasan Yunani Atas Kekristenan), Edwin Hatch mengutip kata-kata tersebut di atas dan kemudian berkata,
        ”Dalam ruang lingkup pengaruh yang mula-mula dari kekristenan tidak terlihat kemajuan yang besar atas gagasan sederhana ini. Doktrin yang ditekankan adalah, bahwa Allah ada, bahwa Ia adalah satu, bahwa Ia Maha Kuasa dan Kekal, bahwa Ia menciptakan dunia, bahwa kemurahan hati-Nya ada di atas segala ciptaan-Nya. Tidak ada kecenderungan akan pembahasan filosofis yang abstrak.”5
        Clement dari Roma
        Clement dari Roma, yang dianggap pernah menjadi ”uskup” di kota itu, juga merupakan sumber tulisan-tulisan yang awal berkenaan kekristenan. Diperkirakan ia wafat sekitar tahun 100 M. Dalam suatu karya yang menurut dugaan ditulis olehnya, ia tidak menyinggung tentang suatu Tritunggal, baik secara langsung maupun tidak. Dalam Surat Clement yang Pertama untuk Jemaat Korintus, ia menyatakan,
        ”Kiranya rahmat atasmu, dan damai, dari Allah Yang Maha Kuasa melalui Kristus Yesus, bertambah-tambah.”
        ”Para rasul telah memberitakan Injil kepada kita dari Tuhan Kristus Yesus; Yesus Kristus telah melakukan hal yang sama dari Allah. Oleh karenanya Kristus diutus oleh Allah, dan para rasul oleh Kristus.”
        ”Kiranya Allah, yang melihat segala sesuatu, dan yang adalah Penguasa segala roh dan Tuhan segala daging—yang memilih Tuhan kita Kristus Yesus dan kita melalui Dia untuk menjadi umat yang istimewa—memberikan kepada setiap jiwa yang menyerukan Nama-Nya yang mulia dan kudus, iman, rasa takut, kedamaian, kesabaran, ketabahan.”6
        Clement tidak mengatakan bahwa Yesus atau roh kudus sederajat dengan Allah. Ia menampilkan Allah Yang Maha Kuasa (bukan hanya ”Bapa”) sebagai pribadi yang berbeda dari Putra. Allah disebut lebih tinggi, karena Kristus ”diutus” oleh Allah, dan Allah ”memilih” Kristus. Untuk menunjukkan bahwa Allah dan Kristus adalah dua pribadi yang terpisah dan tidak sederajat, Clement berkata,
        ”Kita akan memohon dengan doa dan permohonan yang sungguh-sungguh agar Pencipta alam semesta akan memelihara keutuhan jumlah yang tepat dari orang-orang pilihan-Nya di seluruh dunia, melalui Anak yang Ia kasihi Kristus Yesus. . . . Kami menyadari Engkau [Allah] sendiri yang ’paling tinggi di antara yang tertinggi’ . . . Engkau sendirilah penjaga segala roh dan Allah segala daging.”
        ”Biarlah segala bangsa mengetahui bahwa Engkaulah satu-satunya Allah, bahwa Kristus Yesus adalah Anak-Mu.”7
        Clement memanggil Allah (bukan hanya ”Bapa”) ”yang paling tinggi”, dan menyebut Yesus sebagai ”Anak” Allah. Ia juga menulis tentang Yesus, ”Karena ia mencerminkan kemegahan Allah, ia lebih unggul dari para malaikat sebagaimana dinyatakan oleh jabatannya yang lebih istimewa daripada mereka.”8 Yesus mencerminkan kemegahan Allah, tetapi ia tidak menyamainya, sama seperti bulan memantulkan sinar matahari tetapi tidak menyamai sumber cahaya tersebut, matahari.
        Seandainya Putra Allah sama dengan Allah, siapakah Bapa surgawi, Clement tidak perlu mengatakan bahwa Yesus lebih unggul dari para malaikat, karena tentu ini sudah jelas. Dan kata-katanya menunjukkan bahwa walaupun sang Putra lebih unggul dari para malaikat, ia lebih rendah dari Allah Yang Mahakuasa.
        Pendapat Clement sangat jelas: Putra lebih rendah dari Bapa dan merupakan tangan kanan-Nya. Clement tidak pernah memandang Yesus memiliki kekepalaan ilahi bersama dengan Bapa. Ia menunjukkan bahwa Putra bergantung kepada Bapa, yaitu, Allah, dan dengan jelas mengatakan bahwa Bapa adalah ’Allah sendiri’, yang tidak membagi-bagi kedudukan-Nya kepada pribadi lain. Dan Clement tidak pernah menyamakan roh suci dengan Allah. Jadi, sama sekali tidak ada Tritunggal dalam tulisan-tulisan Clement.
        Ignatius
        Ignatius, seorang uskup dari Antiokhia, hidup sekitar pertengahan abad pertama sampai awal abad kedua. Menganggap bahwa semua tulisan yang berasal darinya adalah autentik, namun tidak satu pun di antaranya yang memuat kesamaan antara Bapa, Putra dan roh suci.
        Bahkan jika Ignatius mengatakan bahwa Putra sama dengan Bapa dalam hal kekekalan, kuasa, kedudukan, dan hikmat, tetap saja tidak menunjukkan suatu Tritunggal, karena ia tidak mengatakan bahwa roh suci sama dengan Allah dalam hal-hal itu. Tetapi Ignatius tidak mengatakan bahwa Putra sama dengan Allah Bapa dalam hal-hal tersebut ataupun dalam hal-hal mana pun. Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa Putra tunduk di bawah Dia yang lebih unggul, Allah Yang Maha Kuasa.
        Ignatius menyebut Allah Yang Maha Kuasa ”satu-satunya Allah yang benar, yang tidak diperanakkan dan tidak dapat dihampiri, Tuhan segala sesuatu, Bapa dan Yang Memperanakkan Anak Tunggal,” menunjukkan perbedaan antara Allah dan Putra-Nya.9 Ia berbicara tentang ”Allah Bapa, dan Tuhan Kristus Yesus”.10 Dan ia menyatakan, ”Hanya ada satu Allah, Yang Maha Kuasa, yang telah menyatakan diri-Nya melalui Kristus Yesus Putra-Nya.”11
        Ignatius memperlihatkan bahwa Putra tidak kekal sebagai suatu pribadi tetapi diciptakan, karena menurut dia Putra berkata: ”Tuhan [Allah Yang Maha Kuasa] menciptakan Aku, sebagai permulaan segala ciptaan-Nya.”12 Serupa dengan itu, Ignatius mengatakan, ”Hanya ada satu Allah semesta alam, Bapa dari Kristus, ’dari-Nya berasal segala sesuatu’; dan satu Tuhan Kristus Yesus, Tuhan kita, ’oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan’.”13 Ia juga menulis,
        ”Roh Suci tidak berkata-kata dari diri-Nya sendiri, melainkan dari Kristus, . . . sama seperti Tuhan juga memberi tahu kita hal-hal yang telah ia terima dari Bapa. Karena, kata-Nya [Putra], ’firman yang engkau dengar bukanlah berasal dari Aku, melainkan dari Bapa, yang mengutus Aku.’”14
        ”Hanya ada satu Allah yang menyatakan diri-Nya melalui Kristus Yesus Putra-Nya, yang adalah Firman-Nya yang berasal dari kesunyian dan dalam segala hormat menyukakan Dia [Allah] yang mengutus dia. . . . Kristus Yesus tunduk kepada Bapa.”15
        Memang, Ignatius menyebut Putra ”Allah Firman”. Tetapi dengan menggunakan kata ”Allah” untuk Putra tidak mesti berarti kesamaan dengan Allah Yang Mahakuasa. Alkitab juga menyebut Putra sebagai ”Allah” di Yesaya 9:5. Yohanes 1:18 menyebut Putra sebagai ”Anak Tunggal Allah”. Karena diberi kuasa dan wewenang oleh Allah Yehuwa, sang Bapa, Putra dengan patut dapat disebut ”yang perkasa”, yang pada dasarnya merupakan arti dari kata ”allah” itu sendiri.—Matius 28:18; 1 Korintus 8:6; Ibrani 1:2.
        Namun, apakah ke-15 surat yang dianggap merupakan karya Ignatius diterima keasliannya? Dalam The Ante-Nicene Fathers [Bapa-Bapa Ante-Nicene], Jilid I, editor Alexander Roberts dan James Donaldson menyatakan,
        ”Sekarang sudah menjadi pandangan umum para kritikus, bahwa kedelapan pertama surat yang dinyatakan sebagai karya Ignatius adalah palsu. Surat-surat ini sendiri yang memberikan bukti yang tidak dapat diragukan bahwa ini merupakan hasil dari masa yang lebih baru . . . dan kini surat-surat itu telah disetujui bersama untuk disingkirkan sebagai penipuan.”
        ”Dari ketujuh Surat kiriman yang diakui oleh Eusebius . . . , kami mempunyai dua kritikan Yunani, yang satu lebih pendek dan yang lain lebih panjang. . . . Meskipun bentuk yang lebih pendek umumnya telah diterima sebaliknya daripada yang lebih panjang, masih ada sejumlah besar pandangan umum di kalangan para ilmuwan, bahwa bahkan bagian ini tidak dapat dianggap sama sekali bebas dari penyisipan (interpolasi), dan tidak dapat dianggap bahwa keasliannya tidak diragukan lagi.”16
        Jika kita menerima versi tulisannya yang lebih pendek autentik, hal itu tidak menghapus beberapa frasa atau ungkapan (dalam versi yang lebih panjang) yang memperlihatkan Kristus tunduk kepada Allah, namun apa yang masih terdapat dalam versi yang lebih singkat tetap tidak memperlihatkan suatu Tritunggal. Tidak soal yang mana dari semua tulisan itu asli, paling-paling surat-surat itu menunjukkan bahwa Ignatius percaya akan kerangkapan Allah dan Putra-Nya. Ini tentu bukan kerangkapan antara dua pribadi yang sederajat, karena Putra selalu ditampilkan lebih rendah daripada Allah dan tunduk kepada-Nya. Jadi, terlepas dari bagaimana seseorang memandang tulisan-tulisan Ignatius, doktrin Tritunggal tidak ditemukan di dalamnya.
        Polycarpus
        Polycarpus dari Smirna lahir pada sepertiga terakhir abad pertama dan meninggal pada pertengahan abad kedua. Dikatakan bahwa ia pernah bertemu dengan rasul Yohanes, dan ia dikatakan menulis Surat Polycarpus kepada Jemaat Filipi.
        Apakah ada sesuatu di dalam tulisan Polycarpus yang dapat menunjukkan suatu Tritunggal? Tidak, Tritunggal tidak disebut-sebut. Memang, apa yang ia katakan selaras dengan apa yang diajarkan oleh Yesus dan para murid dan rasulnya. Misalnya dalam Surat Rasulinya, Polycarpus menyatakan,
        ”Kiranya Allah dan Bapa dari Tuhan kita Kristus Yesus, dan Kristus Yesus Sendiri, yang adalah Putra Allah, . . . membangun kamu dalam iman dan kebenaran.”17
        Perhatikan bahwa, seperti Clement, Polycarpus tidak berbicara tentang suatu hubungan ”Bapa” dan ”Putra” Tritunggal yang sama dalam suatu keilahian. Sebaliknya, ia berkata tentang ”Allah dan Bapa” dari Yesus, tidak hanya ’Bapa dari Yesus’. Jadi ia memisahkan Allah dari Yesus, sama seperti apa yang berulang kali dilakukan oleh para penulis Alkitab. Paulus berkata di 2 Korintus 1:3, ”Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Kristus Yesus.” Ia tidak hanya mengatakan, ’Terpujilah Bapa (dari) Yesus’ tetapi, ”Terpujilah Allah dan Bapa” (dari) Yesus.
        Juga, Polycarpus mengatakan, ”Damai dari Allah Yang Mahakuasa, dan dari Tuhan Kristus Yesus, Juruselamat kita.”18 Sekali lagi di sini, Yesus berbeda dari Allah Yang Mahakuasa, bukan satu pribadi yang sederajat dari suatu Keilahian tritunggal.
        Hermas dan Papias
        Bapa Rasuli yang lain adalah Hermas, yang menulis pada bagian pertama abad kedua. Dalam karyanya Gembala, atau Pastor, apakah ia menulis sesuatu yang dapat membuat seseorang beranggapan bahwa ia memahami Allah sebagai suatu Tritunggal? Perhatikan beberapa contoh dari apa yang ia katakan,
        ”Roh suci tidak berbicara pada waktu manusia menginginkan roh itu untuk berbicara, tetapi ia berbicara hanya bila Allah menghendakinya untuk berbicara. . . . Allah menanam kebun anggur, Ia menciptakan manusia, dan memberikan mereka kepada Putra-Nya; dan Putra mengangkat malaikat-malaikat-Nya untuk menjaga mereka.”19
        ”Putra Allah lebih dahulu ada dari semua ciptaannya.”20
        Di sini Hermas berkata bahwa bila Allah (bukan hanya Bapa) menghendaki roh untuk berbicara, roh itu berbicara, menunjukkan superioritas Allah terhadap roh itu. Dan ia berkata bahwa Allah memberikan kebun anggur kepada Putra-Nya, menunjukkan superioritas Allah terhadap Putra. Ia juga menyatakan bahwa Putra Allah lebih dahulu ada daripada, makhluk-makhluk ciptaan sang Putra, yaitu mereka yang diciptakan Putra Allah sebagai Pekerja Ahli Allah, ”karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi.” (Kolose 1:15, 16) Ternyata Putra tidak kekal. Ia diciptakan sebagai makhluk roh tingkat tinggi, sebelum makhluk-makhluk roh lainnya, seperti para malaikat, yang diciptakan di dalam dia.
        J. N. D. Kelly, di dalam karyanya Early Christian Doctrines [Doktrin-Doktrin Kristen Masa Awal], menulis tentang beberapa pandangan Hermas berkenaan dengan Putra Allah,
        ”Di dalam sejumlah bagian kita membaca tentang seorang malaikat yang lebih unggul dibanding keenam malaikat yang membentuk pelayanan yang paling dekat dengan Allah, dan yang juga disebut sebagai ’paling dihormati’, ’suci’, dan ’mulia’. Malaikat ini dinamai Mikhael, dan kesimpulannya tidak dapat dielakkan bahwa Hermas menganggap dia sebagai Putra Allah dan menyamakan dia dengan penghulu malaikat Mikhael.”
        ”Juga ada bukti . . . berkenaan upaya-upaya untuk menafsirkan Kristus sebagai seorang malaikat yang paling tinggi . . . Jelas sekali bahwa tidak ada tanda-tanda berkenaan suatu doktrin Tritunggal.”21
        Papias juga dikatakan mengenal rasul Yohanes. Kemungkinan ia menulis pada awal abad kedua, tetapi hanya fragmen-fragmen tulisannya yang masih ada sekarang ini. Di dalamnya ia tidak mengatakan apa-apa tentang suatu doktrin Tritunggal.
        Pengajaran yang Konsisten
        Dalam hal keunggulan Allah dan hubungan-Nya dengan Yesus, pengajaran Bapa-Bapa Rasuli sangatlah konsisten dengan pengajaran Yesus, para murid, dan para rasul, sebagaimana dicatat di dalam Alkitab. Mereka semua berbicara tentang Allah, bukan sebagai suatu Tritunggal, tetapi sebagai suatu pribadi yang terpisah, kekal, mahakuasa, mahatahu. Dan mereka berbicara tentang Yesus sebagai suatu makhluk roh yang terpisah, lebih rendah, tunduk, yang Allah ciptakan untuk melayani-Nya dalam melaksanakan kehendak-Nya. Dan roh suci sama sekali tidak disebut sederajat dengan Allah.
        Maka, dalam tulisan-tulisan pada akhir abad pertama dan awal abad kedua ini, tidak terdapat dukungan terhadap Tritunggal Susunan Kristen. Mereka berbicara tentang Allah, Yesus, dan roh suci sama seperti Alkitab. Misalnya, lihat Kisah 7:55, 56:
        ”Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Lalu katanya: ’Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.’”—The Jerusalem Bible.
        Stefanus melihat penglihatan Allah di surga dengan Yesus berdiri di sebelah-Nya. Putra berdiri di sebelah Pribadi yang disebut, bukan hanya ”Bapa”, tetapi ”Allah”, yang sama sekali terpisah identitasnya dari Yesus. Dan tidak ada pribadi ketiga yang Stefanus lihat. Roh suci tidak terlihat di surga bersama dengan Yesus dan Bapanya.
        Itu serupa dengan Wahyu 1:1, yang menyatakan, ”Inilah wahyu yang diberikan Allah kepada Kristus Yesus.” (The Jerusalem Bible) Sekali lagi, Kristus yang telah dibangkitkan di surga diperlihatkan sama sekali terpisah dari Allah, dan roh suci tidak disebut-sebut. Jika Yesus adalah pribadi kedua dalam suatu Tritunggal, mengetahui segala sesuatu, bagaimana mungkin ia ”diberi” suatu wahyu?
        Ayat-ayat seperti ini dengan jelas memperlihatkan bahwa tidak ada Tritunggal. Dan tidak ada satu ayat pun dalam seluruh Alkitab yang mengatakan tentang Allah sebagai suatu Tritunggal. Tulisan-tulisan Bapa-Bapa Rasuli mencerminkan ini. Pasti mereka sama sekali tidak mengajarkan Tritunggal Susunan Kristen.
        Kumpulan tulisan penting berikutnya tentang Kekristenan muncul belakangan di abad kedua. Ini adalah karya para pemimpin gereja yang disebut kaum apologis. Apakah mereka mengajarkan suatu Tritunggal? Bagian ke-3 dari serial ini akan mengomentari ajaran-ajaran mereka.

        Apakah Gereja yang Mula-Mula Mengajarkan bahwa Allah Adalah Suatu Tritunggal?
        Bagian 3—Apakah Para Apologis Mengajarkan Doktrin Tritunggal?
        MULAI sekitar pertengahan hingga akhir abad kedua Tarikh Masehi, muncullah pemuka-pemuka gereja yang dewasa ini disebut Para Apologis. Mereka menulis untuk membela kekristenan yang mereka ketahui terhadap filsafat-filsafat yang bersikap bermusuhan yang terdapat di dunia Roma pada waktu itu. Karya-karya mereka muncul menjelang akhir, dan sesudah tulisan-tulisan Para Bapa Rasuli.
        Di antara Para Apologis yang menulis dalam bahasa Yunani yaitu Justinus Martyr, Tatian, Athenagoras, Theophilus dan Clement dari Alexandria. Tertullianus adalah seorang Apologis yang menulis dalam bahasa Latin. Apakah mereka mengajarkan Tritunggal Susunan Kristen modern—tiga pribadi yang setara (Bapa, Putra dan Roh Kudus) dalam suatu Keilahian, masing-masing adalah Allah yang sejati, namun tidak ada tiga Allah melainkan satu Allah?
        ”Sang Putra Lebih Rendah”
        Dr. H. R. Boer, dalam bukunya A Short History of the Early Church, mengomentari hakikat utama pengajaran Para Apologis:
        ”Justinus [Martyr] mengajarkan bahwa sebelum penciptaan dunia, Allah seorang diri dan tidak ada Putra. . . . Sewaktu Allah bermaksud menciptakan dunia, . . . Ia memperanakkan wujud ilahi lain untuk menciptakan dunia bagi-Nya. Wujud ilahi ini disebut Putra karena ia dilahirkan; ia disebut Logos karena ia diambil dari Penalaran atau Pikiran Allah. . . .
        ”Justinus dan Para Apologis lainnya dengan demikian mengajarkan bahwa Putra adalah suatu ciptaan. Ia merupakan ciptaan yang unggul, suatu ciptaan yang cukup berkuasa untuk menciptakan dunia namun, tetap suatu ciptaan. Dalam teologi, hubungan sedemikian antara Putra dan Bapa disebut subordinasionisme. Putra lebih rendah, yaitu, yang kedua sesudah, bergantung kepada, dan dijadikan oleh sang Bapa. Para Apologis adalah penganut subordinasionisme.”1
        Dalam buku The Formation of Christian Dogma, Dr. Martin Werner mengatakan tentang pengertian yang mula-mula mengenai hubungan sang Putra dengan Allah:
        ”Hubungan tersebut tak diragukan dimengerti sebagai suatu ’subordinasi’, yaitu dalam hal Kristus lebih rendah daripada Allah. Di mana saja dalam Perjanjian Baru hubungan Yesus kepada Allah, sang Bapa, dibawa kepada perhatian, . . . hal itu dimengerti dan secara mutlak dipahami sebagai subordinasi. Dan penganut Subordinasionisme yang paling berpengaruh dalam Perjanjian Baru, menurut catatan Synoptic (yang ada hubungannya dengan tiga Injil pertama di Perjanjian Baru), adalah Yesus sendiri . . . Posisi yang semula ini, teguh dan jelas sebagaimana adanya, mampu mempertahankan diri untuk waktu yang lama. ’Semua teolog besar pra-Nicea menampilkan subordinasi Logos terhadap Allah.’”2
        R. P. C. Hanson menyatakan persetujuannya dalam buku The Search for the Christian Doctrine of God, dengan menyatakan:
        ”Sebelum pecahnya Kontroversi Arian [pada abad keempat], tidak ada teolog di Gereja Timur maupun Barat, yang dalam segi-segi tertentu tidak menganggap sang Putra lebih rendah daripada sang Bapa.”3
        Dr. Alvan Lamson, dalam bukunya The Church of the First Three Centuries, menambahkan kesaksian ini sehubungan dengan pengajaran kalangan berwenang gereja sebelum Konsili Nicea (325 M.):
        ”Kedudukan sang Putra yang lebih rendah pada umumnya, sekalipun tidak sepenuhnya seragam, ditegaskan oleh Para Bapa pra-Nicea . . . Bahwa mereka memandang sang Putra berbeda dari sang Bapa terbukti dari kenyataan bahwa mereka dengan jelas menegaskan kedudukan sang Putra yang lebih rendah. . . . Mereka menganggapnya berbeda dan lebih rendah.”4
        Demikian pula, dalam buku Gods and the One God, Robert M. Grant mengatakan tentang Para Apologis sebagai berikut:
        ”Kristologi para apologis, seperti di dalam Perjanjian Baru, pada dasarnya adalah bersifat subordinasionis. Sang Putra selalu lebih rendah daripada sang Bapa, yang adalah Allah yang esa dalam Perjanjian Lama. . . . Apa yang kita temukan pada para pengarang masa awal ini, bukanlah suatu doktrin Tritunggal . . . Sebelum Nicea, teologi Kristen hampir seluruhnya bersifat subordinasionis.”5
        Tritunggal Susunan Kristen mengajarkan bahwa Putra setara dengan Allah Bapa dalam kekekalan, kekuasaan, kedudukan dan hikmat. Namun Para Apologis mengatakan bahwa Putra tidak setara dengan Allah Bapa. Mereka memandang sang Putra lebih rendah. Itu bukanlah ajaran Tritunggal.
        Mencerminkan Pengajaran Abad Pertama
        Para Apologis dan Bapa-Bapa Gereja masa awal lainnya sangat mencerminkan apa yang diajarkan oleh umat kristiani abad pertama tentang hubungan antara sang Bapa dengan Putra. Perhatikan bagaimana hal ini dinyatakan dalam buku The Formation of Christian Dogma:
        ”Pada zaman Kristen yang Mula-Mula tidak ada tanda-tanda apa pun akan masalah atau kontroversi Tritunggal, seperti yang belakangan mendatangkan konflik sengit di Gereja. Alasannya tidak diragukan terletak pada fakta bahwa, bagi kekristenan yang Mula-Mula, Kristus adalah . . . suatu wujud dari dunia malaikat di surga, yang diciptakan dan dipilih Allah untuk ditugaskan memperkenalkan, pada akhir zaman, Kerajaan Allah.”6
        Lebih jauh, sehubungan dengan pengajaran Para Bapa Gereja masa awal, The International Standard Bible Encyclopedia mengakui:
        ”Pada pemikiran yang paling awal dari Gereja, kecenderungan sewaktu berbicara tentang Allah Bapa adalah untuk memahami Dia terlebih dahulu, bukan sebagai Bapa dari Kristus Yesus, tetapi sebagai sumber dari segala makhluk. Oleh karena itu, dapat dikatakan, Allah Bapa adalah Allah pada kedudukan tertinggi. Allah-lah yang mempunyai ciri-ciri seperti tanpa permulaan, tidak berkematian, tidak berubah, tidak dapat dilukiskan, tidak dapat dilihat dan tidak diciptakan. Dialah yang membuat segala perkara, termasuk bahan baku ciptaan itu sendiri, dari sesuatu yang tidak ada. . . .
        ”Ini tampaknya menunjukkan bahwa Bapa sendiri yang layak disebut Allah dan Putra dan Roh hanyalah sekunder. Banyak pernyataan masa awal tampaknya mendukung hal ini.”7
        Pertimbangkan kata-kata teolog Katolik kenamaan, John Henry Cardinal Newman:
        ”Mari kita terima bahwa doktrin-doktrin secara keseluruhan, yang di dalamnya Tuhan kita sebagai subyek, secara konsisten dan seragam diakui Gereja yang Mula-Mula . . . Namun tidak demikian halnya dengan doktrin Katolik mengenai Tritunggal. Saya tidak melihat dalam arti apa dapat dikatakan bahwa terdapat suatu konsensus [di kalangan berwenang gereja] yang mula-mula yang menyetujui hal ini . . .
        ”Kredo-kredo masa awal tidak menyebutkan . . . [Tritunggal] sama sekali. Kredo-kredo ini memang menyebutkan Tiga unsur; namun bahwa ada suatu misteri dalam doktrin tersebut, bahwa Ketiganya adalah Satu, bahwa Mereka setara, sama kekalnya, semua tidak diciptakan, semua mahakuasa, semua tak dapat dimengerti, sama sekali tidak disebutkan, dan tidak akan pernah dapat disimpulkan dari kredo-kredo tersebut.”8
        Apa yang Justinus Martyr Ajarkan
        Salah seorang Apologis paling awal adalah Justinus Martyr, yang hidup sekitar tahun 110 hingga 165 M. Tidak satu pun dari tulisan-tulisannya yang masih tertinggal menyebutkan tiga pribadi yang setara di dalam satu Allah.
        Sebagai contoh, menurut Alkitab Katolik Jerusalem Bible, Amsal 8:22-30 berkata tentang Yesus sebelum menjadi manusia, ”Yahweh menciptakan aku sewaktu maksud-tujuan-Nya pertama kali disingkapkan, sebelum pekerjaan-Nya yang paling awal. . . . Samudera belum ada, sewaktu aku lahir . . . Sebelum bukit-bukit, aku telah lahir . . . Aku berada di sisi-Nya [Allah], sebagai seorang pekerja ahli.” Ketika membahas ayat-ayat ini, Justinus berkata dalam bukunya Dialogue With Trypho:
        ”Alkitab telah menyatakan bahwa Keturunan ini diperanakkan sang Bapa sebelum segala perkara diciptakan; dan bahwa yang diperanakkan secara bilangan berbeda dengan yang memperanakkan, siapa pun akan mengakuinya.”9
        Karena Putra dilahirkan dari Allah, Justinus memang menggunakan istilah ”Allah” sehubungan dengan Putra. Ia menyatakan dalam bukunya First Apology, ”Bapa alam semesta memiliki seorang Putra; yang juga, sebagai Firman dari Allah yang pertama diperanakkan, adalah juga Allah.”10 Alkitab juga mengacu kepada Putra Allah dengan sebutan ”Allah”. Di Yesaya 9:5 ia disebut ”Allah yang Perkasa.” Namun di dalam Alkitab, para malaikat, manusia, ilah-ilah palsu dan Setan juga disebut ”allah”. (Para malaikat: Mazmur 8:6; bandingkan Ibrani 2:6, 7. Manusia: Mazmur 82:6; Kisah 12:22. Ilah-ilah palsu: Keluaran 12:12; 1 Korintus 8:5. Setan: 2 Korintus 4:4.) Dalam Kitab-Kitab Ibrani, kata untuk ”Allah”, ’El, secara sederhana berarti ”Yang Berkuasa” atau ”Yang Kuat”. Padanannya di Kitab-Kitab Yunani adalah the•os′.
        Lagi pula, istilah Ibrani yang digunakan di Yesaya 9:5 memperlihatkan perbedaan jelas antara Putra dan Allah. Di sana, sang Putra disebut ”Allah yang Perkasa”, ’El Gib•bohr′, bukan ”Allah yang Mahakuasa”. Istilah tersebut dalam bahasa Ibrani adalah ’El Shad•dai′ dan diterapkan secara unik hanya kepada Allah Yehuwa.
        Akan tetapi, perhatikan bahwa meskipun Justinus menyebut sang Putra sebagai ”Allah”, ia tidak pernah mengatakan bahwa sang Putra adalah salah satu dari tiga pribadi yang setara, yang masing-masing adalah Allah namun ketiganya membentuk hanya satu Allah. Sebaliknya, ia berkata dalam bukunya Dialogue With Trypho:
        ”Ada . . . Allah dan Tuhan lain [Yesus pra-manusia] yang tunduk kepada Pencipta segala perkara [Allah yang Mahakuasa]; yang [sang Putra] juga disebut Malaikat, karena Ia [sang Putra] mengumumkan kepada manusia segala hal yang Pencipta segala perkara—yang di atas-Nya tidak ada lagi Allah—inginkan untuk diberitahukan kepada mereka. . . .
        ”[Sang Putra] berbeda dengan Dia yang menciptakan segala perkara,—secara bilangan, yang saya maksud, bukan [berbeda] dalam kehendak.”11
        Suatu bagian yang menarik muncul dalam tulisan Justinus yaitu First Apology, pasal 6, dan di situ ia menyatakan pembelaan terhadap tuduhan orang-orang kafir bahwa umat kristiani adalah ateis. Ia menulis:
        ”Ia [Allah] maupun sang Putra (yang diutus oleh-Nya dan mengajarkan kita hal-hal ini, dan sejumlah besar malaikat baik lainnya yang mengikuti-Nya dan dibuat serupa dengan-Nya), dan Roh nubuat, kita sembah dan puja.”12
        Seorang penerjemah bagian ini, Bernhard Lohse, mengomentari, ”Seolah-olah masih belum cukup bahwa dalam daftar ini malaikat-malaikat yang disebutkan sebagai wujud yang dihormati dan disembah oleh kristiani, Justinus tidak ragu-ragu untuk menyebutkan malaikat-malaikat sebelum menyebutkan Roh Kudus.”13—Lihat juga An Essay on the Development of Christian Doctrine.14
        Maka, meskipun Justinus Martyr tampaknya telah menyimpang dari doktrin Alkitab yang murni sehubungan dengan siapa yang seharusnya menjadi objek ibadat umat kristiani, ia jelas-jelas tidak memandang sang Putra setara dengan sang Bapa, sama seperti para malaikat yang tidak dianggap setara dengan-Nya. Sehubungan dengan Justinus, kami mengutip lagi kata-kata Lamson dalam bukunya Church of the First Three Centuries:
        ”Justinus memandang sang Putra berbeda dari Allah, dan lebih rendah daripada-Nya: berbeda, bukan, dalam pengertian modern, membentuk satu dari antara tiga hipostase, atau pribadi, . . . namun berbeda dalam zat dan sifat dasar; memiliki daya hidup pribadi yang sejati dan kuat, terpisah dari Allah, yang dari-Nya ia memperoleh semua kuasa dan gelarnya; yang ditetapkan untuk patuh kepada-Nya dan tunduk dalam segala perkara kepada kehendak-Nya. Sang Bapa adalah yang tertinggi; sang Putra lebih rendah: sang Bapa adalah sumber kekuatan; sang Putra sebagai penerima: sang Bapa sebagai Pencipta; sang Anak sebagai pelayan atau alat-Nya, melaksanakan. Mereka berjumlah dua, namun sepakat, atau bersatu, dalam kehendak; kehendak sang Bapa selalu menjadi hal yang paling berpengaruh dalam diri sang Anak.”15
        Di samping itu, Justinus tidak pernah mengatakan bahwa roh kudus merupakan suatu pribadi yang setara dengan sang Bapa dan sang Putra. Maka secara jujur, tidak tepat sama sekali untuk mengatakan bahwa Justinus mengajarkan Tritunggal modern yang dianut Susunan Kristen.
        Apa yang Clement Ajarkan
        Clement dari Alexandria (± 150 hingga 215 M.) juga menyebut sang Putra sebagai ”Allah”. Ia bahkan menyebutnya ”Pencipta”, suatu istilah yang tidak pernah digunakan Alkitab untuk mengacu kepada Yesus. Apakah ia memaksudkan bahwa sang Putra setara dalam segala hal dengan sang Pencipta yang mahakuasa? Tidak. Clement jelas menunjuk Yohanes 1:3, yang di situ berkata tentang sang Putra, ”Segala sesuatu dijadikan oleh [”melalui”, NW] Dia.”16 Allah menggunakan sang Putra sebagai pelaksana di dalam pekerjaan penciptaan-Nya.—Kolose 1:15-17.
        Clement menyebut Allah yang Mahatinggi sebagai ”Allah dan Bapa dari Tuhan kita Yesus”17 dan mengatakan bahwa ”Tuhan adalah Putra sang Pencipta.”18 Ia juga mengatakan, ”Allah dari semua adalah satu-satunya Pencipta yang baik dan adil, dan sang Putra [berada] di dalam sang Bapa.”19 Maka ia menulis bahwa sang Putra memiliki Allah di atasnya.
        Clement berbicara tentang Allah sebagai ”yang pertama dan satu-satunya pemberi kehidupan kekal, dan sang Putra, yang menerima kehidupan dari Dia [Allah], memberikan itu kepada kita.”20 Pemberi kehidupan kekal yang semula jelas lebih unggul daripada pribadi yang, dapat dikatakan, membagi-bagikannya. Kemudian, Clement berkata bahwa Allah ”yang pertama dan yang tertinggi”.21 Lebih jauh, ia berkata bahwa sang Putra ”paling dekat dengan Dia satu-satunya Pribadi yang Mahakuasa” dan bahwa sang Putra ”mengatur segala sesuatu sesuai dengan kehendak sang Bapa.”22 Berkali-kali Clement memperlihatkan keunggulan Allah yang Mahakuasa atas sang Putra.
        Mengenai Clement dari Alexandria, kita membaca di dalam The Church of the First Three Centuries:
        ”Kita dapat mengutip sejumlah teks bacaan dari Clement yang dengan jelas menegaskan keadaan sang Putra yang lebih rendah. . . .
        ”Kita merasa heran bahwa siapa pun dapat membaca tulisan Clement dengan konsentrasi yang biasa saja, dan membayangkan sejenak bahwa ia menganggap sang Anak identik secara bilangan—satu—dengan sang Bapa. Ketergantungan dan keadaannya yang lebih rendah, sebagaimana terlihat kepada kita, dapat ditemukan di mana-mana. Clement percaya bahwa Allah dan Putra berbeda secara bilangan; dengan kata lain, dua pribadi,—yang satu lebih unggul, yang lainnya lebih rendah.”23
        Lebih jauh, sekali lagi dapat dikatakan: Bahkan sekalipun Clement kadang-kadang kelihatannya melampaui apa yang Alkitab katakan tentang Yesus, ia tidak pernah mengatakan tentang suatu Tritunggal yang tersusun dari tiga pribadi yang setara dalam satu Allah. Para Apologis seperti Tatian, Theophilus dan Athenagoras, yang hidup antara zaman Justinus dan Clement, memiliki pandangan serupa. Lamson berkata bahwa mereka ”bukanlah para penganut Tritunggal yang lebih baik daripada Justinus sendiri; yaitu, mereka tidak percaya kepada Tiga unsur yang setara, tidak terpisah, namun mengajarkan suatu doktrin yang secara keseluruhan tidak dapat dicocokkan dengan kepercayaan ini.”24
        Teologia Tertullianus
        Tertullianus (± 160 hingga 230 M.) merupakan orang pertama yang menggunakan kata Latin trinitas. Sebagaimana dinyatakan oleh Henry Chadwick, Tertullianus mengajukan bahwa Allah adalah ’satu zat terdiri atas tiga pribadi.’25 Akan tetapi, ini tidak berarti bahwa ia memiliki gagasan mengenai tiga pribadi yang setara dan sama kekalnya. Namun, gagasannya dijadikan dasar oleh penulis-penulis sesudahnya yang berupaya mewujudkan doktrin Tritunggal.
        Konsep Tertullianus tentang Bapa, Putra dan roh kudus sangat jauh berbeda dari konsep Tritunggal Susunan Kristen, karena ia adalah seorang penganut subordinasionisme. Ia memandang bahwa sang Putra lebih rendah daripada sang Bapa. Dalam bukunya Against Hermogenes, ia menulis:
        ”Kita hendaknya tidak menyangka bahwa selain Allah, ada wujud cerdas yang tidak dilahirkan dan tidak diciptakan. . . . Bagaimana mungkin ada, kecuali sang Bapa, yang seharusnya lebih tua, dan dalam hal ini benar-benar cerdas, daripada Putra Allah, Firman yang satu-satunya diperanakkan dan yang pertama kali diperanakkan? . . . Bahwa [Allah] yang tidak membutuhkan seorang Pencipta untuk keberadaan-Nya, akan jauh lebih tinggi kedudukan-Nya daripada dia [sang Putra] yang memiliki seorang perancang bagi keberadaannya.”26
        Juga, dalam Against Praxeas, ia memperlihatkan bahwa sang Putra berbeda dan lebih rendah daripada Allah yang Mahakuasa, dengan mengatakan:
        ”Sang Bapa adalah zat secara keseluruhan, namun sang Putra adalah turunan dan sebagian dari keseluruhan, sebagaimana Ia Sendiri mengakui, ’BapaKu lebih besar daripada Aku.’ . . . Jadi sang Bapa berbeda dari sang Anak, lebih besar dari sang Anak, karena Ia yang memperanakkan adalah satu, dan Ia yang diperanakkan adalah lain; juga, Ia yang mengutus adalah satu, dan Ia yang diutus adalah lain; dan sekali lagi, Ia yang menciptakan adalah satu, dan Ia yang melaluinya perkara-perkara diciptakan adalah lain.”27
        Tertullianus, dalam Against Hermogenes, menyatakan lebih jauh bahwa ada waktunya manakala sang Putra tidak ada sebagai suatu pribadi, sehingga memperlihatkan bahwa ia tidak memandang sang Putra sebagai suatu wujud yang kekal, sama kekalnya seperti Allah.28 Cardinal Newman berkata, ”Tertullianus pasti dianggap heterodox [percaya kepada doktrin-doktrin yang tidak bersifat ortodoks] sehubungan dengan doktrin mengenai generasi kekal Tuhan kita.”29 Sehubungan dengan Tertullianus, Lamson mengumumkan:
        ”Penalaran ini, atau Logos, sebagaimana disebutkan oleh orang-orang Yunani, setelah itu, sebagaimana dipercayai Tertullianus, diubah menjadi Firman, atau Putra, yaitu, benar-benar suatu wujud cerdas yang nyata, memiliki keberadaan sejak kekekalan hanya sebagai pelengkap bagi sang Bapa. Akan tetapi, Tertullianus menganggap dia memiliki kedudukan yang lebih rendah daripada sang Bapa . . .
        ”Bila dinilai berdasarkan setiap keterangan yang telah diterima tentang Tritunggal dewasa ini, upaya untuk menyelamatkan Tertullianus dari kutukan [sebagai seorang bidah] akan sia-sia. Ia tidak akan lulus sesaat pun dari ujian tersebut.”30
        Tidak Ada Tritunggal
        Apabila Anda membaca kata-kata Para Apologis, Anda akan mendapati bahwa meskipun mereka menyimpang dalam beberapa hal dari pengajaran Alkitab, tak seorang pun mengajarkan bahwa Bapa, Putra dan roh suci setara dalam kekekalan, kekuasaan, kedudukan dan hikmat.
        Demikian juga halnya mengenai para penulis lain pada abad-abad kedua dan ketiga, seperti Irenaeus, Hippolytus, Origenes, Cyprianus, dan Novatianus. Meskipun beberapa tampaknya menyamakan sang Bapa dengan sang Anak dalam hal-hal tertentu, dalam segi-segi lain mereka memandang kedudukan sang Putra lebih rendah daripada sang Bapa. Dan tidak seorang pun dari antara mereka bahkan berspekulasi bahwa roh suci setara dengan sang Bapa maupun dengan sang Putra. Sebagai contoh, Origenes (± 185 hingga 254 M.) menyatakan bahwa Putra Allah adalah ”yang Sulung dari segala ciptaan” dan bahwa Alkitab ”mengenal-Nya sebagai yang paling awal dari segala karya ciptaan.”31
        Setiap pembacaan yang objektif atas karya tokoh-tokoh gereja masa awal akan memperlihatkan bahwa doktrin Tritunggal yang dianut Susunan Kristen tidak ada pada masa-masa mereka. Sebagaimana The Church of the First Three Centuries mengatakan:
        ”Doktrin Tritunggal modern yang populer . . . tidak mendapat dukungan dari tulisan-tulisan Justinus: dan pengamatan ini dapat diluaskan kepada semua Bapa pra-Nicea; yaitu, kepada seluruh penulis-penulis kristiani selama tiga abad setelah kelahiran Kristus. Memang benar, mereka berbicara tentang Bapa, Putra dan Roh kudus atau nubuat, namun bukan sebagai pribadi yang setara, bukan sebagai satu zat secara bilangan, bukan sebagai Tiga di dalam Satu, menurut pengertian apa pun yang sekarang diakui oleh penganut Tritunggal. Faktanya adalah justru kebalikannya. Doktrin Tritunggal, seperti dijelaskan oleh Para Bapa ini, benar-benar berbeda dari doktrin modern. Ini kami nyatakan sebagi suatu kenyataan yang dapat dibuktikan sebagaimana fakta apa pun dalam sejarah pendapat manusia.”32
        Sebenarnya, sebelum Tertullianus, Tritunggal bahkan tidak pernah disebut-sebut. Dan Tritunggal ”heterodox” dari Tertullianus jauh berbeda dari apa yang dipercayai dewasa ini. Lalu, bagaimana doktrin Tritunggal, seperti yang dipercayai dewasa ini, berkembang? Apakah itu karena Konsili di Nicea pada tahun 325 M.? Kita akan membahas pertanyaan ini dalam Bagian 4 dari seri artikel ini.

        Apakah Gereja yang Mula-Mula Mengajarkan bahwa Allah adalah Suatu Tritunggal?
        Bagian 4—Kapan dan Bagaimana Doktrin Tritunggal Berkembang?
        Tiga artikel terdahulu dari serial ini memperlihatkan bahwa doktrin Tritunggal tidak diajarkan oleh Yesus dan murid-muridnya, tidak juga oleh Bapa-Bapa Gereja masa awal maupun para Apologis Kristen. Artikel terakhir ini akan membahas bagaimana dogma Tritunggal berkembang dan apa peranan Konsili di Nicea tahun 325 M.
        PADA tahun 325 M., Kaisar Konstantinus dari Roma mengadakan konsili uskup di kota Nicea, Asia Kecil. Tujuannya adalah untuk menuntaskan perdebatan agama yang berlarut-larut tentang hubungan antara Putra Allah dengan Allah Yang Mahakuasa. Mengenai hasil konsili tersebut, Encyclopædia Britannica mengatakan:
        ”Konstantinus sendiri menjadi ketua, dengan aktif memimpin pertemuan dan secara pribadi mengusulkan . . . rumusan penting yang menyatakan hubungan Kristus dengan Allah dalam kredo yang dikeluarkan oleh konsili tersebut, ’dari satu zat [ho•mo•ou′si•os] dengan Bapa.’ . . . Karena sangat segan terhadap kaisar, para uskup, kecuali dua orang saja, menandatangani kredo itu, kebanyakan dari mereka dengan sangat berat hati.”1
        Apakah turut campurnya penguasa kafir ini disebabkan keyakinannya yang berdasarkan Alkitab? Tidak. A Short History of Christian Doctrine menyatakan, ”Konstantinus pada dasarnya tidak mengerti apa-apa tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam teologi Yunani.”2 Yang ia tahu adalah bahwa perdebatan agama mengancam kesatuan dari kekaisarannya, dan ia ingin perdebatan tersebut dituntaskan.
        Apakah Konsili Itu Menetapkan Doktrin Tritunggal?
        Apakah Konsili Nicea menetapkan, atau meneguhkan, Tritunggal sebagai doktrin Susunan Kristen? Banyak orang menganggap demikianlah halnya. Namun, fakta-fakta menunjukkan sebaliknya.
        Kredo yang diumumkan oleh konsili tersebut memang menegaskan sesuatu tentang Putra Allah yang dapat menyebabkan para pendeta memandang sang Putra setara dengan Allah Bapa dalam suatu hal tertentu. Namun, menjadi jelas bila meninjau apa yang tidak dikatakan dalam Kredo Nicea. Menurut apa yang semula dikemukakan, seluruh kredo menyatakan:
        ”Kami percaya kepada satu Allah, Bapa yang mahakuasa, pencipta segala sesuatu yang kelihatan dan tidak kelihatan;
        ”Dan kepada satu Tuhan Kristus Yesus, Putra Allah, yang diperanakkan dari Bapa, satu-satunya yang diperanakkan, yaitu, dari zat sang Bapa, Allah dari Allah, terang dari terang, Allah yang sejati dari Allah yang sejati, diperanakkan bukan diciptakan, dari satu zat dengan sang Bapa, yang melalui-Nya segala sesuatu menjadi ada, yang di surga dan yang di bumi, Dia yang demi kita manusia dan demi keselamatan kita telah turun dan berinkarnasi, menjadi manusia, menderita dan bangkit lagi pada hari ketiga, naik ke surga, dan akan datang untuk menghakimi orang-orang hidup dan orang-orang mati;
        ”Dan kepada Roh Kudus.”3
        Apakah kredo ini mengatakan bahwa Bapa, Putra dan roh kudus adalah tiga pribadi dalam satu Allah? Apakah kredo itu mengatakan bahwa ketiganya setara dalam kekekalan, kekuasaan, kedudukan dan hikmat? Tidak. Dalam kredo ini, sama sekali tidak ada rumus tiga-dalam-satu. Kredo Nicea yang semula tidak menetapkan atau meneguhkan Tritunggal.
        Kredo tersebut paling-paling, hanya menyamakan sang Putra dengan sang Bapa dalam hal terbuat ”dari satu zat”. Namun, kredo itu tidak mengatakan hal tersebut sehubungan dengan roh kudus. Yang dikatakan hanyalah ”kami percaya . . . kepada Roh Kudus”. Itu bukan doktrin Tritunggal dari Susunan Kristen.
        Bahkan frasa kunci ”dari satu zat” (ho•mo•ou′si•os) tidak harus mengartikan bahwa konsili tersebut percaya akan kesetaraan sang Bapa dan sang Putra secara bilangan. New Catholic Encyclopedia menyatakan:
        ”Benar-benar diragukan apakah Konsili itu bermaksud meneguhkan identitas bilangan dari zat sang Bapa dan sang Putra.”4
        Andai kata konsili tersebut memaksudkan bahwa Putra dan sang Bapa secara bilangan adalah satu, itu tetap bukan suatu Tritunggal. Itu hanya dua-dalam-satu Allah, bukan tiga-dalam-satu seperti yang dituntut oleh doktrin Tritunggal.
        ”Sudut Pandangan Minoritas”
        Di Nicea, apakah para uskup pada umumnya percaya bahwa sang Putra setara dengan Allah? Tidak, ada berbagai sudut pandangan yang saling bertentangan. Sebagai contoh, salah satu diajukan oleh Arius, yang mengajarkan bahwa sang Putra memiliki permulaan tertentu dalam waktu dan oleh karenanya, ia tidak setara dengan Allah, melainkan lebih rendah dalam segala hal. Di lain pihak, Athanasius percaya bahwa sang Putra setara dengan Allah dalam hal tertentu. Namun, masih ada pandangan lain.
        Berkenaan keputusan konsili untuk menganggap sang Putra terbentuk dari zat yang sama (konsubstansial) dengan Allah, Martin Marty menyatakan, ”Nicea sebenarnya menyatakan sudut pandangan dari suatu minoritas; penyelesaiannya tidak mudah dan tidak dapat diterima oleh banyak orang yang bukan penganut pandangan Arius.”5 Demikian pula, buku A Select Library of Nicene and Post-Nicene Fathers of the Christian Church menyatakan bahwa ”suatu pendirian dalam doktrin yang telah dirumuskan secara jelas, yang bertentangan dengan Arianisme, diterima oleh suatu minoritas saja, meskipun minoritas ini berhasil mewujudkan keinginan mereka.”6 Dan A Short History of Christian Doctrine menyatakan:
        ”Apa yang kelihatannya terutama tidak dapat diterima oleh banyak uskup dan teolog dari Timur adalah konsep yang dituangkan ke dalam kredo oleh Konstantinus sendiri, yaitu homoousios [”dari satu zat”], yang menjadi objek pertikaian dalam perselisihan selanjutnya antara kaum ortodoks dan bidah.”7
        Setelah konsili, perdebatan berlanjut selama puluhan tahun. Orang-orang yang mendukung gagasan bahwa sang Putra setara dengan Allah Yang Mahakuasa bahkan menjadi tidak populer selama beberapa waktu. Misalnya, Martin Marty mengatakan tentang Athanasius, ”Popularitasnya jatuh bangun dan ia begitu sering diasingkan [pada tahun-tahun sesudah konsili] sehingga ia benar-benar menjadi seorang commuter.”8 Athanasius melewatkan waktu bertahun-tahun dalam pembuangan karena para pejabat politik dan gereja menentang pandangannya yang menyetarakan sang Putra dengan Allah.
        Maka, sungguh keliru untuk menyatakan bahwa Konsili Nicea pada tahun 325 M. telah menetapkan atau meneguhkan doktrin Tritunggal. Apa yang belakangan menjadi ajaran Tritunggal masih belum ada pada saat itu. Gagasan bahwa Bapa, Putra dan roh kudus masing-masing adalah Allah yang sejati dan setara dalam kekekalan, kekuasaan, kedudukan dan hikmat, namun hanya satu Allah—tiga-dalam-satu Allah—tidak dibentuk oleh konsili tersebut dan tidak juga oleh Bapa-Bapa Gereja masa awal. Sebagaimana dijelaskan oleh The Church of the First Three Centuries:
        ”Doktrin Tritunggal modern yang populer . . . tidak mendapat dukungan dari tulisan-tulisan Justinus [Martyr]: dan pengamatan ini dapat diluaskan kepada semua Bapa pra-Nicea; yaitu, kepada semua penulis Kristen selama tiga abad setelah kelahiran Kristus. Memang benar, mereka berbicara tentang Bapa, Putra dan Roh nubuat atau Roh Kudus, namun bukan sebagai pribadi yang setara, bukan sebagai satu zat secara numerik, bukan sebagai Tiga di dalam Satu, menurut pengertian apa pun yang sekarang diakui oleh para penganut Tritunggal. Faktanya adalah justru kebalikannya. Doktrin Tritunggal, seperti dijelaskan oleh Bapa-Bapa ini, benar-benar berbeda dari doktrin modern. Ini kami nyatakan sebagai suatu fakta yang dapat dibuktikan sebagaimana halnya dengan fakta mana pun dalam sejarah pendapat manusia.”
        ”Kami menantang siapa pun untuk menunjukkan satu orang saja dari penulis-penulis kenamaan, selama tiga abad pertama, yang menganut doktrin ini [Tritunggal] sebagaimana yang dipercayai dewasa ini.”9
        Namun, Nicea memang menjadi suatu titik balik. Ia membuka peluang bagi pengakuan resmi bahwa sang Putra setara dengan sang Bapa, dan melicinkan jalan bagi gagasan Tritunggal di kemudian hari. Buku Second Century Orthodoxy, oleh J. A. Buckley, menyatakan:
        ”Setidaknya hingga akhir abad kedua, Gereja secara keseluruhan tetap dipersatukan dalam satu pengertian dasar; mereka semua menerima keunggulan sang Bapa. Mereka semua menghormati Allah Bapa Yang Mahakuasa sebagai satu-satunya yang mahatinggi, tidak berubah-ubah, tidak terkatakan dan tanpa permulaan . . .
        ”Dengan meninggalnya para penulis dan pemimpin abad kedua, Gereja mendapati diri . . . tergelincir, perlahan tetapi pasti, ke arah itu . . . yang pada Konsili di Nicea, telah dicapai titik kulminasi dari seluruh pengikisan bertahap dari iman yang sejati. Di sana, segelintir minoritas yang mudah meledak emosinya, secara licik memaksakan bidahnya kepada mayoritas yang secara pasif setuju saja, dan dengan para penguasa politik di belakangnya, mereka ini memaksa, membujuk dan mengintimidasi orang-orang yang berupaya keras mempertahankan kemurnian iman mereka dari noda apa pun.”10
        Konsili Konstantinusopel
        Pada tahun 381 M., Konsili Konstantinusopel meneguhkan Kredo Nicea. Dan konsili itu menambahkan hal-hal lain lagi. Roh kudus disebut sebagai ”Tuhan” dan ”pemberi kehidupan”. Kredo tahun 381 M. yang telah dikembangkan itu (yang pada dasarnya digunakan di gereja-gereja dewasa ini dan yang disebut ”Kredo Nicea”) memperlihatkan bahwa Susunan Kristen berada di ambang perumusan dogma Tritunggal yang lengkap. Namun, konsili ini pun masih belum menyelesaikan doktrin tersebut. New Catholic Encyclopedia mengakui:
        ”Sungguh menarik bahwa 60 tahun setelah Nicea I, Konsili Konstantinusopel I [381 M.] menghindari homoousios sehubungan dengan definisinya tentang keilahian Roh Kudus.”11
        ”Para sarjana telah dibingungkan

      • rambam said,

        July 6, 2009 at 12:39 pm

        Posting terpenggal dilanjutkan……
        ”Para sarjana telah dibingungkan oleh pernyataan yang lemah yang tampak dalam kredo ini; sebagai contoh, tidak digunakannya kata homoousios untuk Roh Kudus sebagai sesuatu dari zat yang sama dengan sang Bapa dan Putra.”12
        Ensiklopedi yang sama mengakui, ”Homoousios tidak ada di dalam Alkitab.”13 Tidak, Alkitab tidak menggunakan kata tersebut bagi roh kudus ataupun bagi sang Putra untuk menyatakan mereka dari zat yang sama dengan Allah. Itu merupakan istilah yang tidak berdasarkan Alkitab, yang turut membentuk doktrin Tritunggal yang tidak berdasarkan Alkitab, bahkan, bertentangan dengan Alkitab.
        Bahkan setelah Konstantinusopel, berabad-abad kemudian barulah ajaran Tritunggal diterima di seluruh Susunan Kristen. New Catholic Encyclopedia mengatakan, ”Di Barat . . . orang umumnya membungkam sehubungan dengan Konstantinusopel I dan kredonya.”14 Sumber ini memperlihatkan bahwa kredo konsili tersebut baru diakui secara luas di Barat pada abad ketujuh atau kedelapan.
        Para sarjana juga mengakui bahwa Kredo Athanasia, yang sering dikutip sebagai dasar definisi dan pendukung Tritunggal, tidak ditulis oleh Athanasius tetapi oleh seorang pengarang yang tidak dikenal, jauh di kemudian hari. The New Encyclopædia Britannica mengomentari:
        ”Kredo itu baru dikenal oleh Gereja Timur pada abad ke-12. Sejak abad ke-17, para sarjana pada umumnya setuju bahwa Kredo Athanasia tidak ditulis oleh Athanasius (meninggal tahun 373) tetapi mungkin disusun di Perancis Selatan pada abad ke-5. . . . Pengaruh kredo itu tampaknya terutama ada di Perancis Selatan dan Spanyol pada abad ke-6 dan ke-7. Ini digunakan dalam liturgi gereja di Jerman pada abad ke-9 dan kira-kira tidak lama setelah itu di Roma.”15
        Bagaimana Tritunggal Berkembang
        Doktrin Tritunggal memulai perkembangannya yang lamban selama jangka waktu berabad-abad. Gagasan Allah tiga serangkai dari para filsuf Yunani seperti Plato, yang hidup beberapa abad sebelum Kristus, secara bertahap menyusup ke dalam ajaran gereja. Sebagaimana dikatakan The Church of the First Three Centuries:
        ”Kami menegaskan bahwa doktrin Tritunggal dibentuk secara bertahap dan baru belakangan terhitung; bahwa ia berasal dari sumber yang sama sekali tidak dikenal dalam Kitab-Kitab Suci Yahudi maupun Kristen; bahwa ia tumbuh, dan dicangkokkan ke dalam kekristenan, melalui tangan Bapa-Bapa pengikut Plato; bahwa pada masa Justinus, dan lama sesudahnya, sifat yang khas dan kedudukan yang lebih rendah dari sang Putra diajarkan secara universal; dan bahwa setelah itu, hanya garis besar pertama yang samar-samar dari Tritunggal menjadi kelihatan.”16
        Sebelum Plato, allah-allah tiga serangkai, atau trinitas, dikenal luas di Babilon dan Mesir. Dan upaya tokoh-tokoh gereja untuk memikat orang-orang yang tidak percaya di dunia Roma menyebabkan beberapa gagasan tersebut dimasukkan secara bertahap ke dalam kekristenan. Ini akhirnya mengarah kepada diterimanya keyakinan bahwa sang Putra dan roh kudus setara dengan sang Bapa.
        Bahkan, kata ”Tritunggal” pun diterima secara lambat. Pada bagian akhir abad kedua, Theophilus, uskup dari Antiokhia di Siria, menulis dalam bahasa Yunani dan memperkenalkan kata tri•as′, yang artinya ”tiga serangkai”, atau ”tritunggal”. Kemudian, Tertullianus, seorang penulis Latin di Kartago, Afrika Utara, memperkenalkan dalam tulisannya kata trinitas, yang berarti ”tritunggal”. Namun, kata tri•as′ tidak didapati dalam Kitab-Kitab Yunani Kristen yang terilham, dan kata trinitas tidak didapati dalam Vulgate, Alkitab terjemahan bahasa Latin. Tidak satu pun dari istilah-istilah tersebut didasarkan atas Alkitab. Namun, kata ”Tritunggal” yang didasarkan atas konsep-konsep kafir, menyusup ke dalam lektur-lektur gereja dan setelah abad keempat, menjadi bagian dari dogma mereka.
        Jadi, para sarjana sebenarnya tidak memeriksa Alkitab dengan saksama untuk melihat apakah doktrin sedemikian diajarkan di dalamnya. Sebaliknya, politik sekular dan gerejalah yang terutama menetapkan doktrin tersebut. Dalam buku The Christian Tradition, pengarang Jaroslav Pelikan menarik perhatian kepada ”faktor-faktor non-teologis dalam debat itu, yang banyak di antaranya kelihatan selalu siap untuk memutuskan hasilnya, namun akhirnya tetap dibatalkan oleh kekuasaan lain yang sama seperti mereka. Doktrin sering kelihatan sebagai korban—atau produk—dari politik gereja dan dari konflik kepribadian.”17 Profesor E. Washburn Hopkins dari Yale menyatakan sebagai berikut, ”Definisi yang terakhir dan ortodoks dari tritunggal sebagian besar merupakan masalah politik gereja.”18
        Betapa tidak masuk akal doktrin Tritunggal dibandingkan dengan pengajaran Alkitab yang sederhana bahwa Allah mahatinggi dan tidak ada yang setara dengan-Nya! Sebagaimana Allah katakan, ”kepada siapakah kamu hendak menyamakan Aku, hendak membandingkan dan mengumpamakan Aku, sehingga kami sama?”—Yesaya 46:5.
        Apa yang Ditunjukkannya
        Apa yang ditunjukkan oleh perkembangan bertahap dari dokrin Tritunggal? Itu merupakan bagian kemurtadan dari kekristenan yang sejati yang Yesus nubuatkan. (Matius 13:24-43) Rasul Paulus juga telah menubuatkan datangnya kemurtadan:
        ”Waktunya pasti akan datang, bahwa sebaliknya daripada berpuas dengan ajaran yang sehat, orang-orang akan menaruh minat yang sangat besar kepada hal-hal yang paling baru dan akan mengumpulkan guru-guru menurut selera mereka sendiri; dan kemudian, sebaliknya daripada mendengarkan kepada kebenaran, mereka akan berpaling kepada mitos.”—2 Timotius 4:3, 4, Chatolic Jerusalem Bible.
        Salah satu mitos adalah ajaran Tritunggal. Beberapa mitos lain yang asing bagi kekristenan juga berkembang secara bertahap, yaitu: jiwa manusia yang tidak berkematian sejak lahir, api penyucian, Limbo (tempat penyucian bagi jiwa orang mati yang belum dibaptis), dan penyiksaan kekal di api neraka.
        Maka, apa gerangan doktrin Tritunggal? Itu sesungguhnya adalah doktrin kafir yang menyamar sebagai doktrin Kristen. Itu diperkembangkan oleh Setan untuk memperdayakan orang-orang, untuk menjadikan Allah begitu membingungkan dan misterius bagi mereka. Akibatnya, mereka juga mudah menerima berbagai gagasan agama palsu dan praktik-praktik yang salah lainnya.
        ”Dari Buahnya”
        Di Matius 7:15-19, Yesus mengatakan bahwa Anda dapat membedakan agama yang palsu dan agama yang sejati dengan cara berikut ini:
        ”Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedangkan pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik . . . Setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.”
        Perhatikan satu contoh. Yesus berkata di Yohanes 13:35, ”Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-muridKu, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” Juga, di 1 Yohanes 4:20 dan 21, Firman Allah yang terilham menyatakan:
        ”Jikalau seorang berkata: ’Aku mengasihi Allah’, dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.”
        Coba terapkan prinsip dasar ini, bahwa kristiani sejati harus memiliki kasih di antara mereka, kepada apa yang terjadi pada dua perang dunia di abad ini, maupun konflik-konflik lainnya. Orang-orang dari agama yang sama dari Susunan Kristen berhadap-hadapan di medan perang dan saling membantai karena perbedaan kebangsaan. Masing-masing pihak mengaku Kristen, dan masing-masing pihak didukung oleh kaum pendetanya sendiri, yang mengaku bahwa Allah berada di pihak mereka. Pembantaian ”orang Kristen” oleh ”orang Kristen” merupakan buah yang buruk. Ini melanggar kasih Kristen, menyangkal hukum-hukum Allah.—Lihat juga 1 Yohanes 3:10-12.
        Hari Perhitungan
        Maka, kemurtadan dari kekristenan bukan hanya mengarah kepada keyakinan yang tidak saleh, seperti doktrin Tritunggal, tetapi juga kepada praktik-praktik yang tidak saleh. Namun, akan tiba suatu hari perhitungan, seperti Yesus katakan, ”Setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.” Itulah sebabnya Firman Allah mendesak:
        ”Pergilah kamu, hai umatKu, pergilah dari padanya [agama palsu] supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan supaya kamu jangan turut ditimpa malapetaka-malapetakanya. Sebab dosa-dosanya telah bertimbun-timbun sampai ke langit, dan Allah telah mengingat segala kejahatannya.”—Wahyu 18:4, 5.
        Segera Allah akan ’menggerakkan hati’ para penguasa politik untuk berbalik menentang agama palsu. Mereka akan ”membuat dia menjadi sunyi dan . . . akan memakan dagingnya dan membakarnya dengan api”. (Wahyu 17:16, 17) Agama palsu beserta filsafat-filsafat kafirnya tentang Allah akan dibinasakan untuk selama-lamanya. Sesungguhnya, Allah akan berkata kepada orang-orang yang mempraktikkan agama palsu seperti yang Yesus katakan di zamannya, ”Rumahmu ini akan ditinggalkan.”—Matius 23:38.
        Agama yang sejati akan luput dari hukuman Allah, sehingga, akhirnya, segala hormat dan kemuliaan akan diberikan kepada Pribadi yang Yesus katakan sebagai ”satu-satunya Allah yang benar”. Dialah Pribadi yang dinyatakan oleh pemazmur yang mengumandangkan, ”Engkau sajalah yang bernama Yehuwa, Yang Mahatinggi atas seluruh bumi.”—Yohanes 17:3; Mazmur 83:19.

        Pustaka Acuan

        Bagian 1—Apakah Yesus dan Murid-muridnya Mengajarkan Doktrin Tritunggal?
        1. The Catholic Encyclopedia, 1912, Jilid XV, halaman 47.
        2. The Baptist Encyclopædia, diedit oleh William Cathcart, 1883, halaman 1168, 1169.
        3. A Short History of Christian Doctrine, oleh Bernhard Lohse, Edisi 1980, halaman 53.
        4. Ibid., halaman 64, 65.
        5. The Church Teaches, diterjemahkan dan diedit oleh John F. Clarkson, S.J., John H. Edwards, S.J., William J. Kelly, S.J., dan John J. Welch, S.J., 1955, halaman 125-127.
        6. Ibid., halaman 125.
        7. The Triune God, oleh Edmund J. Fortman, Edisi 1982, halaman 126.
        8. On the Incarnation, diterjemahkan oleh Penelope Lawson, Edisi 1981, halaman 27, 28.
        9. The Encyclopedia of Religion, Mircea Eliade, kepala editor, 1987, Jilid 15, halaman 54.
        10. The New Encyclopædia Britannica, Edisi ke-15, 1985, Jilid 11, Micropædia, h.a 928.
        11. New Catholic Encyclopedia, 1967, Jilid XIV, halaman 295.

        Bagian 2—Apakah Bapa-Bapa Rasuli (The Apostolic Fathers) Mengajarkan Doktrin Tritunggal?
        1. The New Encyclopædia Britannica, Edisi ke-15, 1985, Micropædia, Jilid 1, halaman 488.
        2. A Dictionary of Christian Theology, diedit oleh Alan Richardson, 1969, halaman 95; The New Encyclopædia Britannica, Edisi ke-15, 1985, Micropædia, Jilid 4, halaman 79.
        3. The Apostolic Fathers, Jilid 3, oleh Robert A. Kraft, 1965, halaman 163.
        4. Ibid., halaman 166-7.
        5. The Influence of Greek Ideas on Christianity, oleh Edwin Hatch, 1957, halaman 252.
        6. The Ante-Nicene Fathers, Alexander Roberts dan James Donaldson, editor-editor, American Reprint of the Edinburgh Edition, 1885, Jilid I, halaman 5, 16, 21.
        7. The Library of Christian Classics, Jilid 1, Early Christian Fathers, diterjemahkan dan diedit oleh Cyril C. Richardson, 1953, halaman 70-1.
        8. Ibid., halaman 60.
        9. The Ante-Nicene Fathers, Jilid I, halaman 52.
        10. Ibid., halaman 58.
        11. Ibid., halaman 62.
        12. Ibid., halaman 108.
        13. Ibid., halaman 116.
        14. Ibid., halaman 53.
        15. The Apostolic Fathers, Jilid 4, oleh Robert M. Grant, 1966, halaman 63.
        16. The Ante-Nicene Fathers, Jilid I, halaman 46-7; Cyclopedia of Biblical, Theological, and Ecclesiastical Literature, oleh John McClintock dan James Strong, dicetak ulang oleh Baker Book House Co., 1981, Jilid IV, halaman 490-3; The Catholic Encyclopedia, 1910, Jilid VII, halaman 644-7.
        17. The Ante-Nicene Fathers, Jilid I, halaman 35.
        18. Ibid., halaman 33.
        19. The Ante-Nicene Fathers, Jilid II, halaman 27, 35.
        20. The Apostolic Fathers (Loeb’s Classical Library) dengan Terjemahan Bahasa Inggris oleh Kirsopp Lake, 1976, halaman 249.
        21. Early Christian Doctrines, oleh J. N. D. Kelly, Edisi Kedua, 1960, halaman 94-5.

        Bagian 3—Apakah Para Apologis Mengajarkan Doktrin Tritunggal?
        1. A Short History of the Early Church, oleh Harry R. Boer, 1976, halaman 110.
        2. The Formation of Christian Dogma, oleh Martin Werner, 1957, halaman 125.
        3. The Search for the Christian Doctrine of God, oleh R. P. C. Hanson, 1988, halaman 64.
        4. The Church of the First Three Centuries, oleh Alvan Lamson, 1869, halaman 70-1.
        5. Gods and the One God, oleh Robert M. Grant, 1986, halaman 109, 156, 160.
        6. The Formation of Christian Dogma, halaman 122, 125.
        7. The International Standard Bible Encyclopedia, 1982, Jilid 2, halaman 513.
        8. An Essay on the Development of Christian Doctrine, oleh John Henry Cardinal Newman, Edisi Keenam, 1989, halaman 14-18.
        9. The Ante-Nicene Fathers, diedit oleh Alexander Roberts dan James Donaldson, Edisi Edinburgh yang dicetak ulang di Amerika, 1885, Jilid I, halaman 264.
        10. Ibid., halaman 184.
        11. The Ante-Nicene Fathers, Jilid 1, halaman 223.
        12. Ibid., halaman 164.
        13. A Short History of Christian Doctrine, oleh Bernhard Lohse, diterjemahkan dari bahasa Jerman oleh F. Ernest Stoeffler, 1963, cetakan kedua, 1980, halaman 43.
        14. An Essay on the Development of Christian Doctrine, halaman 20.
        15. The Church of the First Three Centuries, halaman 73-4, 76.
        16. The Ante-Nicene Fathers, Jilid II, halaman 234.
        17. Ibid., halaman 227.
        18. Ibid., halaman 228.
        19. Ibid.
        20. Ibid., halaman 593.
        21. Ibid.
        22. Ibid., halaman 524.
        23. The Church of the First Three Centuries, halaman 124-5.
        24. Ibid., halaman 95.
        25. The Early Church, oleh Henry Chadwick, cetakan 1980, halaman 89.
        26. The Ante-Nicene Fathers, Jilid III, halaman 487.
        27. Ibid., halaman 603-4.
        28. Ibid., halaman 478.
        29. An Essay on the Development of Christian Doctrine, halaman 19, 20.
        30. The Church of the First Three Centuries, halaman 108-9.
        31. The Ante-Nicene Fathers, Jilid IV, halaman 560.
        32. The Church of the First Three Centuries, halaman 75-6.

        Bagian 4—Kapan dan Bagaimana Doktrin Tritunggal Berkembang?
        1. Encyclopædia Britannica, 1971, Jilid 6, halaman 386.
        2. A Short History of Christian Doctrine, oleh Bernhard Lohse, 1963, halaman 51.
        3. Ibid., halaman 52-3.
        4. New Catholic Encyclopedia, 1967, Jilid VII, halaman 115.
        5. A Short History of Christianity, oleh Martin E. Marty, 1959, halaman 91.
        6. A Select Library of Nicene and Post-Nicene Fathers of the Christian Church, oleh Philip Schaff dan Henry Wace, 1892, Jilid IV, halaman xvii.
        7. A Short History of Christian Doctrine, halaman 53.
        8. A Short History of Christianity, halaman 91.
        9. The Church of the First Three Centuries, oleh Alvan Lamson, 1869, halaman 75-6, 341.
        10. Second Century Orthodoxy, oleh J. A. Buckley, 1978, halaman 114-15.
        11. New Catholic Encyclopedia, 1967, Jilid VII, halaman 115.
        12. Ibid., Jilid IV, halaman 436.
        13. Ibid., halaman 251.
        14. Ibid., halaman 436.
        15. The New Encyclopædia Britannica, 1985, Edisi ke-15, Micropædia, Jilid 1, halaman 665.
        16. The Church of the First Three Centuries, halaman 52.
        17. The Christian Tradition, oleh Jaroslav Pelikan, 1971, halaman 173.
        18. Origin and Evolution of Religion, oleh E. Washburn Hopkins, 1923, halaman 339.

      • Jonah said,

        July 7, 2009 at 2:40 am

        Freewillie said,

        Jonah tanggap:
        Aku heran kok kalian saling “beradu-kambing” antar ayat-ayat Alkitab untuk membuktikan mana benar mana salah!? Emangnya Alkitab itu saling bertentangan (kontradiksi/kontroversi) dalam dirinya apa? Jangan takabur dan sok Ahli Kitab, Bung! Di atas langit masih ada lagi langit. Ingat: tidak ada dua kebenaran sekaligus untuk sesuatu yg kelihatannya bertentangan. Jadi, coba perluas wawasanmu, carilah titik temu untuk apa yg kelihatannya bertentangan itu, miliki sudut pandang holistik tentang itu dengan riset dan banyak membaca terutama bacaan2 dari para penulis yg netral dan kompeten semisal himpunan molokana dan ensiklopedi2. Dan tentu saja, jangan pernah lupa Buku Utama kita, Alkitab Suci. Bacalah keseluruhan isinya (Kejadian s/d Wahyu) minimal 10x seumur hidupmu dan lihatlah betapa bijaksananya kamu…

      • freewillie said,

        July 9, 2009 at 3:59 pm

        @Rambam:

        Saya ini seperti sedang baca versi terbaru dari traktat “Haruskah Anda Percaya Kepada Tritunggal”.

        Poin2 anda adalah:
        (1) Di mana kata “Tritunggal” ini ada di dalam Alkitab?
        (2) Di mana Alkitab mengajarkan “Tritunggal”?
        (3) Apakah Bapak2 Rasuli mengajarkan Tritunggal?
        (4) Apakah Bapak2 dari garis Apologis mengajarkan Tritunggal?
        (5) Doktrin Logos Tritunggal adalah Doktrin Platonisme kafir Helenis.
        (6) Konsili Nicea dan Konstantinopel memaksakan Tritunggal

        Untuk poin (1), (2), (5), dan (6) sudah saya bahas habis2an di forum http://www.ladangtuhan.com
        Anda bisa mencari di sana untuk mudahnya.

        Tapi di blog saya ini, saya mau fokus kepada The Apostolic Fathers dan the Apologists dulu mengenai Tritunggal. Saya sudah post sebelumnya, tapi tidak ada salahnya saya ulangi lagi poin2 pentingnya. Memang belum saya tanggapi semua nama Bapak2 Gereja yg anda sebutkan, karena akan dibahas bertahap disesuaikan dengan waktu saya. Okay dimulai saja.

        Apakah Bapak2 Gereja Mengajarkan Tritunggal?

        Untuk mengetahuinya mari kita cek sekali lagi tulisan The Apostolic Fathers.

        Ignatius dari Antiokhia (murid langsung Rasul Yohanes Penginjil):

        Ignatius, yang notebene adalah murid Rasul Yohanes dan ditahbiskan oleh Rasul Petrus menjadi pemimpin Gereja Antiokhia, menyebut Yesus sebagai Allah-Nya. Di samping itu Ignatius yang menerima pengajaran secara langsung dari rasul Yohanes juga menyebut Yesus sebagai Firman Allah yang kekal:

        “Allah itu esa yang menyatakan diri-Nya sendiri dalam Yesus Kristus Anak-Nya, yaitu FIRMAN-NYA YANG KELUAR DARI KEHENINGAN KEKAL..” (Epistle to the Magnesians, sebagaimana termuat dalam J.B. Lighfoot – J.R. Harmer, “The Apostolic Fathers”, Michigan: Baker Book House, 1984, pp.114)

        Perhatikan kalimat Ignatius “Yesus Kristus Anak-Nya, yaitu Firman-Nya yan keluar dari keheningan KEKAL”. Tentu saja ini berarti bahwa Sang Firman (Logos) yang disebut Anak Allah itu sendiri adalah kekal, sehingga Ia (Logos) adalah BUKAN CIPTAAN (seperti pada ajaran Arianisme, Saksi Yehuwa, dan Unitarianisme). Karena Yesus dalam kodrat-Nya sebagai Firman Allah adalah kekal, maka TIDAK ADA WAKTU DI MANA IA TIDAK ADA. Dan ini menghujam keras doktrin Saksi Yehuwa yg mengatakan bahwa Yesus adalah ciptaan sehingga konsekuensi logisnya adalah bahwa ADA WAKTU DI MANA YESUS/FIRMAN ALLAH TIDAK ADA; ADA WAKTU DI MANA ALLAH YEHUWA TIDAK PUNYA FIRMAN ALIAS BISU. Stop menghujat Yehuwa dengan doktrin sesat saksi Yehuwa yg mengatakan Firman adalah ciptaan!

        Karena itulah, Yesus yg kekal bersama Bapa ini kemudian disebut sebagai Alpha-Omega, dan tidak ada yang disebut demikian kecuali Allah itu sendiri karena HANYA ALLAH SENDIRI YANG KEKAL. Hal itu ditegaskan kembali oleh Ignatius dari Antiokhia sebagai berikut:

        “… YESUS KRISTUS, ALLAH YANG MEMBUAT KAMU BIJAKSANA, TUHAN KITA, yang menurut daging sungguh-sungguh keturunan Daud, dan menurut kehendak dan kekuatan Allah adalah Anak Allah, sungguh-sungguh dilahirkan dari seorang perawan” (Epistle to the Smyrnaeans 1:1, J.B. Lighfoot – J.R. Harmer, ibid, pp.128)

        Mari lanjut ke murid Rasul Yohanes yang lain.

        Polikarpus dari Smyrna (murid Rasul Yohanes)

        “Jika kita kemudian memohon kepada Tuhan untuk mengampuni kita, kita sebaliknya juga harus mengampuni; karena kita berada di depan mata TUHAN DAN ALLAH KITA, dan ’kita semua harus hadir pada tahta pengadilan KRISTUS, dan setiap orang harus memberikan catatannya sendiri-sendiri’]” (Epistle to the Phillipians 6)

        Menurut Polikarpus yang notabene adalah juga murid langsung dari rasul Yohanes, Yesus adalah Tuhan dan Allah, dan Yesus-lah yang nantinya akan menjadi hakim pada pengadilan akhir, sementara Perjanjian Lama dan tradisi Judaisme sendiri menyaksikan bahwa pengadilan akhir adalah hak prerogatif Allah seorang dan Yahwe sendirilah yang akan turun sebagai Hakim: “Maka pada hari itu YEHUWA akan menghukum tentara langit di langit dan raja-raja bumi di atas bumi.” (Yesaya 24:21)

        Mari lanjut ke Irenaeus dari Lyon

        Irenaeus dari Lyon (murid Polikarpus)

        “Karena Gereja, meskipun tersebar diseluruh dunia sampai ke ujung bumi, telah menerima dari para rasul serta dari murid-murid para rasul akan iman akan satu Allah, Sang Bapa Maha Kuasa… dan dalam satu Yesus Kristus, Anak Allah, yang menjadi manusia demi keselamatan kita, dan kepada Roh Kudus… serta beriman kepada kedatangan, kelahiran Yesus dari seorang perawan, penderitaan dan kebangkitanNya dari antara orang mati, dan kenaikan secara badai dari Tuhan kita Yesus Kristus yang terkasih dan kedatanganNya yang kedua kali… SUPAYA DIA (YESUS KRISTUS MENJADI HAKIM YANG ADIL ATAS SEMUA ORANG” (Against Heresies 1:10:1)

        Menurut Irenaeus yang notebene adalah murid dari Polikarpus, Yesus Kristus adalah Putra Allah, bukan dalam artian adopsi, melainkan berdasarkan kodrat-Nya sebagai Firman Allah yang menjadi manusia. Dan karena Irenaeus adalah sama-sama menerima pengajarannya dari garis rasul Yohanes, maka secara logis, tentu pandangan Irenaeus tentang frase “Anak Allah” adalah sama dengan pengertian “Anak Allah” yang dipahami oleh Ignatius dari Antiokhia yaitu bahwa “Anak Allah” adalah “Firman Allah yang kekal dan bukan ciptaan melainkan adalah Allah itu sendiri”.

        Dan tentu saja, pernyataan Irenaus bahwa Yesus Kristus adalah hakim pada pengadilan terakhir adalah paralel dengan pengajaran gurunya, yakni Polikarpus, dan dengan demikian menegaskan kembali bahwa Yesus adalah Allah itu sendiri (Yesaya 24:21).

        Selain itu, Irenaeus juga mengajarkan bahwa Yesus Kristus, Sang Firman Allah, adalah KEKAL dan BUKAN CIPTAAN:

        “..yang oleh Firman-Nya, yaitu Anak-Nya, telah menyatakan diri-Nya sendiri di atas segala sesuatu, sehingga kita mengenal Allah hanya melalui Firman itu. Firman Allah secara kekal ada bersama Sang Bapa, yang terdahulu, dan yang TIDAK DIAWALI OLEH WAKTU” (Against Heresies II:30:9, seperti termuat dalam Alexander Roberts – James Donaldson, “The Writings of the Fathers Down to A.D. 325 Ante Nicene Fathers”, Massachusetts: Hendrocson Publishers, 1995, pp. 303)

        Lagi2 menghujam keras doktrin Saksi Yehuwa bahwa Yesus adalah ciptaan yang memiliki awal waktu.

        Sekarang mari lanjut ke penipuan-penipuan Saksi Yehuwa yang lain dalam halaman 7 traktat “Haruskah Anda Percaya Kepada Tritunggal” yang memelintir omongan Bapak2 Gereja.

        Yustinus Syuhada (Justin Martyr)

        Saksi-saksi (palsu) Yehuwa menulis bahwa Yustinus Syuhada (100-167 M) tidak mengakui pra-eksistensi Yesus sebagai Allah, tetapi sebagai “malaikat yang diciptakan”, “tidak sama dengan Allah yang menciptakan segala perkara”, dan Yesus lebih rendah dari Allah, karena itu Ia “tidak melakukan sesuatu kecuali yang Pencipta…ingin ia lakukan dan katakan”. Kutipan ini adalah lepas konteks dan bohong sebab justru Yustinus Syuhada menyebut Yesus itu “bukan ciptaan”, melainkan bahwa:

        “..FIRMAN ALLAH ADALAH SUNGGUH ALLAH. Dan di masa lalu Ia menampakkan diri dalam wujud api dan dalam rupa seorang malaikat kepada Musa dan nabi-nabi lain. Namun sekarang dalam masa pemerintahanmu, telah, seperti yang kita katakan sebelumnya, menjadi Manusia melalui seorang perawan.” (I Apology 63, dalam Alexander Roberts – James Donaldson, “The Writings of the Fathers Down to A.D. 325 Ante Nicene Fathers”, Massachusetts: Hendrocson Publishers, 1995, pp. 184)

        Oleh karena itu, Yustinus Syuhada tidak ragu untuk menyembah Firman Allah yang adalah Allah ini:

        “Karena di samping Allah, KAMI MEMUJA dan mengasihi SANG FIRMAN, yang keluar dari Allah, DAN TIDAK DICIPTAKAN, dan yang kebesaran-Nya tidak terhingga. Karena Ia telah menjadi Manusia demi kita, dan turut menderita bersama kita, agar Ia membawa kesembuhan bagi kita.” (II Apology 13, ibid. pp. 193)

        Jadi, lagi2 menghujam keras ajaran Saksi Yehuwa bahwa Yesus adalah ciptaan. Justru Yustinus Syuhada menegaskan bahwa Yesus, Sang Firman, adalah BUKAN CIPTAAN, yang akhirnya bermuara pada syadahat Nicea bahwa Yesus adalah “dilahirkan dan bukan diciptakan” (gennethenta ou poiethenta).

        Saksi Yehuwa mengutip secara serampangan Yesus sebagai “Malaikat yang diciptakan” hanya dari tulisan Yustinus Syuhada dalam “Dialogue With Thrypo 36″. Yustinus Syuhada menyebut Yesus, Sang Firmn, sebagai “Sang Malaikat” dan “Sang Rasul”, tetapi konteksnya bukan dalam makna ciptaan.

        Yustinus Syuhada sebagaimana Bapak2 Gereja yang lain menafsirkan bahwa Malaikat TUHAN (malak YHWH) yang menampakkan diri kepada Musa dalam wujud api di semak duri adalah YHWH sendiri. Alasannya, karena Malaikat TUHAN dalam Keluaran 3:2 akhirnya diidentikkan dengan YHWH, dan disebutkan bahwa Allah sendiri yang berseru: “Musa, Musa!”, dan jawab Musa: “Ya ALLAH” (Keluaran 3:4). Meskipun tidak semua teolog sepakat dengan tafsiran ini, tetapi itulah yang dipahami oleh Yustinus Syuhada.

        Dan pukulan yang paling telak adalah Yustinus Syuhada menuliskan alasannya mengapa ia menuliskan itu semua dalam “Dialogue With Trypho 36″ sebagai berikut:

        “Saya ingin melakukan itu UNTUK MEMBUKTIKAN bahwa YESUS, Dia disebut BAIK SEBAGAI ALLAH maupun Tuhan semesta alam…” (ibid. pp. 212)

        Lanjut ke Bapak Gereja lain yang dikutip Saksi (palsu) Yehuwa.

        Clement dari Alexanderia

        Selanjutnya mereka juga berbohong ketika mengutip tulisan Bapak Gereja Clement dari Alexanderia. Mereka menulis, bahwa Clement mengakui “pramanusia Yesus sebagai suatu ciptaan”, tetapi menyebut Allah sebagai “yang tidak diciptakan dan tidak dapat binasa dan satu-satunya Allah yang benar”. Memang Clement menegaskan keesaan Allah, tetapi hal itu tidak dipertentangkan dengan keilahian Yesus sebagai Firman-Nya. Bahkan Clement dengan tegas menolak bahwa Yesus adalah ciptaan yang tidak kekal:

        “Kini, pengetahuan itu tidak tanpa iman, tidak pula iman itu tanpa pengetahuan. Sang Bapa TIDAK PERNAH ADA TANPA Sang Anak, karena Sang Anak adalah selalu bersama Sang Bapa” (Stromata 5:1)

        Sebagaimana Bapa adalah kekal dan tanpa diawali dan diakhiri oleh waktu, Clement dari Alexanderia juga menekankan bahwa Sang Anak selalu secara kekal ada bersama Sang Bapa. Ini membuktikan bahwa Yesus bukanlah ciptaan, dan sekali lagi menghujam doktrin Saksi Yehuwa.

        Okay, segini dulu ya om Rambam. Sori kalau harus disambung besok karena sudah capek. Kalau mau, anda bisa memindahkan postingan anda ini ke http://www.ladangtuhan.com atau bisa dibahas di sini sana juga boleh.

        Tunggu yah :D

    • langdon said,

      July 8, 2009 at 4:41 pm

      @rambam : inilah contoh nyata ahli-ahli taurat yang sebenarnya mereka kritik. tidak bisakah bercermin? tidakkah anda lihat seekor gajah di depan mata anda? apa perlu punggung anda dipentung?

      • rambam said,

        July 9, 2009 at 6:21 am

        Hanya segitukah si homosapiens yg bernama Langdon mengomentari saya? Sungguh memalukan spesies yg satu ini! Tuhan menjadikan manusia dengan kapasitas otak yang menakjubkan, tapi Langdon tampaknya kurang beruntung: isi kepalanya sudah gembos sementara dia bersiul…

      • langdon said,

        July 9, 2009 at 8:22 am

        @rambam:
        sudah bercermin belum?

  20. kb dist said,

    April 13, 2009 at 8:33 am

    aku mw soroti poin 3 aja deh…

    memang ada banyak allah, ada banyak tuhan kok.
    alkitab bilang begitu.
    Musa juga bs disebut Allah,
    maka tidak heran Yesus juga bisa disebut sebagai ’suatu allah’

    Yesus dan murid2 lainya menginjil kemana-mana, yang penting selama ada orang ditemui. jadi jangan heran kalo kamu dikabari oleh SY di toko buku.
    mereka bahkan datang kepelosok-pelosok, ke pasar-pasar. kekantor-kantor, ke aparteme2…. dll. kalo ga senang tolak aja, kalo senang silahkan ngobrol. meraka nggak maksa…

    tapi gw maw kasi 1 pertannyaan jika Yesus adalah Allah yang harus kita sembah, karena ia adalah bagian dari Allah Tritunggal, sejak kapan kepercayaan itu masuk dalam kekristenan? sedangkan rasul-rasul sendiri percaya bahwa Yesus itu Putra Allah, Mesias, Kristus dari Allah…. hayooo tolong dijawabya… klu di suruh gabung ke forum ladangtuhan gw males.

    • freewillie said,

      June 5, 2009 at 9:03 am

      POIN 1:
      Well, kenyataannya memang gelar ‘allah’ itu sendiri memang bisa disematkan kepada manusia, TAPI sebutan ini kemudian SELALU dengan buru-buru diberikan suatu PEMBATASAN oleh penulis kitab suci untuk menunjukkan bahwa mereka bukanlah Yahwe. Ini bisa dilihat pada ayat-ayat yang dimaksud rekan saksi (palsu) Yehuwa kita:

      Berfirmanlah YEHUWA kepada Musa: “Lihat, Aku mengangkat engkau sebagai Allah bagi Firaun, dan Harun, abangmu, akan menjadi nabimu.” (Keluaran 7:1)

      Ayat di atas memang menyebut Musa sebagai Allah, tapi kemudian buru-buru diberikan BATASAN berupa kata lanjutan ”bagi Firaun” yang menunjukkan bahwa Musa bukanlah Allah sejati karena Allah sejati tidak mungkin memiliki otoritas di atas Firaun seorang melainkan berotoritas atas seluruh makhluk dan alam semesta. Arti ’Allah bagi Firaun’ sendiri memiliki arti bahwa Musa hanyalah diberikan otoritas oleh Allah untuk berbicara menegur Firaun saja.

      Sebutan Allah untuk Yesus adalah TIDAK PERNAH DIBERIKAN BATASAN, dan bahkan Injil Yohanes mengatakan bahwa Yesus dalam kodrat-Nya sebagai Firman Allah adalah pencipta alam semesta ini (Yohanes 1:3). Dan Alkitab mengajakan bahwa Yehuwa adalah 1-1nya Pencipta tanpa adanya pendamping berupa arsitek ahli macam doktrin palsu saksi Yehuwa. Karena hal inilah rasul Yohanes kemudian menyebut Yesus sebagai Allah sejati dan benar (1 Yohanes 5:20).

      POIN 2:

      Sejak kapan Tritunggal masuk dalam kekristenan? Kalo kamu bilang sejak konsili Nicea I dan dipaksakan oleh kaisar Konstantin secara tangan besi, maka jawaban saksi Yehuwa adalah SALAHA.
      Ajaran Tritunggal adalah ajaran dari para rasul itu sendiri.

      Biblical & Historical Prove

      Keilahian dan karya penebusan Kristus adalah isi pokok berita (kerygma) dari para murid setia Yesus yang disebut Para Rasul, yang menyebarkannya sesudah peristiwa turunNya Roh Kudus yang dijanjikan Kristus atas mereka, pada hari Pentakosta (Kisah Rasul 2). Kristus itulah inti Injil yang semula diberitakan secara lisan. Karena Kristus tak pernah menulis Kitab ataupun menerima Kitab dari sorga, maka Dia tak meninggalkan Kitab apapun pada para rasulNya, ini terjadi karena Dia sendiri adalah Firman Allah yang menjadi manusia (Yohanes 1:14). Lebih jauh lagi, Iman akan keilahian Kristus dan Gereja (Ekklesia) telah ada lebih dulu sebelum Kitab Suci ( Perjanjian Baru) dituliskan.

      “Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.” (2 Petrus 1:20-21)

      Setelah membaca Alkitab, muslim memandang Yesus hanya sebagai nabi biasa. Saksi Yehuwa, Arianisme, dan Unitarianisme memandang Yesus sebagai Tuhan yang posisinya 1 level di bawah Allah (demi-God / demiurgos). Mormonisme memandang Yesus sebagai Allah sejati yang benar-benar terpisah total dari Allah sang Bapa, dan sebagainya, dan sebagainya…
      Lalu siapa yang harus dipercaya? Siapa yang benar?

      Para pembaca Alkitab boleh memiliki pandangan yang berbeda atas arti Alkitab dan memelintir ayat-ayat Alkitab untuk kepentingan pribadinya, tapi semua orang waras pasti meyakini bahwa arti yang paling benar tentunya adalah yang dimaksud oleh penulis Alkitab (para rasul). Penafsiran yang paling benar akan kitab suci haruslah dengan menggunakan kacamata Para Rasul (yang menulis kitab-kitab Perjanjian Baru), dan kacamata rasuli tersebut tetap diteruskan secara turun-temurun kepada Gereja melalui garis khilafah rasuliah (suksesi apostolik) yang telah diberikan kuasa mengajar secara tidak bisa salah oleh Yesus Kristus sendiri (Matius 16:18-20) sebagai jaminan validitas suatu ajaran terhadap ke-bagaimana-an Kristus.

      Sesuai 2 Petrus 1:20-21, maka tulisan-tulisan dalam kitab suci yang diinspirasikan oleh Roh Kudus hanya bisa ditafsirkan secara tepat oleh Roh Kudus, dan Roh Kudus ini tidak ke mana-mana kecuali di dalam Gereja, karena Gereja adalah tiang penopang kebenaran dan tempat di mana kebenaran itu berada (1 Timotius 3:15). Oleh karena itu, kitab suci hanya dapat ditafsirkan secara mutlak benar oleh Gereja, dan bukan oleh bidat.

      Dan bagaimanakah pandangan para rasul dan Gereja purba tentang Yesus?

      Sudut Pandang Para Rasul Penulis Dokumen-Dokumen Perjanjian Baru Mengenai Siapa Yesus

      Rasul Petrus:

      “Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus, kepada mereka yang bersama-sama dengan kami memperoleh iman oleh karena keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.” (2 Petrus 1:1)

      Petrus menyebut Yesus sebagai Allah dan Juruselamatnya.

      Rasul Yohanes:

      “Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal.” (1 Yohanes 5:20)

      Yohanes menyebut Yesus sebagai Allah yang benar.

      Rasul Yudas Tadeus:

      “Bagi Dia, yang berkuasa menjaga supaya jangan kamu tersandung dan yang membawa kamu dengan tak bernoda dan penuh kegembiraan di hadapan kemuliaan-Nya, Allah yang esa, Juruselamat kita oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, bagi Dia adalah kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa sebelum segala abad dan sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin” (Yudas 1:24-25)

      Yudas Tadeus menyebut Yesus sebagai Allah yang esa dan Juruselamat.

      Rasul Paulus:

      “Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan, dan kamu telah dipenuhi di dalam Dia. Dialah kepala semua pemerintah dan penguasa.” (Kolose 2:9-10).

      Pandangan para rasul akan keilahian Kristus inilah yang kemudian diwariskan terus-menerus dan turun-temurun kepada murid-murid mereka dan kepada Gereja untuk terus dijaga dan dipertahankan.

      “Saudara-saudaraku yang kekasih, sementara aku bersungguh-sungguh berusaha menulis kepada kamu tentang keselamatan kita bersama, aku merasa terdorong untuk menulis ini kepada kamu dan menasihati kamu, supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus.” (Yudas 1:3)

      Frase “iman yang telah disampaikan” ini dalam bahasa aslinya adalah “hapax”, yang berarti: diwariskan oleh para rasul sekali untuk selamanya, tanpa ada penambahan maupun pengurangan. Karena itu, tentulah sangat wajar jika kita menyebut ajaran yang bertentangan dengan ajaran rasuli ini sebagai ajaran sesat jika ternyata ajaran tersebut mengurangi status Yesus sebagai “Allah sejati” (sebagaimana yang diwarisi Gereja dari Para Rasul itu sendiri) menjadi hanya sebatas “Tuhan tetapi bukan Allah” seperti yang diajarkan oleh bidat Unitarianisme dan saksi Yehuwa.
      Ajaran-ajaran itulah yang disebut sebagai ”Yesus yang lain” dan berasal dari ”roh yang lain” (2 Korintus 11:4), dan tentu saja, kitab suci sendiri sudah jelas mengutuk orang-orang yang mengajarkan “Injil yang lain” dan “Yesus yang lain” itu (Galatia 1:7-9).

      Lalu apa bukti bahwa para rasul telah mewariskan “iman yang sekali untuk selamanya” itu kepada Gereja? Tentu saja dengan melihat bagaimana pandangan murid-murid para rasul terhadap Yesus Kristus, karena memang mereka (murid-murid para rasul) diajar sendiri dan mendapatkan iman-pengetahuan mereka secara langsung dari para rasul yang menuliskan dokumen-dokumen Perjanjian Baru itu sendiri.

      Sudut Pandang Murid-Murid Para Rasul (Apostolic Fathers)

      Agar tidak terlalu banyak, maka hanya akan ditampilkan beberapa murid dari garis rasul Yohanes:

      Ignatius dari Antiokhia:

      Ignatius, yang notebene adalah murid Rasul Yohanes dan ditahbiskan oleh Rasul Petrus menjadi pemimpin Gereja Antiokhia, menyebut Yesus sebagai Allah-Nya. Di samping itu Ignatius yang menerima pengajaran secara langsung dari rasul Yohanes juga menyebut Yesus sebagai Firman Allah yang kekal:

      “Allah itu esa yang menyatakan diri-Nya sendiri dalam Yesus Kristus Anak-Nya, yaitu Firman-Nya yang keluar dari keheningan kekal..” (Epistle to the Magnesians)

      Tentu saja ini berarti bahwa Sang Firman (Logos) yang disebut Anak Allah itu sendiri adalah kekal, sehingga Ia (Logos) adalah BUKAN CIPTAAN (seperti pada ajaran Arianisme, Saksi Yehuwa, dan Unitarianisme). Karena itulah ia disebut sebagai Alpha-Omega, dan tidak ada yang disebut demikian kecuali Allah itu sendiri. Hal itu ditegaskan kembali oleh Ignatius sebagai berikut:

      ”… Yesus Kristus, Allah yang membuat kamu bijaksana, Tuhan kita, yang menurut daging sungguh-sungguh keturunan Daud, dan menurut kehendak dan kekuatan Allah adalah Anak Allah, sungguh-sungguh dilahirkan dari seorang perawan” (Epistle to the Smyrnaeans 1:1)

      Polikarpus dari Smyrna (murid Rasul Yohanes)

      “If then we entreat the Lord to forgive us, we ought also ourselves to forgive; for we are before the eyes of our Lord and God, and “we must all appear at the judgment-seat of Christ, and must every one give an account of himself.”

      Terjemahan bebas:

      “Jika kita kemudian memohon kepada Tuhan untuk mengampuni kita, kita sebaliknya juga harus mengampuni; karena kita berada di depan mata Tuhan dan Allah kita, dan ’kita semua harus hadir pada tahta pengadilan Kristus, dan setiap orang harus memberikan catatannya sendiri-sendiri’]” (Epistle to the Phillipians 6)

      Menurut Polikarpus yang notabene adalah juga murid langsung dari rasul Yohanes, Yesus adalah Tuhan dan Allah, dan Yesus-lah yang nantinya akan menjadi hakim pada pengadilan akhir, sementara Perjanjian Lama dan tradisi Judaisme sendiri menyaksikan bahwa pengadilan akhir adalah hak prerogatif Allah seorang dan Yahwe sendirilah yang akan turun sebagai Hakim:

      “Maka pada hari itu YEHUWA akan menghukum tentara langit di langit dan raja-raja bumi di atas bumi.” (Yesaya 24:21)

      Jadi Polikarpus yg menerima ajarannya dari rasul Yohanes pun juga mengatakan bahwa Yesus adalah Yehuwa yang akan mengadili jagad raya.

      Irenaeus dari Lyon (murid Polikarpus)

      “Karena Gereja, meskipun tersebar diseluruh dunia sampai ke ujung bumi, telah menerima dari para rasul serta dari murid-murid para rasul akan iman akan satu Allah, Sang Bapa Maha Kuasa… dan dalam satu Yesus Kristus, Anak Allah, yang menjadi manusia demi keselamatan kita, dan kepada Roh Kudus… serta beriman kepada kedatangan, kelahiran Yesus dari seorang perawan, penderitaan dan kebangkitanNya dari antara orang mati, dan kenaikan secara badai dari Tuhan kita Yesus Kristus yang terkasih dan kedatanganNya yang kedua kali… supaya Dia (Yesus Kristus) menjadi hakim yang adil atas semua orang” (Against Heresies 1:10:1)

      Menurut Irenaeus yang notebene adalah murid dari Polikarpus, Yesus Kristus adalah Putra Allah, bukan dalam artian adopsi, melainkan berdasarkan kodrat-Nya sebagai Firman Allah yang menjadi manusia. Dan karena Irenaeus adalah sama-sama menerima pengajarannya dari garis rasul Yohanes, maka secara logis, tentu pandangan Irenaeus tentang frase “Anak Allah” adalah sama dengan pengertian “Anak Allah” yang dipahami oleh Ignatius dari Antiokhia yaitu bahwa “Anak Allah” adalah “Firman Allah yang kekal dan bukan ciptaan melainkan adalah Allah itu sendiri”.

      Dan tentu saja, pernyataan Irenaus bahwa Yesus Kristus adalah hakim pada pengadilan terakhir adalah paralel dengan pengajaran gurunya, yakni Polikarpus, dan dengan demikian menegaskan kembali bahwa Yesus adalah Allah itu sendiri.
      Selain itu, Irenaeus juga mengajarkan bahwa Yesus Kristus, Sang Firman Allah, adalah KEKAL dan BUKAN CIPTAAN:

      “..yang oleh Firman-Nya, yaitu Anak-Nya, telah menyatakan diri-Nya sendiri di atas segala sesuatu, sehingga kita mengenal Allah hanya melalui Firman itu. Firman Allah secara kekal ada bersama Sang Bapa, yang terdahulu, dan yang tidak diawali oleh waktu” (Against Heresies II:30:9)

      Dn karena hanya ada 2 natur: Pencipta dan ciptaan, maka Yesus adalah Pencipta karena Ia bukan ciptaan. Dan Alkitab mengajarkan bahwa hanya ada 1 Pencipta saja tanpa ada pendamping yg berupa arsitek ahli atau apapun itu namanya:

      “Beginilah firman TUHAN, Penebusmu, yang membentuk engkau sejak dari kandungan; ‘Akulah TUHAN, yang menjadikan segala sesuatu, yang SEORANG DIRI membentangkan langit, yang menghamparkan bumi – SIAPAKAH YANG MENDAMPINGI AKU?” (Yesaya 44:24)

      Jadi, apa yang dapat kita pelajari?

      Pengajaran akan ke-Allah-an Yesus tersebut ternyata diteruskan turun-temurun dengan konsisten dan tanpa terputus sampai kepada Gereja masa kini yang juga mengakui bahwa Yesus adalah Allah. Tulisan-tulisan murid-murid Para Rasul yang disebut sebagai Bapak-Bapak Rasuli (The Apostolic Fathers) itu memang bukan Alkitab, tapi mereka adalah catatan-catatan sejarah yang memberikan gambaran jelas tentang apa yang diajarkan oleh Rasul Yohanes Sang Penulis Injil itu sendiri. Dan, tulisan-tulisan tersebut diakui tidak hanya oleh pihak Kristen, tapi juga oleh para skeptis yang memang tidak bisa membantah fakta sejarah.

      Silahkan dilihat basic presupposition dari komunitas Para Rasul dan komunitas Bapak-Bapak Rasuli sebagai penulis dan saksi mata dokumen-dokumen Perjanjian Baru ini tentang ke-bagaimana-an Yesus. Ini membuktikan bahwa ortodoksi Kristen yang mengajarkan mengenai Allah Tritunggal dan ke-Allah-an Yesus adalah ajaran yang dapat dibuktikan secara historis berasal dari para rasul penulis kitab suci Perjanjian Baru itu sendiri. Dan ya, saya menantang kaum Unitarianisme untuk menunjukkan bukti-bukti bahwa ajaran mereka tentang Yesus memang diajarkan sendiri oleh Bapak-Bapak Rasuli yang hidup dan berkomunitas dengan Para Rasul. Silahkan dibuktikan kalau memang mampu.

      Silahkan tampilkan kepada saya tafsiran-tafsiran yang sok Yunani, sok Ibrani, sok Aramaika, atau apalah dari teolog abad 21 dengan gelar apapun macam Tom Jacobs dan kawan-kawannya, tapi logika yang waras tentu akan lebih menerima pengertian Para Rasul dan pengertian murid-murid dari Para Rasul dari abad pertama yang menulis dan berbicara dalam konteks bahasa Yunani pada waktu yang sama dengan dokumen-dokumen Perjanjian Baru itu ditulis.

      Atau ada yang mau main badut-badutan dengan mengaku lebih tahu maksud dari Injil Yohanes daripada rasul Yohanes dan murid-muridnya yang menerima pengajaran dari rasul Yohanes itu sendiri? Bercanda jangan kebangetan.

  21. erlinus zan said,

    April 17, 2009 at 7:47 am

    Apakah Bapa sama Anak sama?
    Markus 13:32 Ayat ini menjelaskan bahwa Bapa sendiri yang mengetahui kapan persisnya akhir dari zaman ini, Yesus tidak mengetahui. Ada perbedaan pengetahuan.
    Yakobus 1:13 Ayat ini merujuk bahwa Allah tidak akan pernah bisa dicobai sijahat.Kita tahu bahwa Yesus dicobai oleh sijahat. Perbedaan yang cukup mendasar.
    Habuk 1:12 Ayat ini menjelaskan bahwa Allah tidak akan mati. Bagaimana dengan Yesus?

    • freewillie said,

      June 5, 2009 at 9:06 am

      Bilang sama penatua2mu: TRITUNGGAL TIDAK MENGAJARKAN BAHWA BAPA SAMA DENGAN ANAK.

      Anak adalah Firman Allah.
      Firman/Logos Allah bukanlah Allah Sang Bapa, tapi Firman Allah ada di dalam hakekat Bapa dan selalu bersama dengan Bapa (Yohanes 1:1), sama seperti Logika saya selalu ada bersama dengan saya selama saya ada. Firman Allah ini memiliki hidup (1 Yohanes 1:1) dan karenanya Ia disebut memiliki Pribadi.

      Semua ayat yg anda tampilkan bisa dijelaskan dengan sederhana.

      Yesus adalah (Firman) Allah yg membatasi diri-Nya sendiri:

      Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. (Filipi 2:5-8)

      1. Firman Allah mengosongkan diri-Nya dan menjelma menjadi manusia. Kemanusiaan Yesus memang tidak maha tahu, tapi kodrat Yesus sebagai Firman Allah adalah Maha Tahu.

      3. Yesus memang mati, tapi berdasarkan Filipi 2:5-8 di atas, yg mati adalah KODRAT KEMANUSIAAN-NYA, dan bukan keilahian-Nya sebagai Sang Firman. Ini diperkuat lagi oleh ayat berikut:

      Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh (1 Petrus 3:18)

      Jadi jelas, yg mati dan dibunuh adalah kemanusiaan-Nya. Ini ajaran Alkitab.

      Persamaannya adalah saya dan logika saya:

      - Logika saya ada di dalam diri saya dan ada selalu bersama dengan saya (Yohanes 1:1)
      - Logika saya nuzul menjelma menjadi tulisan dalam bentuk buku (Yohanes 1:14)
      - Buku itu (kertas dan tulisannya) adalah bukan saya, tapi Logika/pikiran yg ada di dalam buku itu adalah bis disebut reresentasi diri saya –> You are what you think
      - Pada saat buku saya dibakar oleh lawan ideologi saya, maka yg rusak adalah bukunya (kertasnya) (Filipi 2:5-8, 1 Petrus 3:18) tapi pikiran saya sendiri yg nuzul menjelma ke dalam bentuk kertas sama sekali tidak rusak karena logika saya selalu bersama dengan saya dan tidak ke mana2.

      Jelas kan? Apa sih yg susah dari ajaran Tritunggal yg esa?

      Bagaimana dengan ajaran saksi Yehuwa-mu yg bilang bahwa Yesus adalah Firman Allah dan Firman ini adalah ciptaan pertama, dan kemudian ciptaan pertama ini kemudian membantu Allah dalam menciptakan dunia. Masak Yehuwah perlu bantuan makhluk ciptaan buat menciptaan alam semesta? Engga pantes laaahh… lagian kalo ada 2 Pencipta macam ajaran saksi (palsu) Yehuwa, berarti engga Politheisme dong? Nyampe ke sini engga pemikiran kamu?

      2. Yesus sebagai MANUSIA memang bisa dicobai, tapi Ia toh tidak pernah jatuh ke dalam dosa. Mengapa Ia bisa dcobai? Untuk menegaskan bahwa Ia benar2 Firman Allah yg nuzul menjadi manusia sejatii? Mengapa Ia harus manusia sejati? Agar Ia dapat membayar dosa manusia karena dosa manusia hanya bisa dibayar oleh manusia. Katekismus Heidelberg:

      16. Mengapa Dia harus seorang manusia sejati dan benar?
      Sebab keadilan Allah menuntut, supaya pembayaran untuk dosa dilakukan oleh kodrat manusia yang telah berdosa itu (Roma 5:18), sedangkan seorang manusia tidak sanggup melakukan pembayaran untuk dosa orang lain karena dia sendiri pun seorang berdosa (1 Petrus 3:18).

      17. Mengapa Dia harus juga Allah sejati?
      Supaya dengan kuasa keallahan-Nya (Yesaya 9:5) Dia dapat menanggung (Yesaya 53:11) beban murka Allah atas kemanusiaan-Nya (Mazmur 53:11), memperoleh kebenaran dan kehidupan bagi kita, dan mengembalikannya kepada kita (1 Yohanes 4:9).

  22. Ada Deh said,

    May 13, 2009 at 7:27 am

    Kalo Saksi Yehuwa bukan agama yang benar, pasti hilang dengan sendirinya.
    Kalo Saksi Yehuwa bukan agama yang benar, pasti tidak ada pemecatan (dikeluarkan) dari ibadatnya untuk memelihara kebersihan, mengingat para pendeta berebut pengikut.
    Kalo Saksi Yehuwa bukan agama yang benar, pasti tidak banyak buku-buku yang dikeluarkan yang mengutip banyak ayat2 Alkitab
    Kalo Saksi Yehuwa bukan agama yang benar, para pemimpin nya pasti minta uang untuk setiap kali khotbah.
    Apakah menjadi SAKSI YEHUWA semudah menjadi anggota gereja? TIDAK karena harus mempunyai pengetahuan dan hidup selaras dengan pengetahuan tersebut………
    Kalo Saksi Yehuwa bukan agama yang benar……………tentulah saya juga tidak mau jadi salah seorang SAKSI YEHUWA.

    • freewillie said,

      June 5, 2009 at 9:04 am

      Huahahahahaaaa.. Cuma begitukah alasan anda menjadi SAKSI YEHUWA?

      Aku balikin sama Gereja Katolik Roma saja ah:

      Kalo Roma Katolik bukan agama yang benar, pasti hilang dengan sendirinya —> nyatanya anggotanya tambah banyak terus (1,3 miliar), bagian terbesar dari tubuh Kristus

      Kalo Roma Katolik bukan agama yang benar, pasti tidak ada peraturan ekskomunikasi dari Gerejanya.

      Kalo Roma Katolik bukan agama yang benar, pasti tidak banyak buku-buku yang dikeluarkan yang mengutip banyak ayat2 Alkitab

      Kalo Roma Katolik bukan agama yang benar, para pemimpin nya pasti minta uang untuk setiap kali khotbah –> tidak ada perpuluhan wajib di Roma Katolik

      Apakah menjadi Roma Katolik semudah menjadi anggota SAKSI YEHUWA? TIDAK karena harus mempunyai pengetahuan dan hidup selaras dengan pengetahuan tersebut………

      Kalo Roma Katolik bukan agama yang benar……………tentulah Mother Theressa yg pemenang nobel perdamaian juga tidak mau jadi salah seorang Roma Katolik.

      So? Kenapa anda engga jadi Roma Katolik saja kalo dasar anda adalah sedemikian rapuh?

    • langdon said,

      July 8, 2009 at 4:08 pm

      @Ada Deh : sungguh dangkal dan tidak berarti
      karena saya sudah mencicipi saksi yehuwa, maka saya pergi meninggalkannya dan tidak kembali lagi. seperti membayar jasa pelacur yang sama sekali tidak memuaskan pelanggannya.

      • Ada Deh said,

        July 9, 2009 at 8:16 am

        Jujur saja teman: “Tidak gampang orang menjadi seorang Saksi Yehuwa; lebih tidak gampang lagi orang meninggalkan organisasi Saksi-Saksi Yehuwa. Itu tidak berarti bahwa tidak ada yg ‘keluar’ dari organisasi itu. Fakta-fakta memperlihatkan bahwa: (a) rasio mereka yg ‘meninggalkan’ organisasi SY dalam satu tahun karena alasan MURTAD (apostasi) adalah 1:1.000.000 [artinya dari jumlah total SY yg 7 jutaan, hanya 7 orang yg dengan dalih akidah telah menjadi orang murtad]. (b) Prosentasi mereka yg ‘keluar’ oleh sebab dipecat karena DOSA MORAL YG SERIUS dalam satu tahun ada 2,86% dari 7 jutaan SSY. Prosentasi itu kira-kira sama dengan 200.000-an (umumnya orang2 muda) Saksi Yehuwa yg dipecat karena terlibat dalam satu atau lain dosa moral serius seperti promiskuisitas sexual dan/atau percabulan, termasuk di sini praktek ‘MEMBAYAR JASA PELACUR’ untuk melampiskan nafsu syahwat yg amoral…” Sayang sekali, dari komentarmu, Langdon yang malang nan licik, sidang pembaca sangat curiga dengan motif sesungguhnya engkau “meninggalkan” organisasi mulia Saksi-Saksi Yehuwa. Adakah sesungguhnya engkau dipecat gara-gara kegemaranmu “membayar jasa pelacur” untuk memuaskan libido sexualmu yang liar? Hayo jujurlah DonJuan…

    • langdon said,

      July 9, 2009 at 8:33 am

      @Ada Deh:
      baca kembali tentang pelacur di buku wahyu, yg disebut babel besar

      • Ada Deh said,

        July 10, 2009 at 5:03 am

        tak perlu engkau ajari aku baca kitab Wahyu; sudah jelas “pelacur/sundal besar” dalam buku Wahyu adalah arti SIMBOLIS bagi imperium agama palsu sedunia, yg di dalamnya agamamu susunan Kristen sangat dominan…. Namun frasa “membayar jasa pelacur” (mengutip si langdon di forum ini, July 8, 2009 at 8:33 am) sungguh2 mengandung makna harfiah, BUKAN simbolisme! Itu sangat boleh jadi adalah kegemaran langdon (freewillie?) sendiri yg membuat dia terpaksa harus diusir atau dipecat dari SSY [demi menjaga Sidang Kristen Saksi-Saksi Yehuwa itu tetap BERSIH secara MORAL]

      • langdon said,

        July 10, 2009 at 5:46 am

        @Ada Deh:
        bagiku saksi saksi yehuwa adalah pelacur. masih kuingat betapa manis langit-langit mulutnya, selanjutnya betapa kusadari aku sudah tertular penyakit dari berhubungan dengannya. manis di awal sakit di belakang.

        mari kita lihat, bila laporan2 dari masyarakat dan bukti2 bahwa saksi saksi yehuwa sudah meresahkan sudah cukup terkumpul.
        mari kita lihat, apakah kalian sudah kebablasan menggunakan kebebasan beragama di indonesia tercinta ini.
        lokalisasi pelacuran tidak bisa dihilangkan 100% dari tatanan masyarakat, tp kalau sdh meresahkan maka tindakan tegas dari pemerintah diperlukan.

        langdon tidak sama dg freewillie, langdon tidak mengenal freewillie, dan freewillie tidak bertanggungjawab dg apa yg disampaikan langdon

      • Ada Deh said,

        July 11, 2009 at 12:00 pm

        Aku sedang merasakan degupan jantung dan erangan jiwa yg resah dari seekor ular berbisa bercabang lidah di balik keremangan maya…. Sudahkah kamu baca buku “Semakin Dibabat Semakin Merambat?”

  23. Abdi said,

    May 28, 2009 at 3:02 pm

    SY dilarang? Sebaiknya anda semua memahami Pancasila deh kalo masih ingin hidup di Indonesia. Ketuhanan Yang Maha Esa, artinya Tuhan adalah satu, satu versi siapa? Ya terserah masing2, lalu kalo menurut agama yang jumlahnya 6, berarti Tuhan ada 6 juga donk? Keliatannya 6 tetapi sesungguhnya Tuhan itu 1…Kepada SY maju terus pantang mundur!! Kepada yang lain, ya terserah kalian!!

    • freewillie said,

      June 5, 2009 at 8:45 am

      Yg ngelarang SY itu siapa sih? Memang dulu Gereja Kristen sempat terlena dengan kekuasaan sehingga memasung saksi (palsu) Yehuwa lewat undang-undang, seperti islam yg memasung amadiyyah dengan SKB 3 menteri. Tentu saja itu praktek yg salah karena dalam Matius 13:30, Yesus bilang:

      Biarkanlah keduanya (Keduanya = Gandum [Gereja Kristen], dan Lalang [ajaran sesat], termasuk saksi Yehuwa) tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu (ajaran sesat, i.e. saksi palsu Yehuwa) dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum (Gereja Kristen) itu ke dalam lumbungku.”

      Yesus engga pernah maen paksa2 coy…

  24. I AM GOD said,

    July 2, 2009 at 9:02 am

    —sekedar sampah maki2an yg baseless, edited by freewillie—

    • sintese said,

      July 3, 2009 at 10:20 am

      Seseorang… [lebih tepatnya disebut SESUATU] telah muncul dari dalam jurang keabu-abuan!!! Ia menamakan dirinya “I AM GOD” dan dalam orasi singkatnya barusan, ia mencaci dan memaki, menyumpahi dan melaknati SEMUA mrk yang telah nimbrung di forum semi tak resmi ini… Aku tak banyak coment soal si SESUATU ini; sah-sah saja kalau ia mau berekspresi dgn cara dia, cuma saja aku mau sampaikan salam kenalku kepadanya dengan suatu harapan agar di masa ketika dia mau angkat bicara lagi coba dia jangan lagi-lagi gunakan inisial “i am god” tapi coba ia lebih jujur dan berterus terang saja dgn berkata bahwa, misalnya, I AM SATAN! Karena kata-kata dan perangainya benar-benar serupa dengan SETAN…

  25. zzzz said,

    July 4, 2009 at 5:37 pm

    kalau saksi yehuwa memang ajaran sesat,apakah ada pengaruhnya terhadap kehidupanmu,freewillie?
    kalau memang kamu tidak suka dengan ajaran saksi yehuwa ini,ya sudah…itu hak kamu..ngapain menentang terus??
    toh nantinya capek sendiri…^^
    kalo memang kamu gak bisa menerima semua yang diajarkan saksi yehuwa,ya sudah…percaya saja kepada agama yang menurutmu paling baik dan kudus..

    • freewillie said,

      July 5, 2009 at 1:01 pm

      1) saksi Yehuwa sesat dan itu ada pengaruhnya dengan kehidupan saya. Saya hanya menyatakan yg benar sebagai yg benar dan yg salah sebagai salah. Doktrin saksi Yehuwa adalah doktrin yg salah dan sesat yg dibangun dari pemelintiran ayat2 kitab suci saya. Apa saya akan diam saja melihat kitab suci saya, Yesus saya, Allah saya difitnah terus-menerus sama saksi Yehuwa?

      2) kenapa menyuruh saya berhenti menentang saksi Yehuwa? Siapapun bebas menulis apapun, menyatakan pendapat apapun, bahkan menyembah batu sekalipun asalkan batunya tidak dipakai melempar orang lain. Inilah demokrasi.

      3) kalau anda saksi Yehuwa, jawab saja pernyataan2 dan pertanyaan2 saya. Engga usah nangis di blog saya karena engga bisa jawab :D

    • langdon said,

      July 8, 2009 at 4:13 pm

      @ zzzz: harus ada pribadi-pribadi yang bangkit untuk menyeimbangkan timbangan ini. tikus-tikus tidak bisa dimusnahkan semuanya, tapi kita bisa mengontrol jumlahnya agar jangan berlebihan dan merusak.

  26. Spongebob said,

    July 7, 2009 at 1:34 pm

    Ikut nimbrung nih, jd tergoda ingin memberi sesuatu.
    Gara2 ada kabar bhw Michael Jackson adl Saksi Yehuwa, maka saya cari di google, dan pencarian terus mengembang sampai akhirnya mendapat blog ini.

    Jd teringat pepatah: tdk ada gading yg tak retak.
    Di semua belahan dunia pasti ada yg buruk di antara yg baik. Di semua agama akan selalu ada hal tersebut. Di dalam mayoritas lebih banyak kasus terjadi.

    Orang-orang desa kita yg hidup sederhana cenderung damai, tepo seliro dan tulus meskipun beda agama (tp mgkn ini pas jaman Suharto). Kita bisa bandingkan dg fundamentalis intelek yg bicara sopan tp ada kedengkian di hatinya. Entah itu Nasrani, Muslim, Hindu, Budha dll. Ingat kasus orang Samaria yg baik vs Farisi/Saduki.

    Bgmn dg Saksi Yehuwa? Karena mereka masih minoritas, maka bila dibandingkan dg pohon: buah2 mereka masih sedikit, entah itu manis ato pahit. Coba anda search di google: kasus buah2 pahit mulai keliatan ketika pohon itu membesar dan berbuah banyak. Mengenai kredibilitas situs2 yg bicara negatif ttg Saksi Yehuwa, silakan anda nilai sendiri, boleh jd itu palsu, tp bs saja itu benar.
    Bgmn dg pemecatan/pemutusan buah yg pahit, yah, orang Saksi mgkn bs berbangga..Selalu ada logika yg mendukung ato menentang ini. Kita bs lihat perkembangannya nanti.

    Saksi selalu berkata: kita bukan bagian dari dunia ini. Bener2 ga nyaman klo berhubungan dg tipe org spt ini. Ga asik..
    Setiap kali mereka mau berbuat sesuatu, pasti bawaanya ingin mewartakan injil. Ingin didengarkan tp ga mau mendengarkan, sebel ga sih? Ah mana mereka tau..
    Kemudian mereka akan mencatat brp jam waktu penyiaran mereka tadi utk dilaporkan ke perhimpunan mereka. Mengapa? Karena mereka memiliki target bulanan penyiaran mereka, semacam sales gitu. Mgkn mereka merasa bersalah klo kurang dari target, mgkn mereka merasa malu pd rekan2 mereka yg pas ato lebih jamnya, ato mrk mgkn bisa menyombongkan diri mereka pd yg lain, dan mgkn mereka benar2 tulus? Dalamnya lautan bisa diukur, dalamnya hati siapa yg tau?
    Bisa dipastikan mereka adl Golput, krn bukan bagian dari dunia. Bg rekan2 yg merasa nasionalis pasti benci sekali sama Saksi Yehuwa ini. Percuma dibenci dan dilarang ato bahkan dihukum mati, krn mereka pasti bertahan. Kenapa demikian? Orang psikologi akan bilang: Terindoktrinasi. Saya boleh bilang: Mereka tidak tau apa yg mereka lakukan, ampunilah dosa mereka Tuhan.
    Tapi apa saya tau apa yg saya lakukan ini? Saat ini mgkn merasa tau, tp entah suatu hari nanti. Roda berputar. Tempurang terbuka dan sang katak melompat keluar. Efata!

    Yang Maha Kuasa bisa mengetahui yg mana domba dan yg mana kambing, yg mana gandum dan yg mana ilalang. Inilah dunia, selalu ada yg baik dan yg jahat.
    Apakah ada surga dan neraka? Kita cari tau setelah kematian menjemput. Tp sebelum itu datang, bgmn klo kita sekarang hidup dengan terhormat dan mati dg bangga. Ini cuma kutipan dr pilem yg dibuat oleh org2 kafir (menurut fundamentalis)

    Mengenai doktrin: rasanya saya pasti kalah kalo beradu argumentasi, referensi kurang kuat dan banyak.
    Ga sempat deh, perlu cari duit buat kompor tetap menyala:
    - krn daku dilarang makan klo tdk bekerja
    - konon org yg tdk menafkahi keluarganya lebih buruk dr org murtad.

    • Rubin said,

      July 8, 2009 at 11:39 am

      Hidupmu terlalu banyak diwarnai ‘kemungkinan-kemungkinan’ Bro, macam orang agnosis aja! Kusarankan sampean lebih baik ketemu and curhat aja langsung ama Saksi Yehuwa…

      • langdon said,

        July 8, 2009 at 4:03 pm

        @langdon : apa dia perlu datang dan diajari pemuda yang sudah tahu dunia hanya karena dia hapal ayat-ayat alkitab? atau kepada penatua-penatua yang sudah lelah dengan kehidupan tapi takut karena tanggung jawabnya pada kawanannya?

  27. langdon said,

    July 7, 2009 at 4:21 pm

    kupikir ssy itu munafik.
    - spt ahli2 taurat (yg mereka sindir) yg berusaha pamer kebolehan mengutip ayat2. setia pd perkara kecil melupakan perkara yg besar. gajah di depan mata tdk keliatan, kuman di seberang lautan nampak jelas. senang sekali kalau org kristen tdk bisa membantah argumentasi mereka, bangga sekali kalau anak2 muda mereka bisa mengalahkan adu ayat dg org dewasa dr kekristenan. tp kristen sejati bukan level kulit spt ini. semua org bisa kalau belajar. jaman sekarang sama sekali tdk terlihat suci kalau bisa menghapal banyak ayat, melakukan dg penuh ketulusan lah yg disebut suci.
    - seperti multi level marketing amway dlm memasarkan “kekristenan”. tdk lgsg bilang kami dari ssy, tp dr gereja jemaat allah. mereka bilang hal itu tdk bohong. ah, muter2 mencari celah spt pengacara batak. menjijikkan.
    - tidak tulus dlm membantu orang, tp karena alkitab yg menyuruhnya. jadi mgkn mereka menolong sesama, tp demi upah yg menanti. jauh dari sifat kemanusiaan yg dicontohkan oleh yesus teladan mereka.
    - benar2 tidak gaul, kuper. banyak skl di dunia ini yang mereka anggap jahat. semua yg baik datang dari alkitab dan para “hamba yg setia dan bijaksana” di watchtower sana. kasihan anak2 yang lahir dari mereka.
    - tidak ada kebebasan berekspresi. semua adl robot, kamu harus seperti ini, ini dan ini. penatua bilang begini harus nurut karena baik. pengawas wilayah bilang begini harus nurut karena baik. dan seterusnya sampai puncak piramida dimana “manusia2 sempurna” memberikan makanan. tidak boleh makan burger, tidak boleh makan steak, tidak boleh minum anggur, kamu harus makan dan minum dari yg sudah disediakan. sungguh terorganisasi, semua harus homogen tidak ada kompromi.
    - mereka bukan warga negara yg baik dalam hal berpartisipasi membangun pemerintahan yang baik. mereka sama sekali tidak peduli pd masyarakat kecuali pd penginjilan mereka sendiri, krn menurut mereka pemerintahan yg baik bukan dari dunia ini. mereka bilang taat pajak, tdk melanggar aturan lalu lintas bla bla bla yg remeh2. kalau tidak ada pemerintahan yg baik, bagaimana mereka bisa makan enak, beli baju, rumah, mobil, beli alkitab, menyekolahkan anak2 dan semua evolusi struktur kehidupan ini. tidak menghormati sama sekali pahlawan2 yg berjuang demi semua kebaikan ini.

    jadi apakah ssy mengganggu ketentraman?
    - mereka tidak akan mencuri atau merampok tp membikin org tidak nyaman bila mereka datang. demi kesopanan kita mempersilakan mereka ngomong, tp demi jam dan prestasi (mencari domba) mereka tdk mempedulikan kita (sampai kita bilang tidak, pdhl kita berusaha menolak halus)
    - ssy tdk akan senang bila anak mereka bergaul dg remaja pada umumnya, takut terseret arus dunia. bila mereka tdk ingin terpengaruh oleh kita, harus sebailknya pula mereka tdk mempengaruhi kita. ini bertentangan dg keadilan.

    • Jonah said,

      July 8, 2009 at 2:07 pm

      Opinimu Langdon, (kurasa) tidak berbuah apa-apa. Anda laiknya Janus –dewa berwajah dua dalam mitologi Yunani–, di satu sisi sinis dan pada sisi lain optimis. Tidak sedikit orang seperti anda yg antipati dgn SY, namun tidak sedikit pula yg simpati dan mengagumi kelompok agama ini. Aku pribadi bukan Saksi Yehuwa, Bung, tapi kalau aku dimintai komentar ttg mereka maka yg aku lakukan jauh lebih positif dari anda…Aku bahkan (membatin) ingin menjadi salah satu dari barisan panjang Para Saksi Iman ini ketimbang memilih terus berada dalam “rumah pohon” kemunafikan Sundal Besar agama palsu….—Wahyu 18:4, 5; Ibrani 11.

      • freewillie said,

        July 11, 2009 at 1:33 am

        Anehnya, yang anda sebut sebagai Sundal Besar agama palsu justru adalah pihak yang MENGHIMPUN DAN MENGKANONKAN KITAB SUCI. Dari mana anda tahu bahwa Alkitab itu terdiri dari Kejadian sampai Wahyu? Ada engga Alkitab menyebutkan urut2an isi kitab sucinya sendiri? Engga ada. Saksi Yehuwa HANYA MEMAKAI SAJA apa yang sudah ditetapkan kanonik oleh Gereja Kristen.

        Yang anda lakukan, saksi (palsu) Yehuwa, hanyalah penyimpangan dari akar rasuli iman Kristen. Anda hanya baru eksis di akhir abad 19 saja, sementara Yesus berjanji akan menyertai umat-Nya SENANTIASA sampai akhir jaman (Amanat Agung, Matius 28). Kalo iman Kristen baru benar kembali setelah SSY lahir, lalu selama 19 abad sebelum SSY lahir ini, Yesus ke mana saja? Kok Ia mengingkari janji penyertaan-Nya yg SENANTIASA?

        Ayolah, pakai logika anda. Engga perlu jadi terlalu pintar untuk mengetahui bohong2nya saksi Yehuwa :D

      • amin said,

        July 11, 2009 at 2:24 pm

        Ssstt…jangan takabur! anda pernah singgung metafora lalang di antara gandum, bukan? anda tahu kenapa BAHKAN Yesus yg berkuasa melindungi sidangnya, juga Paulus dan rasul2 lain, perlu mewanti-wanti sidang Kristen purba terhadap datangnya bahaya dari srigala2 berbulu domba, dari pihak rasul2 dan guru2 palsu dan dari hantaman antikristus??? baca tuh Alkitab jangan parsial pak. amazing! SSY tak pernah merasa “awal” mereka baru kemarin sore. mereka bangga berada dalam barisan panjang Saksi Yehuwa sejak Habel, Henokh, Nuh, Abraham, Ishak, Yakub,…, Yesus, Paulus, Yohanes,…, Ignatius, Tertulian, Justin Martyr, John Hus, Tyndalle, Martin Luther,…dst, dst, hanya Allah saja yg tahu siapa-siapa “gandum” di tengah “lalang” selama 19 abad ‘kegelapan gereja’… jadi anda tak usah arogan deh soal kanonisasi kitab suci itu…

      • freewillie said,

        July 24, 2009 at 11:20 pm

        Woooppsss… Tertulianus, Irenaeus, Polikarpus, Ignatius, Rasul Yohanes dsb dsb, mereka semua bilang bahwa FIRMAN BUKAN CIPTAAN, dan ini meng-KO doktrin saksi Yehuwa bahwa Yesus adalah ciptaan pertama. Sudah dibuktikan atas reply sama terhadap om Rambam. Baca lagi ya.

        Anyway, thanks sudah mengakui bahwa anda cuman ambil Alkitab yg dikanonkan Gereja Kristen yg notabene menganut Tritunggal. Inkonsistensi saksi Yehuwa jelas terlihat di sini.

  28. langdon said,

    July 8, 2009 at 3:06 pm

    @ jonah: anda sama sekali bukan lawanku kalau ingin beragumentasi.
    jalanmu masih panjang, silakan bergabung dengan ssy dan lihat sendiri ke dalamnya, perhatikan pribadi-pribadi di dalamnya dg seksama. mereka semua tulus tapi bodoh ibaratkan: tulus seperti kerbau cerdik seperti keledai.
    bahkan para penatua yang di dalamnya adalah manusia-manusia biasa yang “keracunanan” makanan setiap minggunya, setiap bulannya dan setiap tahunnya. adakah buku lain yang paling banyak dibaca selain menara pengawal, sedarlah, buku-buku watchtower, alkitab terjemahan dunia baru, setelah itu baru alkitab umum. membaca kisah-kisah heroik ssy di berbagai dunia yang diceritakan di dalamnya akan membuatmu semakin terpacu dan yakin. itu semua bisa dipahami. itulah indoktrinasi. itulah yang dilakukan di militer di semua bangsa, kamu rela mati untuknya. emosimu mempermainkan pikiranmu.

    bila sudah belajar banyak dari mereka, cobalah ikut pengabaran bersama mereka. ikutlah dari mulai yang berpengalaman sampai yang kurang berpengalaman. perhatikan sikap ramah tamah mereka, jangan lupa perhatikan apa yang dibicarakan setelah pulang dari pengabaran, sungguh sangat memandang rendah umat beragama yang lain.

    perhatikan kehidupan sehari-hari mereka, bukan hanya lewat dari perhimpunan. adakah standar ganda? tidak ada manusia yang sempurna, semua pribadi dalam semua agama pasti ada konflik batin. bisa dimaklumi.
    yakin dengan pilihanmu? bila sudah layak, ikutlah pembaptisan. baru anda bisa mati-matian membela ssy. bukan hanya karena kakakmu yang ikut ssy jd kamu ikut membela yehuwa. jangan hanya mengacu pada asumsi kakakmu yang sekolah teologi aja sampai pindah.
    silakan bergabung dengan mereka, perhatikan baik-baik, gunakan otakmu (sebelum terindoktrinasi lebih jauh), lihat bagaimana wajah pura-pura sok ramah, murah senyum, sok suci dengan kutipan-kutipan ayat-ayatnya. apa bedanya dengan ahli-ahli taurat di jaman yesus? apa bedanya dengan pemimpin-pemimpin kristen/katolik yang selalu kalian jelek-jelekan. kalian sungguh senang sekali melihat penderitaan umat beragama yang lain.

    ironis: untuk mengetahui hitam-putihnya kamu perlu bergabung. pengalaman adalah guru yang terbaik (selama kamu tidak mati menjalaninya)

    kebenaran akan memerdekakanmu. apa itu kebenaran? cari tahulah sendiri.

  29. ade said,

    July 13, 2009 at 9:06 pm

    Wah… diskusinya sangat panjang dan menjadi debat kusir… saya adalah seorang Saksi Yehuwa (atas dasar keputusan sendiri dan setelah disertai research yang sangat panjang dan dalam (u ; free willy : research saya tidak hanya melibatkan buku 2 dari watchtower tapi banyak buku teologia dan buku buku agama lainnya ditambah riset atas banyak ensiklopedia. thanks to Jehovah karena saya doyan baca)) dan melihat dari argumentasi langdon dan free willy saya menarik kesimpulan anda berdua pasti sudah pernah belajar (atau mungkin pernah bergabung) dengan saksi Yehuwa….
    Dan saya tidak ingin meneruskan perdebatan ini cuma ingin memberitahu ;

    1. Di dalam kunjungan yang kami lakukan dari rumah ke rumah, kami hanya berusaha memberitakan tentang kerajaan Allah yang akan menyelesaikan semua problem umat manusia, kami tidak memaksa, jika tuan rumah atau Bapak/ibu sekalian tidak mau mendengar dengan sopan kami akan meninggalkan rumah anda. Mungkin anda merasa terganggu dengan kunjungan kami tapi sebenarnya jika anda tidak menginginkan berita kami, anda dapat secara terus terang menolak dan kami hanya akan pergi dengan damai… seperti Teladan dan Guru Terbesar kami lakukan, Yesus Kristus, Ia mengebaskan debu kaki dari kota orang yang menolak diriNya dan melanjutkan perjalanan mengabar hanya kepada yang berminat. Kami tidak akan pernah memaksakan kepercayaan kami kepada anda. Kami mengabar karena kami memenuhi tugas yang Yesus berikan kepada semua orang kristen di Mat 28 :19 -20 dan kami mengingat perintah yang Allah kami, Yehuwa berikan kepada kami di Yeh 33 :8 -9 ( jadi bukan karena mengejar jam dinas bung langdon (kayaknya saya kenal kamu dulu), jam dinas hanya untuk keteraturan organisasi, nothing to do dengan kejar setoran ala mlm). Meskipun banyak orang tidak suka atau menentang kami, that’s ok karena kami mengasihi Allah kami oleh karena itu kami akan melakukan apapun yang IA perintahkan kepada kami secara akurat. Kunjungan ini juga merupakan wujud kasih & kepedulian kami kepada sesama manusia. Mungkin Anda berdua atau orang orang yang antipati disini tidak membutuhkannya tapi ada jutaan orang lain yang membutuhkan harapan yang Alkitab tawarkan. Maka kami datang dari pintu ke pintu untuk mencari mereka dan membantu mereka untuk mengenal siapa itu Allah yang benar dan harapan yang Allah tawarkan kepada mereka. Jadi tidak perlu merasa terganggu oleh saksi – saksi Yehuwa.

    2. Alkitab tidak untuk diperdebatkan….( saya tahu anda akan mengatakan saya takut berdebat, saya pasti kalah dan sebagainya. Yah terserahlah. saya tidak akan tanggapi. it’s not my point. You learn about it before and you can’t accept it, so i think whatever i said will never can change your mind and useless) Tapi saya himbau saudara -saudari rekan saksi Yehuwa lainnya jangan ladeni dan teruskan perdebatan ini. Pengabaran kita bertujuan untuk membantu orang mendapatkan penghiburan dan harapan sejati dari Kerajaan Allah bukan untuk berdebat. Mari ikuti anjuran Paulus untuk “hidup dalam perdamaian” (2 kor 13 :11) dengan tidak melayani perdebatan apapun. Kita akan bela iman kita, tapi debat dengan orang yang sudah meninggalkan organisasi tentu tidak perlu.

    3. Anda boleh memfitnah kami dengan menyebut kami saksi palsu de es be de es be… Yesus Kristus ketika hidup di bumi pun difitnah dan dianggap sebagai sebagai antek – antek Belzebul (Mat 12 :22 -24) maka tidak heran jika pengikut – pengikutnya pun akan difitnah. Jika Yesus ketika melakukan pelayanannya dibenci maka tidak mengherankan jika pengikut -pengikutnya pun dibenci. karena ini semua sudah dinubuatkan olehNYA ( Mat 10:22). Tapi saran saya bung jangan pernah sekalipun sengaja ataupun tidak menghina Yehuwa Allah. Anda punya alkitab, coba baca apa yang terjadi pada Firaun ketika ia menghina nama Yehuwa.(kel 5:2)

    4. Anjuranku untuk semua rekan Saksi Saksi Yehuwa ; Ayo kita terus berjaga – jaga dan hidup bersih sesuai tuntunan hukum Ilahi untuk mengikuti anjuran di Ams 27 : 11 ; agar Bapak Surgawi kita bersukacita, jangan sampai kita mendatangkan cela bagi nama suci Bapa Surgawi kita terkasih Yehuwa.

    • langdon said,

      July 14, 2009 at 3:12 am

      @ade:
      paling tidak, si ade sudah bisa membedakan freewillie dan langdon sebagai pribadi yang berbeda, tidak seperti para keledai lain.

      lebih mudah berkata-kata daripada bertindak.
      kata-kata manis akan selalu membangkitkan selera makan.
      maka dari itu, saya mengatakan bagi orang lain yg tergiur olehnya: jaga dan kendalikan pikiranmu, berpikirlah kritis. terlalu banyak yg dimakan hanya karena rasanya yg manis bisa menyebabkan penyakit.
      ada yg bilang: lebih baik mencegah daripada mengobati.
      selanjutnya ada yg bilang: segeralah berobat mumpung masih gejala awal.

      bagaimana dengan yg sudah berpenyakit parah? jawabannya tergantung pada kebaikan tuhan, apakah dia masih bisa dipakai untuk tujuan yg lain sehingga perlu untuk disembuhkan, atau tidak.
      anggap saja diriku salah satu dari agen2 yang masih bisa dipakai untuk mengimbangi agresivitas saksi saksi yehuwa. bukan bermaksud menghujat karena menyebut diri sebagai agen tuhan, karena semua manusia memiliki peran masing2. saya hanya bermaksud menjalaninya.

      untuk ade dan saksi yehuwa senior yg lain: jaga kawananmu dengan baik, kaum minoritas belum terlalu berbahaya sampai itu melebihi populasi aman untuk berbagi rumput dengan kawanan yg lain.

      untuk orang2 selain saksi yehuwa: pertimbangkan baik2 semua percakapan yang ada di blog (terima kasih kpd freewillie). gunakan otak dan jangan hanya mengandalkan emosi semata. semoga bermanfaat.

  30. freewillie said,

    July 24, 2009 at 11:16 pm

    Okay, semua sampah muslim sudah dihapus. Kita engga perlu Muhammad dan buku qurannya di topik saksi Yehuwa ini :D

  31. freewillie said,

    July 24, 2009 at 11:26 pm

    Okay, buat semua SSY yg post di blog ini, saya ucapkan terima kasih. Tetapi mengapa anda semua seakan tidak mau menyentuh pertanyaan2 saya di awal topik sih? Yg ini lho:

    1. Jika Yesus adalah Firman, tapi Firman itu adalah ciptaan, maka seharusnya sebagai ciptaan, ada waktu di mana ciptaan itu belum ada (karena belum diciptakan). Bukankah ini berarti saksi Yehuwa mengajarkan bahwa Yehuwa pernah ada waktu tidak memiliki Firman-Nya alias bisu?
    Bukankah ini adalah sebuah penghujatan terhadap Allah Yehuwa?

    2. Jika Yesus adalah Sang Firman dan Sang Firman itu adalah ciptaan, maka dengan ‘Firman’ yang mana lagi Sang Firman itu diciptakan? -> ingat bahwa Yehuwa menciptakan segala sesuatu dengan Firman-Nya.

    3. Jika Firman Allah itu bukanlah Allah, melainkan hanyalah ’suatu allah’, atau ‘bersifat ilahi’, maka bukankah ini adalah ajaran Politeisme karena menyebutkan ada yang lain lagi yang ilahi di luar Allah?

    • Junior said,

      August 7, 2009 at 1:27 pm

      Saya pemrihati kelompok2 minoritas di negeri ini. Saya kenal saksi Yehuwa dari membaca buku2 dan berinteraksi dgn segelintir dari mrk karena itu saya memilih membela mereka. Tak usah heran, freewillie, musuh dari musuhmu adalah kawanmu! Saya bilang: ngapain sulit2 mikirin terror si freewillies yang lidahnya licin dan langit-langitnya berminyak ala filsuf-pedagang kacang goreng??? freewillie menyangka ia sudah menemukan ramuan sakti yang dapat melumpuhkan penalaran para saksi yehuwa. btw saksi2 Yehuwa tenang-tenang aja tuh karena mereka tentu tahu kapan waktunya berdiam diri kapan waktunya bicara {tapi kurasa setiap Saksi2 tahu rambu2 bila berurusan dng yang namanya murtadin plus kayak anda freewillie, mereka lebih suka ala anjing menggonggong kafilah berlalu!}.
      Kurasa anda dan isu yang anda usung selama ini tidak hebat-hebat sangat. Anda bilang: “Jika Yesus adalah Firman, tapi Firman itu adalah ciptaan, maka seharusnya sebagai ciptaan, ada waktu di mana ciptaan itu belum ada (karena belum diciptakan). Bukankah ini berarti saksi Yehuwa mengajarkan bahwa Yehuwa pernah ada waktu tidak memiliki Firman-Nya alias bisu?” Saya jawab: Freewillie, anda bukan mempertanyakan ajaran saksi Yehuwa, yang anda pertanyakan adalah ajaran ALKITAB. Para saksi Yehuwa menerima kesederhanaan kesaksian ALKITAB {bahkan seorang anak kecil penjaja koran pun ngerti} kalau Yesus itu punya permulaan, Yesus itu diciptakan oleh Allah Yang Mahakuasa [baca teks dan konteks dari Kolose 1:15; Wahyu 3:14]. Buka hati dan pikiran bukan cuma biji mata, lihat! apakah ayat2 ALKITAB ini tidak cukup jelas??? Anda masih berkilah, ‘ah taunya kutip2 ayat doang’; ya… apa lagi yang lebih dari menerima otoritasnya, mengakuinya dan mengutip firman Allah yang tertulis itu? Bahkan si Firman (=nama Yesus pra-manusia) sendiri sewaktu di bumi paling suka kutip-kutip firman Allah dengan berkata “ada tertulis…” bila ia mengajar orang2 atau ketika ia dicobai si Iblis. Freewillie, saksi-saksi Yehuwa itu ‘tidak melampaui perkara-perkara yang tertulis’ (1 Kor 4:6); jadi, kalau anda masih ragu dan masih ngotot pada pendirian anda maka yang anda ragu bukan ajarannya Saksi2 Yehuwa, tetapi anda ragu atau meragukan ajaran TERTULIS Alkitab sendiri! Kalau sudah begini untuk apa para Saksi Yehuwa perlu bersusah payah datang menunjukkan ke bawah hidung anda ratusan referensi silang lain dari Alkitab yang memperlihatkan bahwa Yesus dan Yehuwa itu dua pribadi BERBEDA dan bahwa Yesus SELALU lebih rendah {subordinasi} dari Allah Yehuwa??? Pasti tak satu pun ayat2 Alkitab itu yang “berdaya-juang” untuk menyadarkan anda karena, mengutip Langdon, ‘telingamu sudah tersumbat. matamu terpasang kacamata kuda. tanganmu terbelenggu. kaki-kakimu terpasung.’ Oleh apa yaa??? Jawab sendiri…!
      Anda bilang: “Jika Yesus adalah Sang Firman dan Sang Firman itu adalah ciptaan, maka dengan ‘Firman’ yang mana lagi Sang Firman itu diciptakan? -> ingat bahwa Yehuwa menciptakan segala sesuatu dengan Firman-Nya.” Saya jawab: Bila anda maksud ‘Yehuwa menciptakan segala sesuatu dengan Firman-Nya’ artinya bahwa dengan PERANTARA Sang Firman Yehuwa BERSERU jadilah ini dan jadilah itu maka SEMUANYA JADI, maka saya bertanya tentang penciptaan Adam, “Apakah cukup dengan BERSERU (Sang Firman berfirman, atau apapun namanya) maka munculah si Adam?” Coba anda baca ulang kisahnya di kitab Kejadian pasal 1:26 dan 2:7. Di mata saya ayat2 itu sangat jelas melukiskan adanya SUATU PROSES aktif pem-BENTUK-an si Adam (bukannya secara pasif dan serta-merta jadi seperti yang Allah lakukan dengan ciptaan2 lain di bumi sebelum Adam). Peristiwanya bisa jadi mengilhami kerja tukang tembikar. Si tukang tembikar mengambil tanah liat, membentuknya sesuai keinginan dia, memolesnya, memberinya sentuhan akhir, mendandaninya agar kelihatan “hidup” dengan pernak-pernik. So apakah Yehuwa maupun Sang Firman (Yesus pra-manusia) akan melakukan hal sama sehubungan dengan penciptaan Adam versi Kejadian 1:26 dan 2:7? Bisa jadi! Yang pasti, itulah yang ALKITAB saksikan dan para saksi Yehuwa tidak ingin melampaui perkara-perkara yang tertulis ini selain menerimanya sebagai ‘firman Allah yang terilham dan bermanfaat’ (2 Tim 3:16-17).
      Sekarang, mari kita beralih ke permasalahan lanjutan freewillie tanpa meninggalkan cerita penciptaan Adam: “Jika Yesus adalah Sang Firman dan Sang Firman itu adalah ciptaan, maka dengan ‘Firman’ yang mana lagi Sang Firman itu diciptakan?” Saya jawab: Jangankan para saksi Yehuwa, anak kecil penjaja koran pun SADAR, kalau ALKITAB tak satu kali pun menyebut bahkan menyiratkan penciptaan-eksistensi Sang Firman dengan cara, misalnya, “bahwa Allah Yang Mahakuasa telah [pernah] BERFIRMAN: JADILAH, atau terciptalah hai Firman, maka terciptalah Sang Firman!” Nonsen. Hal seperti itu tidak pernah ada atau disiratkan dalam bagian Alkitab manapun. Itu sebuah rahasia besar Ilahi! {Bandingkan saja dengan kenyataan bahwa bahkan di bumi ini pun masih banyak misteri ciptaan yang belum dapat disingkapkan para ilmuwan [Pengkhotbah 8:17]} Karena itu, daripada mencoba berspekulasi apalagi sampai melayani debat kusir tentang proses dan bahan penciptaan pra-manusia Yesus sebagai Sang Firman, para saksi Yehuwa lebih memilih untuk membiarkan saja Allah Yang Mahakuasa Yehuwa menyingkapkannya pada waktu-Nya, kalaupun tidak dalam masa hidup sekarang, ya nanti di kehidupan Firdaus di “Bumi Baru” masa depan di mana prospek hidup panjang tanpa batas [kekal]memungkinkan manusia2 yang telah disempurnakan menerima setiap aspek rincian lain misteri Ilahi dengan perasaan takjub. Sementara menanti hal-hal itu terjadi, Saksi2 Yehuwa di seluruh bumi umumnya seragam pendapat tentang pra-eksistensi Putera Allah yang kemudian menjadi atau diberi nama Yesus ketika dia datang ke bumi sekitar 2000 tahun lalu. Orang-orang selain saksi Yehuwa juga tahu kalau YESUS itu [dari nama Ibrani untuk Yehohsyua atau Yesyua yang bertarti "Yehuwa Adalah Keselamatan"] punya banyak gelar, seperti: Kristus atau Mesias, Putera Allah, Pemimpin, Juruselamat, Raja Damai, dan seterusnya. Dia juga disebut personifikasi dari Hikmat Allah dan juga Firman Allah. Freewillie dan umumnya Saksi-Saksi Yehuwa, mungkin karena amat respek kepada Tokoh Terbesar Sepanjang Masa ini menyebut atau menulisnya sebagai SANG FIRMAN; saya sendiri dengan tidak mengurangi sedikit pun rasa hormat kepadanya lebih suka memakai istilah Si Firman. Bagi saya, dan saya kira ini juga direnungkan oleh para Saksi Yehuwa bahwa, tidak ada yang mustahil bagi Allah Yang Mahakuasa —Pribadi Hidup Mandiri, yang tidak bergantung kepada apa pun atau siapa pun, yang punya Sifat2 dan Kepribadian dan Kehendak; yang pada suatu waktu dahulu kala, pada titik sebelum-sebelum zaman purbakalanya alam semesta—, ketika Dia, atas kehendak bebas-Nya ingin “membentuk” dengan “jari-Nya” sendiri {BUKAN berseru atau berfirman lho…} suatu wujud pribadi unik lain yang memiliki kemiripan struktur “anatomi” dan sifat-sifat dengan diri-Nya. Apa yang mustahil bagi Allah Yang Mahakuasa kalau di kemudian masa Dia sendiri yang memilih dan memberikan wewenang kepada Ciptaan Pertama dan Satu-satu-Nya itu untuk mulai mencipta segala perkara lain tapi kali ini [dengan perkecualian proses penciptaan Adam yang unik] melalui seruan2 atau perkataan2 atau firman2 dari mulut si Ciptaan Pertama yang memang selalu ditopang oleh Pribadi Yang Mahakuasa itu? Apalah yang sulit dibayangkan bila Allah Yang Mahakuasa, karena mau berkomunikasi dengan selebihnya dari makhluk2 ciptaan lain, lalu memilih dan menunjuk si Ciptaan Pertama menjadi Jurubicara-Nya (Spokesman) yang Dia sendiri beri nama Si Firman? Sederhana sekali: Allah Yang Mahakuasa memiliki perkataan-Nya sendiri, firman-Nya sendiri; firman-Nya tidak akan berkurang dari diri-Nya, itu selalu ada pada-Nya dan melekat dengan Kepribadian Dia Sendiri. Sebagai Satu Pribadi Mandiri dengan firman-Nya Sendiri, Allah Yang Mahakuasa Yehuwa, harus selalu dibedakan dari Si Firman yang juga sudah memiliki firman dalam dirinya, namun firman yang keluar dari Si Firman HARUS SELARAS DENGAN KEHENDAK DAN MAKSUT-TUJUAN Pemilik Yang Sah Dari Firman, Allah Mahakuasa YEHUWA.
      Anda, freewillie, bilang: “Jika Firman Allah itu bukanlah Allah, melainkan hanyalah ’suatu allah’, atau ‘bersifat ilahi’, maka bukankah ini adalah ajaran Politeisme karena menyebutkan ada yang lain lagi yang ilahi di luar Allah?” Saya jawab: Siapakah yang POLITEISME? Freewillie dan kaumnya yang percaya dan menyembah Tritunggal (=Allah tiga serangkai: Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Rohkudus) ataukah para Saksi2 Yehuwa, yang secara sederhana mengakui dan menerima pernyataan Yesus Kristus sendiri bahwa hanya Yehuwalah “Satu-satunya Allah yang benar” yang patut disembah dan dilayani? (Yohanes 17:3).

      • freewillie said,

        November 12, 2009 at 3:47 am

        Yg dikutip adalah posting si Junior, sementara yg lainnya adalah tanggapan saya.

        Saya pemrihati kelompok2 minoritas di negeri ini. Saya kenal saksi Yehuwa dari membaca buku2 dan berinteraksi dgn segelintir dari mrk karena itu saya memilih membela mereka.

        Sudahlah, engga usah main tipu2 lagi… kau adalah saksi Yehuwa dan engga usah berpura2 bukan bagian dari mereka.

        Tak usah heran, freewillie, musuh dari musuhmu adalah kawanmu! Saya bilang: ngapain sulit2 mikirin terror si freewillies yang lidahnya licin dan langit-langitnya berminyak ala filsuf-pedagang kacang goreng??? freewillie menyangka ia sudah menemukan ramuan sakti yang dapat melumpuhkan penalaran para saksi yehuwa.

        Apaan nih? Buang2 kalimat banyak cuman buat ad hominem doang tiada arti.

        btw saksi2 Yehuwa tenang-tenang aja tuh karena mereka tentu tahu kapan waktunya berdiam diri kapan waktunya bicara {tapi kurasa setiap Saksi2 tahu rambu2 bila berurusan dng yang namanya murtadin plus kayak anda freewillie, mereka lebih suka ala anjing menggonggong kafilah berlalu!}.

        Hussshhh.. anjing dilarang ngomong anjing… masih ad hominem tiada arti.

        Anda bilang: “Jika Yesus adalah Firman, tapi Firman itu adalah ciptaan, maka seharusnya sebagai ciptaan, ada waktu di mana ciptaan itu belum ada (karena belum diciptakan). Bukankah ini berarti saksi Yehuwa mengajarkan bahwa Yehuwa pernah ada waktu tidak memiliki Firman-Nya alias bisu?” Saya jawab: Freewillie, anda bukan mempertanyakan ajaran saksi Yehuwa, yang anda pertanyakan adalah ajaran ALKITAB.

        Saya tidak mempertanyakan ALKITAB, tapi saya mempertanyakan PENAFSIRAN SAKSI PALSU YEHUWA ATAS ALKITAB yg miskin pengetahuan akan bahasa asli Alkitab. Penjelasannya di bawah.

        Para saksi Yehuwa menerima kesederhanaan kesaksian ALKITAB {bahkan seorang anak kecil penjaja koran pun ngerti} kalau Yesus itu punya permulaan, Yesus itu diciptakan oleh Allah Yang Mahakuasa [baca teks dan konteks dari Kolose 1:15; Wahyu 3:14]. Buka hati dan pikiran bukan cuma biji mata, lihat! apakah ayat2 ALKITAB ini tidak cukup jelas???

        [1] Anda memang menggunakan pendekatan anak kecil penjaja koran dalam mengerti Alkitab. Anda engga pernah maju ke bahasa asli daripada Alkitab terjemahan belaka. Makanya, main2 ke bahasa asli kek.

        [2] Kolose 1:15. LAI menerjemahkan: “..yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan”. Cek Yunani-nya: “prototokos pas ktisis” yang diterjemahkan dengan lebih baik oleh NIV, “the firstborn OVER all creation”, atau Indonesianya: “yang pertama dilahirkan DI ATAS segala ciptaan”. Jadi kata harusnya adalah “OVER” atau “DI ATAS” segala ciptaan dan bukan termasuk ciptaan itu sendiri. Lagi, prototokos adalah firstborn/pertama dilahirkan, dan bukan first-created/pertama diciptakan. Dan lagi, Kolose 1:15 tidak bisa dipisahkan dari ayat 16 di mana Yesus kemudian disebut sebagai Pencipta segala sesuatu padahal Yesaya 44:24 mengatakan bahwa Yehuwa menciptakan semesta seorang diri TANPA PENDAMPING. Tentu saja ini meng-KO ajaran saksi palsu Yehuwa yg bilang bahwa Yehuwa perlu didampingi arsitek ahli dalam mencipta semesta.

        [3] Wahyu 3:14. LAI menuliskan: “..permulaan dari ciptaan Allah”. Cek Yunaninya: “arche ho ktisis”. Yg menjadi fokus adalah kata “permulaan”, Yunani: “arche” yang diterjemahkan dengan lebih baik oleh NIV sebagai “RULER”/”PEMIMPIN” atau dalam the Living Bible sebagai “the PRIMEVAL SOURCE of God’s creation” yg oleh Alkitab LAI Firman Allah Yang Hidup diterjemahkan sebagai “SUMBER segala ciptaan Allah”. Mengapa? Karena kata “arche” bisa berarti:
        1. Beginning/permulaan (Yohanes 1:1).
        2. Ruler (pemerintah / pemimpin). Misal: “archangel” = pemimpin malaikat, “archbishop”= pemimpin uskup, “patriarch” = bapak pemimpin
        3. Origin/asal usul
        4. Source/sumber

        Anda masih berkilah, ‘ah taunya kutip2 ayat doang’; ya… apa lagi yang lebih dari menerima otoritasnya, mengakuinya dan mengutip firman Allah yang tertulis itu?

        Ngutip sih ngutip, tapi jangan ngutip macam anak kecil penjaja koran dong mas. Berhenti jadi bodotolol dengan maju ke teks asli dan jangan cuma main di level terjemahan ala penjaja koran.

        Bahkan si Firman (=nama Yesus pra-manusia) sendiri sewaktu di bumi paling suka kutip-kutip firman Allah dengan berkata “ada tertulis…” bila ia mengajar orang2 atau ketika ia dicobai si Iblis. Freewillie, saksi-saksi Yehuwa itu ‘tidak melampaui perkara-perkara yang tertulis’ (1 Kor 4:6); jadi, kalau anda masih ragu dan masih ngotot pada pendirian anda maka yang anda ragu bukan ajarannya Saksi2 Yehuwa, tetapi anda ragu atau meragukan ajaran TERTULIS Alkitab sendiri!

        Sekali lagi saya tidak meragukan teks Alkitab, tapi PENAFSIRAN level penjaja koran anda yg saya bantah. Tidak terhitung bodotololnya saksi palsu Yehuwa dalam menafsirkan Alkitab cuman modal dengkul bahasa terjemahan saja. Ada si rambam yg coba ajuin bapak2 Gereja macam Ignatius, Irenaeus, Justin Martyr, dsb dengan asal congor saja tanpa sebutin tulisan sumber bapak Gereja yg dimaksud. Dan ketika saya tunjukin tulisan bapak2 Gereja itu, eh congor si rambam langsung mingkem, tanpa bisa jawab. Padahal saya belum masuk ke pembahasan ensiklopedia yg dikutip organisasi penipu Menara Pengawal secara ngawur dan serampangan itu.

        Kalau sudah begini untuk apa para Saksi Yehuwa perlu bersusah payah datang menunjukkan ke bawah hidung anda ratusan referensi silang lain dari Alkitab yang memperlihatkan bahwa Yesus dan Yehuwa itu dua pribadi BERBEDA

        Sekali lagi saya bilang: tolong katakan ke penatua bodotolol-mu bahwa Tritunggal memang mengajarkan bahwa Bapa dan Anak adalah dua pribadi yang BERBEDA. Saksi palsu Yehuwa macam anda memang bodotolol karena tidak bisa membedakan antara Tritunggal (3 realitas konkrit, 1 Dzat hakikat) dengan ajaran bidat Sabelianisme (Bapa=Anak=Roh Kudus=1 pribadi yg sama).

        dan bahwa Yesus SELALU lebih rendah {subordinasi} dari Allah Yehuwa???

        Yesus dalam kemanusiaan-Nya memang selalu lebih rendah dari Yehuwa, tapi dalam keilahian-Nya sebagai Sang Firman, Yesus sama dengan Yehuwa. Bukti:
        - Yesus meminta untuk dihormati dengan kuantitas dan kualitas yg sama dengan Bapa-Nya (Yohanes 5:23)
        - Yesus bilang bahwa semua yg Bapa punya, Ia juga punya (Yohanes 17:10). Jika semua yg dimiliki Bapa ternyata juga dimiliki oleh Yesus, maka keilahian Yesus tidak lebih rendah dari Bapa.

        Pasti tak satu pun ayat2 Alkitab itu yang “berdaya-juang” untuk menyadarkan anda karena, mengutip Langdon, ‘telingamu sudah tersumbat. matamu terpasang kacamata kuda. tanganmu terbelenggu. kaki-kakimu terpasung.’ Oleh apa yaa??? Jawab sendiri…!

        Hal yang sama juga bisa saya bilang ke anda. Sudah jelas bahwa saksi palsu Yehuwa = politheis karena mengajarkan ada 2 Pencipta, yakni Bapa Yehuwa (Allah Maha Perkasa) dan Yesus (Allah Perkasa), dan ini berbenturan dengan Yesaya 44:24 bahwa Yehuwa menciptakan semesta seorang diri TANPA PENDAMPING yg bernama arsitek ahli. Tapi telinga anda tuli, mata anda buta terhadap kebenaran Alkitab yg terang benderang menolak politheisme ala saksi palsu Yehuwa ini.

        Anda bilang: “Jika Yesus adalah Sang Firman dan Sang Firman itu adalah ciptaan, maka dengan ‘Firman’ yang mana lagi Sang Firman itu diciptakan? -> ingat bahwa Yehuwa menciptakan segala sesuatu dengan Firman-Nya.” Saya jawab: Bila anda maksud ‘Yehuwa menciptakan segala sesuatu dengan Firman-Nya’ artinya bahwa dengan PERANTARA Sang Firman Yehuwa BERSERU jadilah ini dan jadilah itu maka SEMUANYA JADI

        Jadi apa peran dari PERANTARA dalam Penciptaan ini?
        Kalau PERANTARA ini adalah ikut menciptakan juga, maka ini yg harus anda jawab:

        [1] Ada 2 Pencipta, yakni Bapa Yehuwa dan Perantara (Yesus ciptaan), padahal Yesaya 44:24 berbunyi: “Akulah Yehuwa, yang menjadikan segala sesuatu, yang SEORANG DIRI membentangkan langit, yang menghamparkan bumi– SIAPAKAH YANG MENDAMPINGI AKU?”. Jadi anda lihat, tidak ada peran Perantara2 segala di sana. Ajaran saksi palsu Yehuwa tentang arsitek ahli yg membantu Yehuwa = salah.

        [2] Apa tanpa Perantara ini, Yehuwa kemudian mandul dan tidak bisa menciptakan semesta? Yehuwa model apa ini yg tergantung pada ciptaan-Nya untuk menciptakan ciptaan yg lain? Benar2 Yehuwa yg menyedihkan karena tergantung makhluk lain dan tidak maha kuasa.

        maka saya bertanya tentang penciptaan Adam, “Apakah cukup dengan BERSERU (Sang Firman berfirman, atau apapun namanya) maka munculah si Adam?” Coba anda baca ulang kisahnya di kitab Kejadian pasal 1:26 dan 2:7. Di mata saya ayat2 itu sangat jelas melukiskan adanya SUATU PROSES aktif pem-BENTUK-an si Adam (bukannya secara pasif dan serta-merta jadi seperti yang Allah lakukan dengan ciptaan2 lain di bumi sebelum Adam). Peristiwanya bisa jadi mengilhami kerja tukang tembikar. Si tukang tembikar mengambil tanah liat, membentuknya sesuai keinginan dia, memolesnya, memberinya sentuhan akhir, mendandaninya agar kelihatan “hidup” dengan pernak-pernik. So apakah Yehuwa maupun Sang Firman (Yesus pra-manusia) akan melakukan hal sama sehubungan dengan penciptaan Adam versi Kejadian 1:26 dan 2:7? Bisa jadi! Yang pasti, itulah yang ALKITAB saksikan dan para saksi Yehuwa tidak ingin melampaui perkara-perkara yang tertulis ini selain menerimanya sebagai ‘firman Allah yang terilham dan bermanfaat’ (2 Tim 3:16-17).

        Makanya majulah ke bahasa asli biar tidak bodotolol.
        Pada waktu Yehuwa menciptakan terang, langit, bumi, tumbuhan, binatang, dsb kecuali manusia, maka kata “mencipta” yg digunakan adalah kata “bara” yg artinya “menciptakan/meng-ada-kan sesuatu dari ketiadaan”, creatio ex nihilo, penciptaan spontan. Sementara ketika menciptakan manusia, maka kata yang digunakan adalah “asah”, yg berarti “membuat sesuatu dari bahan yg sudah ada” karena manusia tidak diciptakan dari ketiadaan melainkan dari bahan yg sudah ada, yakni debu (Kejadian 2:7).
        Saya engga ngerti ini mau dibawa ke mana, tapi bahkan ketika diperlukan proses aktif dalam pembentukkan manusia ini, tetap saja tidak diperlukan Perantara yg membantu Yehuwa agar Yehuwa ini bisa membuat manusia. Dan bukankah ciptaan yg lain adalah penciptaan spontan dan engga perlu Perantara2 segala?

        Sekarang, mari kita beralih ke permasalahan lanjutan freewillie tanpa meninggalkan cerita penciptaan Adam: “Jika Yesus adalah Sang Firman dan Sang Firman itu adalah ciptaan, maka dengan ‘Firman’ yang mana lagi Sang Firman itu diciptakan?” Saya jawab: Jangankan para saksi Yehuwa, anak kecil penjaja koran pun SADAR, kalau ALKITAB tak satu kali pun menyebut bahkan menyiratkan penciptaan-eksistensi Sang Firman dengan cara, misalnya, “bahwa Allah Yang Mahakuasa telah [pernah] BERFIRMAN: JADILAH, atau terciptalah hai Firman, maka terciptalah Sang Firman!” Nonsen. Hal seperti itu tidak pernah ada atau disiratkan dalam bagian Alkitab manapun. Itu sebuah rahasia besar Ilahi!

        Hoooooo…. berlindung di balik kata MISTERI ILAHI tanpa bisa menjawab pertanyaan sederhana ini. Memang Alkitab tidak pernah mengatakan dengan Firman yg mana lagi Sang Firman ini diciptakan karena memang Firman ini bukan ciptaan kok. Saksi palsu Yehuwa saja yg engga bisa bahasa asli dan cuma bisa baca terjemahan Kolose 1:15 dan Wahyu 3:14 yg sudah dijelaskan di atas.

        Misteri Ilahi apanya? Ini adalah konsekuensi logis dari doktrin saksi palsu Yehuwa: Jika Yesus adalah Sang Firman dan Sang Firman itu adalah ciptaan, maka dengan ‘Firman’ yang mana lagi Sang Firman itu diciptakan?

        Kenapa? Engga pernah mikir sampe segitu ya? Makanya jangan cuma pake logika anak kecil penjaja koran mas.. sekali2 pergunakan logika anda itu biar engga terus2an bodotolol.

        {Bandingkan saja dengan kenyataan bahwa bahkan di bumi ini pun masih banyak misteri ciptaan yang belum dapat disingkapkan para ilmuwan [Pengkhotbah 8:17]}

        Loh? Jangan benturkan kitab suci dengan sains mas, karena suatu saat nanti sains pasti akan menemukan jawabannya, sementara anda masih berlindung di balik kata “MISTERI ILAHI” tanpa mampu menjawab pertanyaan yg notabene adalah konsekuensi logis dari doktrin palsu anda.

        Karena itu, daripada mencoba berspekulasi apalagi sampai melayani debat kusir tentang proses dan bahan penciptaan pra-manusia Yesus sebagai Sang Firman, para saksi Yehuwa lebih memilih untuk membiarkan saja Allah Yang Mahakuasa Yehuwa menyingkapkannya pada waktu-Nya, kalaupun tidak dalam masa hidup sekarang, ya nanti di kehidupan Firdaus di “Bumi Baru” masa depan di mana prospek hidup panjang tanpa batas [kekal]memungkinkan manusia2 yang telah disempurnakan menerima setiap aspek rincian lain misteri Ilahi dengan perasaan takjub.

        Paragraf yg sia2 ini cuma ngeles tanpa bisa jawab. Kelamaan nunggu sampe kiamat, keburu anda dibakar ke neraka nanti.

        Orang-orang selain saksi Yehuwa juga tahu kalau YESUS itu [dari nama Ibrani untuk Yehohsyua atau Yesyua yang bertarti "Yehuwa Adalah Keselamatan"] punya banyak gelar, seperti: Kristus atau Mesias, Putera Allah, Pemimpin, Juruselamat, Raja Damai, dan seterusnya. Dia juga disebut personifikasi dari Hikmat Allah dan juga Firman Allah. Freewillie dan umumnya Saksi-Saksi Yehuwa, mungkin karena amat respek kepada Tokoh Terbesar Sepanjang Masa ini menyebut atau menulisnya sebagai SANG FIRMAN;

        “Sang Firman” dan “Allah” bagi Yesus bukan sekedar gelas mas. Mengapa? Karena sebutan2 ini dilanjutkan dengan peran Yesus sebagai Pencipta segala sesuatu (Yohanes 1:3), dan tidak ada pencipta selain dari Yehuwa sendiri (Yesaya 44:24). Yehuwa, Firman-Nya, dan Roh-Nya: itulah Tritunggal.

        saya sendiri dengan tidak mengurangi sedikit pun rasa hormat kepadanya lebih suka memakai istilah Si Firman. Bagi saya, dan saya kira ini juga direnungkan oleh para Saksi Yehuwa bahwa, tidak ada yang mustahil bagi Allah Yang Mahakuasa —Pribadi Hidup Mandiri, yang tidak bergantung kepada apa pun atau siapa pun, yang punya Sifat2 dan Kepribadian dan Kehendak;

        Omong Kosong. Bagaimana anda berkata bahwa Yehuwa tidak bergantung pada siapapun kalau dalam penciptaan saja ternyata ia bergantung dan membutuhkan seorang Perantara bergelar arsitek ahli. Yehuwa macam apa ini yg bergantung pada ciptaannya untuk menciptakan ciptaan lain?

        yang pada suatu waktu dahulu kala, pada titik sebelum-sebelum zaman purbakalanya alam semesta—, ketika Dia, atas kehendak bebas-Nya ingin “membentuk” dengan “jari-Nya” sendiri {BUKAN berseru atau berfirman lho…} suatu wujud pribadi unik lain yang memiliki kemiripan struktur “anatomi” dan sifat-sifat dengan diri-Nya. Apa yang mustahil bagi Allah Yang Mahakuasa kalau di kemudian masa Dia sendiri yang memilih dan memberikan wewenang kepada Ciptaan Pertama dan Satu-satu-Nya itu untuk mulai mencipta segala perkara lain tapi kali ini [dengan perkecualian proses penciptaan Adam yang unik] melalui seruan2 atau perkataan2 atau firman2 dari mulut si Ciptaan Pertama yang memang selalu ditopang oleh Pribadi Yang Mahakuasa itu?

        Alkitab bilang:

        - MUSTAHIL Yehuwa memberikan wewenang, ke-pemerintahan-Nya, dan kemuliaan-Nya sebagai Pencipta kepada makhluk lain. Baca Yesaya 42:8, “Aku ini Yehuwa, itulah nama-Ku. AKU TIDAK AKAN MEMBERIKAN KEMULIAAN-KU KEPADA YANG LAIN atau kemasyhuran-Ku kepada patung”

        - MUSTAHIL Yehuwa dibantu oleh pihak lain dalam proses penciptaan semesta. Baca Yesaya 44:24, “Akulah Yehuwa, yang menjadikan segala sesuatu, yang SEORANG DIRI MEMBENTANGKAN LANGIT, YANG MENGHAMPARKAN BUMI. SIAPAKAH YANG MENDAMPINGI AKU?”

        Mohon matanya dipake karena semua teori saksi palsu Yehuwa sudah rubuh sama 2 ayat ini saja.

        Apalah yang sulit dibayangkan bila Allah Yang Mahakuasa, karena mau berkomunikasi dengan selebihnya dari makhluk2 ciptaan lain, lalu memilih dan menunjuk si Ciptaan Pertama menjadi Jurubicara-Nya (Spokesman) yang Dia sendiri beri nama Si Firman?

        Memangnya Yehuwa-mu itu bisu dan engga bisa bicara sendiri selain dengan bantuan Si Firman ya?

        Sederhana sekali: Allah Yang Mahakuasa memiliki perkataan-Nya sendiri, firman-Nya sendiri; firman-Nya tidak akan berkurang dari diri-Nya, itu selalu ada pada-Nya dan melekat dengan Kepribadian Dia Sendiri. Sebagai Satu Pribadi Mandiri dengan firman-Nya Sendiri, Allah Yang Mahakuasa Yehuwa, harus selalu dibedakan dari Si Firman yang juga sudah memiliki firman dalam dirinya, namun firman yang keluar dari Si Firman HARUS SELARAS DENGAN KEHENDAK DAN MAKSUT-TUJUAN Pemilik Yang Sah Dari Firman, Allah Mahakuasa YEHUWA.

        Ini sih ajarannya Tritunggal, dengan catatan bahwa Firman adalah kekal bersama dengan Allah.

        Anda, freewillie, bilang: “Jika Firman Allah itu bukanlah Allah, melainkan hanyalah ’suatu allah’, atau ‘bersifat ilahi’, maka bukankah ini adalah ajaran Politeisme karena menyebutkan ada yang lain lagi yang ilahi di luar Allah?” Saya jawab: Siapakah yang POLITEISME? Freewillie dan kaumnya yang percaya dan menyembah Tritunggal (=Allah tiga serangkai: Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Rohkudus) ataukah para Saksi2 Yehuwa, yang secara sederhana mengakui dan menerima pernyataan Yesus Kristus sendiri bahwa hanya Yehuwalah “Satu-satunya Allah yang benar” yang patut disembah dan dilayani? (Yohanes 17:3).

        Bilang ke penatua bodotolol-mu: Tritunggal bukan Allah tiga serangkai, tapi Tritunggal = Bapa, Firman-Nya, dan Roh-Nya. Jadi ada berapa Allah? Satu, yaitu Bapa (1 Korintus 8:6) yg memiliki di dalam-Nya: Firman-Nya dan Roh-Nya.
        Ngomong2 mengenai “satu2nya Allah yang benar”, Yohanes yg sama yg mencatat perkataan Yesus itu juga menulis: “..dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya YESUS KRISTUS. DIA ADALAH ALLAH YANG BENAR DAN HIDUP YANG KEKAL” (1 Yohanes 5:20). Jadi silahkan embat kata2 Yohanes itu.

        Lalu mengapa Yohanes 17:3 dituliskan? Mudah saja. Ini bukan penolakan Yesus bahwa diri-Nya adalah satu2nya Allah yang benar (karena Yohanes menulis bahwa Yesus = Allah yg benar), tapi ini adalah penolakan Yesus akan politheisme.

        Bicara mengenai politheisme, maka ajaran saksi palsu Yehuwa adalah mutlak politheisme, karena:
        [1] Ada 2 Pencipta, yakni: Bapa Yehuwa dan Yesus
        [2] Yehuwa tergantung pada ciptaan-Nya yg bergelar arsitek ahli –> Allah model apa ini bergantung pada makhluk ciptaannya.
        [3] Dalam Ibrani 1:6, Yehuwa ternyata menyuruh malaikat untuk menyembah Sang Anak –> Kalau Sang Anak = ciptaan, maka Yehuwa model apa ini menyuruh malaikat untuk berbakti bukan pada diri-Nya sendiri tapi kepada ciptaan. Yehuwa ini pasti bodotolol dan engga ngerti monotheisme.

        Sementara Tritunggal adalah ajaran monotheisme:
        [1] Hanya ada 1 Pencipta, yakni Bapa Yehuwa, yg di dalam-Nya ada Firman-Nya dan Roh-Nya.
        [2] Yehuwa tidak tergantung pada siapapun dalam Penciptaan, kecuali pada Firman dan Roh yg ada dalam diri-Nya sendiri. Jadi Yehuwa hanya bergantung pada diri-Nya sendiri.
        [3] Dalam Ibrani 1:6, Yehuwa menyuruh malaikat menyembah Sang Anak –> Tidak ada masalah, karena Sang Anak (Firman) ada di dalam diri Yehuwa sendiri (Yohanes 1:18, 10:30) sehingga Yehuwa secara langsung menyuruh malaikat untuk menyembah diri-Nya sendiri.

        Jadi, kamu, kafir politheis saksi palsu Yehuwa, masih berani ngaku monotheis?

    • Langdon said,

      August 7, 2009 at 3:32 pm

      mulai rame lagi nih?

      @Junior: anda bilang pemerhati dan kenal segelintir saksi yehuwa, halah, bilang aja anda itu masih belajar dari saksi yehuwa, malah mgkn dah ikut perhimpunan dan mulai ikut sebagai penyiar belum dibaptis. ga usah berlagak sok orang luar, anda sdh terlibat dlm debat kusir ini. ga denger tuh saran si ade, ga perlu terlibat..
      langsung aja: kamu adl musuhku.
      menyinggung frederikson: tunggu aja tuh armagedonmu yg takkan kunjung datang sampe cicit2mu melahirkan cicit2nya. ga perlu sekolah tinggi2 ya, krn armagedon dah dekat? makanya watchtower suka org2 yg bisa mrk cuci otaknya, ga mau sekolah tinggi sih..
      konon ada artikel menara pengawal: Jutaan yg hidup sekarang takkan mati. Kapan artikel itu terbit ya? Dah berapa juta saksi yehuwa yg sudah meninggal, entah sakit, usia tua dll sejak artikel itu terbit. Huh! Dah berapa saksi yehuwa yg kecewa gara2 pernyataan itu? Dah jual rumah, ga mengejar materi, pendidikan, bahkan tidak ingin melahirkan anak2nya. Ternyata armagedon tidak datang juga. Oh!
      Sudah 2000 tahun semenjak akhir jaman didengungkan tuh. 144rb orang2mu yg ambil bagian di perjamuan suci mgkn bentar lagi dah habis? Mestinya sudah memimpin di surga ya? Kita tunggu apalagi artikel yg diterbitkan oleh Watchtower. Oh, pengetahuan akan diupdate seraya waktu berlalu.. doktrin2 yg anda pelajari sekarang mgkn berubah sebentar lagi. Makan tuh revisi doktrin..

      Betul, mgkn ucapanku ini dah dinubuatkan: orang2 akan menertawakanmu, mana akhir jaman itu?

      • Junior said,

        August 31, 2009 at 1:01 am

        si Langdon, seandainya saja saya yang “masih belajar dari saksi yehuwa” punya opini yang sedemikian tajam tak terbantahkan, bagaimana nantinya kalau saya sudah tamat belajar dari mereka ya?? Sepertinya sudah sering digemakan di sini dan di mana-mana bahwa para saksi Yehuwa itu punya semua jawaban terbaik atas semua jenis permasalahan dalam kehidupan, hanya saja, dasar para saksi Yehuwa tak suka berdebat! {kalau berdebat sih Og’, membela iman baru Ok’}. [...] Huhh…!!! Saya ini belum bisa mengalahkan sifat lekas kesal kepada kebodohan dan orang bodoh yang berlagak pandai kayak kamu Langdon dan is Freewil’lies your ghostwriter!!! Saya mau bilang untuk terakhir kali [ini bukan mewakili saksi Yehuwa tapi murni sifat saya] bahwa “Para saksi Yehuwa itu lebih suka tidak berdebat dengan orang2, apalagi dengan murtadin plus kayak anda. Mereka lebih suka ala ‘anjing menggonggong kafilah berlalu’. Mereka itulah para kafilah. Anda-lah anjingnya! Perbandingan yang tepat.”

      • freewillie said,

        October 30, 2009 at 4:29 am

        @Junior:
        Anda bilang saksi Yehuwa punya semua jawaban. Lalu kenapa TIDAK MENJAWAB pertanyaan yg jadi awal topik ini:

        1. Jika Yesus adalah Firman, tapi Firman itu adalah ciptaan, maka seharusnya sebagai ciptaan, ada waktu di mana ciptaan itu belum ada (karena belum diciptakan). Bukankah ini berarti saksi Yehuwa mengajarkan bahwa Yehuwa pernah ada waktu tidak memiliki Firman-Nya alias bisu?
        Bukankah ini adalah sebuah penghujatan terhadap Allah Yehuwa?

        2. Jika Yesus adalah Sang Firman dan Sang Firman itu adalah ciptaan, maka dengan ‘Firman’ yang mana lagi Sang Firman itu diciptakan? -> ingat bahwa Yehuwa menciptakan segala sesuatu dengan Firman-Nya.

        3. Jika Firman Allah itu bukanlah Allah, melainkan hanyalah ’suatu allah’, atau ‘bersifat ilahi’, maka bukankah ini adalah ajaran Politeisme karena menyebutkan ada yang lain lagi yang ilahi di luar Allah?

      • Jonah said,

        October 30, 2009 at 6:50 am

        @freewillie:
        Jadi ketahuan deh kalau kamu itu si BODOH yang MALAS membaca! Delapanpuluhan hari kami menunggu kamu untuk menanggapi esai pak Junior [August 7, 2009 at 1:27 pm] yang nongol persis di bawah biji matamu, tapi apakah kamu tak melihatnya? Atau kamu itu phobia sehingga kamu tak membaca atau membaca tapi tak paham lalu berpura-pura bodoh dengan mengulangi pertanyaan yang sama ? Apapun juga jawabanmu sesungguhnya kamu itu sedang sakit dan butuh tabib. Kasihan ‘kali kamu freewillie…

        ——–FREEWILLIE SAID:=========
        Memang waktu itu engga kebaca ndul… lagian siapa yg nyuruh kamu nunggu sampe 80 hari di blog ini padahal saya sudah bilang kalo mau diskusi dengan format yg lebih baik, silahkan masuk ke http://www.ladangtuhan.com di mana saya sudah bantai habis teman2 saksi palsu Yehuwa-mu di sana. Pasti ditanggapi dengan lebih cepat dibanding dengan format blog yg susah begini buat diskusi.

  32. billy said,

    July 25, 2009 at 9:33 pm

    m

  33. billy said,

    July 25, 2009 at 9:41 pm

    drpd pusink2 mikirin tritunggal,pikirin aja ayat firman tuhan yang tertulis alpha and omega(awal dan akhir),bs masuk akal?yg namanya kenyataan di bumi ini selalu ada awal dan akhir,Tuhan gk ada awal dan akhir,dan juga,YESUS adalah tuhan!!!KNP?kl kambing punya anak dia anak kambing,,jd anak kambing itu apa?ya kambing!!trus yesus adalah putra ALLAH/TUHAN/GOD/whatever in other language lah.ya yesus putra allah,berarti dia ALLAH,got it everyone?

    • Noldy said,

      August 20, 2009 at 8:03 am

      Berarti kita semua adalah ALLAH, karena di 1 Yoh 3:1 mengatakan kita adalah anak-anak ALLAH.
      Peace…
      Sorry Brother Billy, buat perumpamaan yg lain lagi yg lebih jitu, saya selama paling susah kalo berdebat sama Saksi Jehovah, mending menghindar aja hehe….

      • Norodom said,

        August 20, 2009 at 8:46 am

        –deleted–

        OOT ga berguna

        freewillie

      • freewillie said,

        November 12, 2009 at 4:01 am

        Kita memang anak-anak Allah, tapi dalam artian adopsi. Yesus sebaliknya adalah Anak TUNGGAL Allah (Yohanes 1:18), karena Ia adalah Firman Allah yg satu dan melekat dengan Allah (Yohanes 10:30). Itu bedanya.

  34. billy said,

    July 25, 2009 at 10:01 pm

    yesus selalu memanggil YEHUWA dgn panggilan BAPA BAPA,selalu dmn pun….tp ada 1 saat dmn Dia emg pernah memanggil YEHUWA itu ALLAH ALLAH/TUHAN TUHAN,waktu di kayu salib,knp?karena saat itu dia bertukar posisi dgn qta manusia yg berdosa,spy qta sbg manusia yg berdosa bs memanggil YEHUWA/ALLAH dgn panggilan BAPA….Yesus telah menjadi juruselamat qta dan dosa qta telah diampuni oleh kematian yesus,maka YEHUWA/TUHAN melihat qta sempurna spt YESUS yg sempurna.krn qta bertukar posisi dgn YESUS.YESUS mjd berdosa bg qta menjadi miskin bg qta,sengsara bg qta,spy qta menjadi sempurna di mata BAPA/YEHUWA.mengapa ALLAH mengirim yesus utk qta/mati utk qta?krn ALLAH BAPA di surga tahu tak ada satupun manusia yg lepas dari dosa.dan tak ada satu perbuatan baik pun yg dpt mendamaikan qta dgn yehwe krn dosa qta selain penebusan yesus.dan kematian yesus/penebusan Yesus tak dibatasi oleh ruang dan waktu,knp ia pakai cara mati disalib n disiksa?krn TUHAN ingin MENUNJUKAN kasihnya utk qta.FIRMAN(YESUS)=TUHAN/ALLAH/YAHWE=KASIH…kl sering baca alkitab pst inilah persamaan yg kalian dpt.dr persamaan ini aja berarti qta dpt kl YESUS adalah TUHAN.Thx for reading my comment I LOVE U guys very much,i really2 do….PAPA J bless U all =D

  35. Kristen Vs Yehuwa (udah Pasa Sinting) said,

    July 27, 2009 at 2:33 am

    –deleted–

    Engga nyambung & engga ada hubungan dengan permasalahan topik

    freewillie

  36. Kristen Vs Yehuwa (udah Pasa Sinting) said,

    July 27, 2009 at 2:35 am

    –deleted–

    Engga nyambung & engga ada hubungan dengan permasalahan topik

    freewillie

    • Deo Omnipotente said,

      August 6, 2009 at 11:16 am

      Nuwun sewu..
      Saya iseng2 mau tahu saja apa yang dibincangkan atau didebatkan orang2 di ruangan ini jadi saya baca semuanya. Saya nampak ada dua kubu. Yang satu pro dan yang lain kontra, terhadap pengajaran saksi Yahowah! Kata kunci yang utama diulas yaitu “tritunggal”. Kubu Saksi-Saksi Yahowah (disingkat SY) melalui rambam (dkk) mengatakan “ajaran itu” bukan ajaran al-kitab juga bukan ajaran pembela2 al-kitab yang mula2. Dgn menggunakan argumentasi dari al-kitab juga sumber2 dari luar al-kitab mereka ini berupaya “meyakinkan” kita bahwa ajaran tadi, ya seperti yang saya bilang tadi itu. Di pihak lain ada freewillie alias langdon dan teman2nya tak kalah gesit mau “menjatuhkan” pandangan pihak pertama. Mereka ini pun mencari rujukan ke al-kitab ditambah ke sumber2 yang dirasa “mendukung” kiblat keyakinan kelompoknya. Well, pembaca yang budiman (setidaknya anda yang sepandangan dgn saya), kita disuguhi pentas adu pandai dari namanya manusia, manusia yang bisa saja keliru!!!Saya sendiri tak begitu punya waktu [sebab itu bukan pusat perhatian saya] untuk menguji setiap pernyataan mereka itu benar apa tidak; tapi saya berharap kepada pihak2 tadi agar memiliki sense of honesty, sense of integrity, terutama terhadap otorisasi bahan rujukan yang mereka pakai berteori. Saya berkata begini karena secara random saja, misalnya dengan mengklik di situs internet (www.ccel.org/ccel/schaff/anf01.v.iii.viii.html), saya dapati salah satu pihak, bukannya membiarkan otoritas teks di sana “bicara” apa adanya (eksegese) tapi justeru terkesan memaksakan (eisegese) dengan jalan mengintepretasikan teks berdasarkan keyakinan apa yang sudah terpolakan di benak mereka….Hayo mari kita budayakan masyarakat kita menjadi masyarakat yang cerdas dan kritis tapi juga yang jujur dan berdedikasi tinggi dengan mulai berkata benar, ya dimulai dari diri kita sendiri…

      • freewillie said,

        November 12, 2009 at 4:04 am

        Wahai saksi palsu Yehuwa, sudah ditantangin tuh sama si Deo untuk baca tulisan Ignatius yg diperkosa sama traktat karya orgnasasi penipu WatchTower kalian di http://www.ccel.org/ccel/schaff/anf01.v.iii.viii.html
        Silahkan nikmati itu tulisan Ignatius yg berkata: “Jesus Christ His Son, who is His ETERNAL Word” dan membuktikan bahwa kutipan2 dari WatchTower bahwa Ignatius bilang Yesus=ciptaan adalah penipuan belaka dari organisasi penuh dusta ini.

  37. friederiksen said,

    August 6, 2009 at 3:02 pm

    –deleted–

    Engga nyambung & engga ada hubungan dengan permasalahan topik

    freewillie

    • dona said,

      August 8, 2009 at 9:17 am

      Coba tarik nafas panjangmu Bro..
      Apakah hal ini bersahaja…???

  38. Doni Pasaribu said,

    September 16, 2009 at 10:03 am

    Saya bukan salah seorang saksi-saksi yehuwa…..tapi saya banyak kenal dengan beberapa diantara mereka…Saya sangat menyesalkan bila ada yang mengatakan mereka sesat….karena hanya tuhan yang bisa mengadili salah satu kepercayaan apalagi dengan mengatakan itu sesat. Kenyataannya yang saya perhatikan meskipun tidak sempurna(karena semua manusia tidak sempurna) mereka adalah orang2 yang bersahaja : mereka orang yang jujur, tidak suka pertengkaran, kita bisa melihat mereka saling mengasihi, pakaian mereka yang selalu rapi bersih dan sopan. Tidak terdapat satupun yang dituduhkan orang-orang tentang saksi2 yehuwa seperti: mereka beribadah dengan pakaian telanjang, melakukan seks bebas, mengajarkan doktrin2 menyesatkan dan masih banyak lagi..Yang saya lihat mereka selalu bersahaja, hidup dengan prinsip moral yang tinggi, disiplin dan tidak munafik. Tapi memang dari dahulu juga yesus kristus sendiri selalu difitnah dan dianiaya dan saya pernah baca bahwa yesus kristus pernah mengatakan bila ingin menjadi pengikutnya maka kalian juga akan dianiaya..sungguh membesarkan hati mereka…memang tak bisa dihindari bahwa bila ingin menjadi salah satu dari mereka(saksi2 Yehuwa) maka bersiap-siaplah untuk selalu difitnah dan dianiaya seperti Yesus kristus.Ya agama yang benar nampak dari umatnya.Saya tidak pernah melihat saksi2 Yehuwa mencuri, ikut dalam perang(meskipun mereka akan dihukum mati demi prinsipnya ini),bertingkah laku yang amoral(memang banyak saksi2 yehuwa yang bertingkah laku yang amoral tetapi mereka akan langsung dipecat dari organisasi tersebut: hal ini demi menjaga kesucian umat Yehuwa tersebut),akhir kata mudah2an saya dapat menjadi salah satu dari mereka…
    By : Doni pasaribu

    • freewillie said,

      October 30, 2009 at 4:21 am

      Ada 2 hal:

      [1] Yesus telah memberikan kuasa kepada Gereja untuk “mengikat & melepas” (Matius 16:18-19). Gereja telah “melepas” nenek moyang ajaran saksi Yehuwa yakni Arianisme di abad ke-4 dan menyatakan mereka SESAT berdasarkan Alkitab.

      [2] Saksi Yehuwa adalah sesat karena mengajarkan “Yesus yg lain” & Injil yg lain (2 Korintus 11:4) yg tidak diajarkan oleh para rasul. Bagaimana Yesus yg diajarkan para rasul itu, silahkan lihat reply saya atas komentar ke-20. Dan ingat kata Galatia 1:8-9 bahwa orang2 demikian seperti saksi Yehuwa adalah TERKUTUK.

      [3] Anda mengatakan hal yg “baik2″ mengenai saksi Yehuwa, tapi TIDAK ADA YG ISTIMEWA dari hal ini karena hal yg serupa jg akan anda temui di Budhisme, Islam, dan bahkan atheisme/humanisme. Ingat Roma 1:22, “Mereka berbuat SEOLAH-OLAH mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi BODOH.”

      • Jonah said,

        November 10, 2009 at 5:50 am

        @freewillie,
        kamu tuli dan buta!? kamu tak lihat dan baca jawaban Junior di pelupuk biji matamu.

      • freewillie said,

        November 12, 2009 at 3:50 am

        sudah dijawab, o’on… makanya, kalo mau langsung dijawab, temui saya di http://www.ladangtuhan.com di mana teman2 saksi palsu Yehuwa-mu dibantai habis di sana

    • yehuwasucks said,

      November 10, 2009 at 1:23 pm

      numpang nambah postingan ya, pak willie.
      jangan dihapus. thx
      =========================

      bahkan keledai pun lebih baik dari saksi yehuwa.

      http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2303099&page=15
      http://www.kaskus.us/showthread.php?t=1566686&page=7
      http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2101491&page=10
      http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2236013&page=10


Post a Comment